Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Rabu 19 Juni  
masyarakat Bali
Avatar Yunita Rovroy
Map
Buleleng, Indonesia
Buleleng, Indonesia

Ranesi Tutup: Buleleng Merasa Sangat Kehilangan

Diterbitkan : 8 Juni 2012 - 9:13am | Oleh yunita rovroy (Foto: The Wandering Angel)
Diarsip dalam:

Akhirnya, sesudah 65 tahun setia menemani pendengar dan pembaca, Radio Nederland Siaran Indonesia (Ranesi) dengan berat hati mohon diri. Kali ini untuk waktu tak terbatas. Menandai berakhirnya era Ranesi, kami siapkan berbagai artikel khusus tentang Ranesi, mitra, dan tentu saja pendengar.

“Siaran Ranesi selama ini memberi wawasan tersendiri bagi radio kami di kabupaten Buleleng, Bali. Namun dengan diputusnya siaran-siaran tersebut pada tanggal 29 Juni, tentu masyarakat kami sangat merasa kehilangan,” cerita I Ketut Wiratmaja dari radio Guntur FM, Buleleng, Bali Utara.

Guntur FM menjadi mitra Ranesi kurang lebih sepuluh tahun. Kerja sama ini sangat bermanfaat bagi radio di Buleleng tersebut karena antara lain dapat memperluas jaringan antara Belanda dan Indonesia.

“Di samping itu siaran Ranesi dapat menambah wawasan berpikir masyarakat kami di Bali. Sementara untuk beberapa peralatan, seperti receiver kami dibantu oleh Ranesi. Kemudian ada beberapa instalasi yang diservice oleh Ranesi sendiri sehingga kami sangat merasakan manfaat kerja sama dengan Ranesi.”

Tawaran kerja sama
Guntur FM memang mendapatkan beberapa tawaran kerja sama radio swasta di luar negeri, namun tertarik menjalin kerja sama dengan Ranesi terkait beberapa pertimbangan. “Salah satu di antaranya bahwa apa yang dijanjikan oleh Ranesi sepaham, seirama dan serupa dengan pola pikir dan daya dengar masyarakat kami di Buleleng.”

Alasan lain mengapa Guntur FM memilih menjadi mitra Ranesi adalah bantuan berupa material.

“Material itu dipasang sendiri oleh Ranesi. Kemudian ada juga beberapa pelatihan yang digelar oleh Ranesi yang sangat bermanfaat bagi reporter-reporter kami yang ada di Radio Guntur sehingga kami dapat mendapatkan wawasan lebih luas, kemudian ilmu pengetahuan jurnalistik. Siaran-siaran yang disajikan oleh Ranesi itu memang menjadi favorit masyarakat kami di Bali Utara.”

Sampai saat ini radio Guntur, belum memutuskan menerima tawaran dari radio internasional lainnya, tutur I Ketut Wiratmaja.

“Bagaimana pun juga kami akan mempertimbangkan dan mencermati dulu apa saja sajian-sajian, program-program sehingga apa yang selama ini ditanamkan di telinga pendengar tidak berubah 100 persen dengan masuknya radio yang lain.”

Manfaat positif
Mengenai kehilangan yang dimaksudkan di atas, I Ketut Wiratmaja menjelaskan. “Kami kehilangan program berita bergaya Belanda, kemudian kami tentu akan kehilangan mitra kerja yang selama ini sangat memberikan manfaat positif bagi kami di radio Guntur, Bali Utara.”

I Ketut Wiratmaja misalnya menyebut siaran khusus mengenai satu abad Bung Karno. “Masyarakat kami tentu sangat merasakan dan mendapatkan manfaat dari acara tersebut. Masyarakat Buleleng dapat persis tahu dari narasumbernya langsung.”

I Ketut Wiratmaja sangat menyesalkan kebijakan untuk menutup siaran Ranesi.

“Kami memberikan aplaus bagi teman-teman kru Ranesi yang selama ini sudah kerja maksimal memberikan pelayanan, hiburan, musik, sajian program sehingga wawasan kami di masyarakat Buleleng, Bali Utara menjadi terbuka dengan wawasan yang diberikan oleh Ranesi, baik melalui wawancara khusus maupun siaran berita.”

Situasi ekonomi
Di lain pihak I Ketut Wiratmaja juga memaklumi situasi ekonomi Belanda yang mengakibatkan Radio Nederland Siaran Indonesia tak dapat dipertahankan lagi. Walaupun demikian, ia masih tetap punya harapan untuk masa depan.

“Apabila kondisi ekonomi membaik di negeri kincir angin, kami berharap agar para pendengar memberikan support positif kepada Ranesi, sehingga Ranesi bisa berwenang dan kebijakan parlemen Belanda suka tidak suka, mau tidak mau, lambat laun akan memberikan kembali peluang kepada Ranesi membuka kembali kerja sama dengan radio-radio yang ada di beberapa negara, khususnya di Indonesia, dan lebih khusus lagi di Bali Utara Buleleng.”

Unduh
Wawancara dengan I Ketut Wiratmaja dari Guntur FM, Singaraja, Bali Utara

Diskusi

Kiev 10 Juni 2012 - 12:11pm / Indonesia

Sedihnya :( Saya mahasiswa di tanah air yang beberapa tahun terakhir ini menyukai sekali program Kanal Muda(Kamera, dulu). Melalui program ini saya mendapatkan banyak sekali informasi mengenai kuliah di Belanda beserta gaya hidup kawula muda belanda dan Indonesia di sana. Terima kasih informasinya.

lartri utomo 9 Juni 2012 - 12:37am / indonesia

Ranesi, kepastian penutupan sudah didepan mata, tinggal menghitung hari. Aku jadi ingat saat itu di tahun 1994/1995 pertama aku memiliki radio sendiri, aku bisa mendengarkan siaran manapun tanpa harus rebutan dengan saudara2ku. Adanya siaran SW berbahasa Indonesia membuka mataku bahwa ternyata berita2 dalam negeri yang tidak disiarkan bisa aku ketahui, apa dan bagaimana yang sebenarnya terjadi didalam negeriku. Selamat jalan semoga masih berjumpa di siaran lain.......
Terimakasih.

Rushdy Hoesein 8 Juni 2012 - 5:40pm / indonesia

Bagi siapa yang pernah bicara di corong Ranesi di Hilversum tidak akan lupa nahwa disitu siaran Indonesia memang penting, khususnya karena latar belakang sejarah Indonesia - Nederland. Bayangkan kalau sejarah dua bangsa ini tidak selalu diingat, siapa lagi yang mau melakukan itu...maka hilanglah sudah kenangan lama itu dan generasi muda punya alasan tidak peduli. Mungkin masyarakat muda Belanda memang tidak bergairah lagi pada peristiwa masa lalu dari kakek moyangnya di Hindia, padahal hal ini berbeda dengan banyak generasi muda Indonesia yang ingin tetap menikmati Tempo Doeloe....

mbahpur 8 Juni 2012 - 9:28am

lhoo? Siapa yang nggak kaget?? Yang mengherankan, mengapa sejak mula2 dulu sewaktu adanya rumor2 PENUTUPAN, kenapa tidak ada sosialisasi yang gencar dari Ranesi sendiri. Kesan kami, seperti menyerah pada nasib.
Sebab siapa tahu, kami2 penyinta Ranesi Indonesia yang ternyata berada diseluruh Dunia ini, bisa memobilisasi sesuatu. However, veri2 tengkiu dengan info2 kalian.

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Ranesi Pamit di Indonesia
Dalam rangka acara perpisahan RNW Indonesia 14 Juni di Erasmus Huis,...
Lampu Lalulintas Terlalu Cepat bagi Lansia
Makin banyaknya jumlah kelompok lansia ada dampaknya bagi masyarakat...