Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Indisch monument
Map
Hilversum, Belanda
Hilversum, Belanda

Rawagede Beda dengan Zaman Bersiap

Diterbitkan : 17 Januari 2012 - 9:00am | Oleh Jean van de Kok (Foto: JAGO, wikimedia)
Diarsip dalam:

“Sekarang giliran Indonesia minta maaf atas kekerasan pada zaman Bersiap. Kakek saya seorang Indo Belanda menceritakan kekejaman para pemuda (yang dipanas-panasi Bung Tomo) membunuh para korban kamp interniran dengan bambu runcing dan klewang, tangan dan kaki dipotong dan dibuang ke kali.”

Demikian seorang penulis di situs web kelompok Indo Belanda (kalangan berdarah campuran Belanda-Indonesia), yang tergugah menulis kekesalannya setelah Belanda menyatakan maaf dan memberi ganti rugi kepada para janda korban pembantaian Rawagede.

Bukan orang Indonesia saja yang menjadi korban kekerasan saat perang kemerdekaan, para pemuda ekstrem juga beraksi terutama terhadap warga Indo Belanda. Demikian bisa dibaca pada situs web mereka.

Zaman Bersiap
Diskusi sekitar kekerasan yang terjadi pada zaman perang kemerdekaan lebih dari setengah abad lalu tidak saja dilakukan di situs web. Koran Belanda Trouw dan NRC Handelsblad memuat surat pembaca yang meminta perhatian untuk apa yang dialami kalangan Indo Belanda setelah Jepang takluk.

Terkait:

Di Indonesia terjadi kekerasan oleh berbagai kelompok pemuda radikal terhadap orang Indo Belanda. Periode berdarah ini masuk buku sejarah Belanda sebagai zaman Bersiap. Tidak banyak orang di Belanda tahu zaman Bersiap ini.

David Barnouw, sejarawan Lembaga Dokumentasi Perang Belanda NIOD, menjelaskan yang dimaksud dengan Bersiap adalah periode sekitar 17 Agustus 1945 sampai awal 1946. “Periode penuh kekerasan, tidak ada yang berkuasa, kelompok-kelompok para-militer, para kriminal membunuh orang Indo Belanda dan Cina. Orang Belanda totok masih aman di kamp interniran,” demikian David Barnouw.

Tidak disinggung
Geert Prins, redaktur majalah orang Indo Belanda Moesson, setuju di Belanda tidak banyak orang yang tahu mengenai periode penuh kekerasan ini. Ia menambahkan tentu saja zaman Bersiap ini lepas dari apa yang terjadi di Rawagede. Rawagede adalah kejadian yang berbeda dan sangat mengerikan.

Geert Prins berpendapat apa yang terjadi di zaman Bersiap masih mendapat perhatian besar di kalangan pembaca majalah Moesson. Yang mencolok, mereka jarang mengeluh atau menceritakan pengalaman ini.

Moesson, demikian Geert Prins, pernah mewawancarai para korban Bersiap, antara lain bibi pemimpin redaksi Moesson Marjolein van Asdonk. Ia sangat menderita secara psikis sampai sekarang. Dan anehnya tidak ada orang yang tahu, juga anak-anaknya.

Ketika ditanya mengapa hal ini tidak pernah disinggung? Jawabannya: “Orang toh tidak akan mengerti.”

Anarki
Lalu apa latar belakang kekerasan terhadap warga Indo Belanda ini? Sejarawan Universitas Negeri Malang, Hariyono yang meneliti periode sejarah Indonesia ini menjelaskan:

“Konteks yang harus dipahami adalah siapa yang membunuh, tentara yang terlatih oleh pemerintah, atau para gerilyawan yang belum terkendali dan terorganisir oleh pemerintah RI. Rakyat melampiaskan kekecewaannya sekaligus kemarahannya, ketika menghadapi pasukan Belanda maupun orang-orang Indo Belanda dengan melakukan kekerasan.”

Hariyono menyamakan kekerasan massal ini dengan kekerasan setelah reformasi pada tahun 1998, rakyat yang kurang terdidik kemudian mengadakan aksi anarkis. Inilah konteks budaya dan politik yang juga terjadi pada awal revolusi kemerdekaan Indonesia terhadap kalangan Indo Belanda.

Jangan dibandingkan
David Barnouw, sejarawan NIOD, Lembaga Dokumentasi Perang Belanda, menolak persamaan Rawagede dengan zaman Bersiap. Dalam kasus Rawagede jelas siapa pelakunya, sekelompok tentara Belanda di bawah pimpinan seorang mayor.

Kemudian susah juga menuntut maaf dari Indonesia untuk zaman Bersiap, karena pada gilirannya Indonesia akan menuntut minta maaf juga, berlanjut sampai kapan? “Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal VOC yang membantai rakyat Banda, apakah pemerintah Belanda harus minta maaf juga?” Demikian David Barnouw.

Kelompok Indo Belanda yang mengalami kekerasan pada zaman Bersiap tidak minta ganti rugi, demikian Geert Prins, redaktur majalah Indisch Moesson. “Kami tidak dendam seperti yang digambarkan dalam media Belanda, orang Indo Belanda minta pengakuan sejarah mereka. Memang kami akan senang kalau pihak Indonesia minta maaf,” katanya.

“Saya tidak minta ganti rugi untuk keluarga saya yang dibunuh, saya akan merasa malu. Yang saya inginkan adalah pengakuan, bukan permintaan maaf. Agar orang mengenal para korban, supaya jangan dilupakan generasi penerus,” demikian Jan A. Somers, seorang pembaca harian NRC Handelsblad dalam rubrik surat pembaca.

Diskusi

Dwi 29 Januari 2012 - 7:30pm / Indonesia

Setelah 1998, ada pasangan Belanda datang ke rumah keluarga besar di Yogyakarta. Mereka mencari anak keturunan kakek dari pihak ibu saya.

Pasangan Belanda itu cerita bahwa kakek/bapak mereka dulu ditolong kakek saya ketika ada ontran-ontran anti Belanda. Di dalam wasiat kakek/bapak pasangan Belanda tersebut meminta supaya mereka menemui kami, anak keturunan kakek saya. Tentu saja kami keturunan dari kakek kami bingung-bingung, karena kakek kami tidak pernah cerita. Aku pikir kakek menyembunyikan sesuatu yang lebih besar, lembaran hitam sejarah negeri kami ketika terjadi ontran-ontran anti Belanda.

Damai Kristus

Michel de Wilde 19 Januari 2012 - 5:53am / Indonesia

Terima kasih ranesi karena mengedukasi masyarakat Indonesia perihal ini. Tidak percuma saya menulis soal ini di media. Moga-moga para Indo mendapat haknya untuk mendapatkan tempat di buku sejarah Indonesia.

mbahpur 18 Januari 2012 - 6:42pm / Indonesia

Sejarah menunjukkan, bahwa hubungan Belanda dan Indonesia ini merupakan hubungan yang terjalin sejak ratusan tahun. Yang sering dicatat adalah sejak kedatangan 5 kapal layar pimpinan C. de Houtmann (Company van Verre) pada 1596 di Lampung lalu ke Banten. Walaupun banyak kapal2 Belanda sebelumnya yang datang sendiri2 tanpa terorganisisr. Yang jelas, kapal2 mereka masuk ke dalam melewati Selat Sunda.
Hubungan ke dua manusia yang sangat berbeda asal usulnya dan kebudayaannya ini semakin berlanjut dan semakin dalam dengan adanya lembaga VOC dan seterus dan seterusnya sampai hari ini....
Sudah tiba saatnya ke dua bangsa dan negara ini menjalin hubungan persaudaraan dengan tulus dan jujur demi menghadapi era ekonomi global yang sangat "kejam" mendatang ini. RI dan NL saling membutuhkan. Bantu membantu.

HIDUP PAPUA MERDEKA 19 Januari 2012 - 1:23am

ya iyambahpur sampe tommy caricarnia zulkarnaen sidarah belandatercantik dijawa

Tommy Malu 18 Januari 2012 - 11:11pm / Indo

Apa perbedaannya antara VOC dengan NKRI ciptaan Sukarno pengganti RIS 17 Agustus 1950 di Jakarta? Budaya VOC diperankan menjadi Hindia belanda, kemudian budaya RIS diperankan menjadi NKRI. Akibatnya, VOC itu salah, dan NKRI itu salah. Kalau sekarang Hindia belanda sudah tiada, maka secara prosedeurnya, NKRIpun haruslah tiada. Baca keterangan dibawa ini supaya mengerti. Kalau Sukarno bisa membongkar RIS maka duniapun tidak mengakui NKRI. Untuk itu aku bertanya, "yang menjadi qanggota PBB itu RI, RIS atau NKRI?" Siapa yang bisa menjawabnya? Yang bisa memberikan jawabannya ialah salah seorang anggota kabinet SBY atau Mentri Luarnegeri atau KBRI atau salah satu anggota parlement di Jakarta. Silakan menjawab.

Anonymus 18 Januari 2012 - 9:26pm / Orang Indonesia buta sejarah

Sekarang ini, saya bisa bilang bahwa mbahpur juga omongkosong. Pengecut bersama Ranesi. Cuama mau bela Jawa dengan semua kejahatannya. Ini Di Eropa mas, bukan di Jakarta. Main larang saja dan membatasi komentar orang lain. Bubar aja itu Ranesi. Ini sama saja di jaman Suharo dengan PKInya. Semuanya dilarang, lalu kapankah lagi kita ini bisa bebas? Dasar udik. mau marah aku terserah itu urusan kalian.

Anonymus 18 Januari 2012 - 9:24pm / Orang Indonesia buta sejarah

Sekarang ini, saya bisa bilang bahwa mbahpur juga omongkosong. Pengecut bersama Ranesi. Cuama mau bela Jawa dengan semua kejahatannya. Ini Di Eropa mas, bukan di Jakarta. Main larang saja dan membatasi komentar orang lain. Bubar aja itu Ranesi.

koesoema 18 Januari 2012 - 7:05am / NKRI

kita harus minta maaf sih kalau menurutku terlepas dari dari pemikiran bahwa memang itu pantas,tapi sebagai negara yang mempunyai sila KEMANUSIAN yang ADIL dan BERADAP kita harus menunjukkan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang BERADAP bukan biadap, walaupun masih teringat bahwa dulu banyak tulisan di gedung2 mewah milik belanda yang bilang untuk "anjing dan orang pribumi (Indonesia) dilarang masuk", dan belum lagi pencurian2 harta rakyat indonesia,pesta-pesta yang dilakukan belanda diatas penderitaan rakyat Indonesia,bahkan sampai sekarang kereta kencana kerajaan belandapun masih ada yang lukisannya adalah orang berpakaian bangsawan jawa tunduk dengan ratu, dan dibelakangnya ada yang berpakaian budak,ehmm untuk orang Indo Belanda kita juga harus tahu bahwa tidak semua dari mereka adalah hasil dari pernikahan, banyak juga dari mereka yang merupakan anak hasil hubungan paksa oleh orang belanda terhadap wanita indonesia yang dulu menjadi pramuwisma (klo jaman dulu bilangnya baboe) (nah ini kita harus minta maaf karena jujur menurut hati nuraniku mereka adalah anak bangsa ini)karena di Belandapun mereka dijadikan masyarakat kelas 2 jadi menurutku untuk pembantaian iya kita harus minta maaf tapi kalau Bung TOMO dikatakan sebagai orang yang keji saya sangat tidak setuju dan perlu di investigasi atas kebenaran bahwa bung Tomo yang memerintahkan, orang di belanda saja setelah WW II pasca pendudukan NAZI mereka menghukum semua orang yang bekerjasama dengan NAZI pada saat itu dan pasti ada Pemimpin yang memerintahkan hal tersebut

F*ck niederlend 18 Januari 2012 - 3:04pm / Indonesia

Tidak perlu minta maaf, VOC(yg notabene perusahaan swasta milik Belanda tapi menguntungkan belanda)Belanda aja g minta maaf kepada masyarakat Banda dan Indonesia atas pembantaian,penyiksaan,perampasan paksa dsb...

No peace 18 Januari 2012 - 5:17am / Indonesia

Belanda emang rakus begitu juga turunannya... Indo-indo itu pikir setelah indonesia merrdeka Belanda bisa dtg lagi??? MIMPILAH!!! Sikap provokatif indo-indolah yg menyebabkan mereka kena getahnya, Belum jg perlakuan rasis mereka pd orang Indonesia sebelum Jepang datang!!! Kalian pelajari bagaimana kejahatan kolonis belanda yg menyebabkan Beringasnya para pemuda kepada Belanda jg indo dan antek-anteknya!! Dan sekali lagi Jangan sepihak!!!

J.H. Werinussa *** RMS *** 17 Januari 2012 - 8:58pm / Republik Maluku Selatan *** RMS ***

Belanda pada dasarnya, menggunakan semua budaya VOC. Jadi adalah sungguh suatu perbuatan tercela dan kejahatan, karena segala sesuatu yang menyangkut VOC yang artinya sebuah Perusahan saja, digunakan semua peraturannya dan perundang undangannya itu sebagai urusan Kerajaan. Inilah fakta kejahatan pemerintah kerajaan Belanda dalam memainkan taktik VOC sebagai konsep pemerintahan membentuk HINDIA BELANDA. Ini sama juga dengan Sukarno dan NKRI dengan segala tipudaya manipulasinya dalam bernegara. VOC menjadi alat pelengkap bagi Hindia Belanda dan NKRI menjadi alat pelengkap bagi tujuan Sukarno. Jadi setelah VOC berdiam, orang orang VOC itu terus berlanjut membentuk Hindia Belanda. Sedangkan di NKRI, orang orang RIS dibantai atau dibunuh oleh Sukarno dan gejolak melebarluaskan kekuasaannya atas konsep RIS itu, terus dimanfaatkan. Jadi baik Kerajaan Belanda maupun NKRI buatan Sukarno tahun 1950 di Jakarta itu, kedua duanya sama sama penjahat dan penipu. Ini namanya setali 3. uang.

Rommyan 17 Januari 2012 - 9:21pm

Memang, ini sulit sekali untuk diakui. Kalau menurut Hakim Belanda pada keputusan Rawagede September 2011, maka Indonesia sebagai negara Federal, baru diakui oleh Belanda dan PBB pada tanggal 27 Desember 1949 di Amsterdam Belanda. Untuk itu, Indonesia itu, adalah satu negara berdaulat mutlak dan berbentuk Negara Federasi dan bukan NKRI. Sekarang, munculnya NKRI membuat garis lurus dan panjang menjadi bengkok dan pendek. Sehingga untuk mengambil keputusan yang jitu menyangkut tuntutan Rawagede dan lain lain di Indonesia, membuat lebih kacau dan bertamabah sulit. Ya pada akhirnya, pemerintah kerajaan belanda tetap menang. Karena Indonesia tidak pernah ada. Kenapa, pemerintah NKRI di Jakarta tidak memberitahukan rakyatnya saja untuk membicarakan pengorbanan Rakyat Jawa? itu jauh lebih menguntungkan dari Indonesia dan NKRInya. Nah sekarang, siapa yang bodoh? Pemerintah NKRI atau Belanda?

mbahpur 17 Januari 2012 - 10:25am / Indonesia

Kemudian susah juga menuntut maaf dari Indonesia untuk zaman Bersiap, karena pada gilirannya Indonesia akan menuntut minta maaf juga, berlanjut sampai kapan? “Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal VOC yang membantai rakyat Banda, apakah pemerintah Belanda harus minta maaf juga?” Demikian David Barnouw.

Bapak Barnouw yang budiman, VOC adalah instansi swasta (walau berstatus dng hak2 istimewanya). Jadi secara de jure VOC bukan atas nama Pemerintah Belanda dalam upayanya mendirikan imperium di mana mana di dunia ini. Kecuali sesudah VOC pada 1799 dibubarkan.

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET