Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Map
Jakarta, Indonesia
Jakarta, Indonesia

Ranesi Sudah Tak Seksi?

Diterbitkan : 16 Juni 2011 - 11:53am | Oleh (Foto: Ranesi)
Diarsip dalam:

@Ranesi:Krn rencana penghematan anggaran pemerintah Belanda, ada kemungkinan Ranesi ditutup. Apa pendapat Anda? Simak Dimensi Selasa di www.ranesi.nl. Itulah salah satu tweet Radio Nederland Seksi Indonesia (7 Juni 2011). Opini Anta Kusuma.

Pikiran lantas menuju tahun 2007, ketika saya menghadap Henry Sandee, Kepala Seksi Bahasa Indonesia untuk belajar jurnalistik. Kami berkeliling ruang redaksi. Bertemu Agrar Sudrajat yang hanya berucap beberapa kalimat karena sedang “deadline”. Dan saya membicarakan ide liputan dengan Bari Muchtar, ketika itu mengasuh program Multikultur.

Tanpa alat broadcasting, saya meliput Pasar Malam Besar dan perempuan indonesia yang menikah dengan pria muslim Belanda. Ketika berada di “masjid Indonesia” Den Haag, saya merasakan ada nada sinis dari beberapa orang Indonesia tentang Radio Nederland yang punya sejarah panjang sejak tahun 1927.

Tahun 2010, bersama Aliansi Jurnalis Independen(AJI) Jakarta, saya kembali ke Hilversum yang dingin, tempat RNW (Radio Nederland Wereldomroep) menyapa dunia. Sore hari, setelah kursus selesai, saya sempatkan untuk melihat proses pembuatan dan penyiaran berita untuk publik di Indonesia.

Tua muda bekerja secara independen dan profesional. Ketika itulah saya merasa bahwa kerja junalistik punya dampak besar terhadap publik. Mungkin karena rasa tanggungjawab itu, para jurnalis Ranesi rela kembali ke kelas lagi, di tempat yang sama ketika kami belajar “New Media”.

Saya jarang mendengar siaran radio. Karena Ranesi bisa diakses lewat internet. Tapi jika Ranesi ditutup, bagaimana masyarakat Indonesia bisa mendapatkan informasi yang kredibel tentang Belanda? Jurnalisme tak hanya hadir ketika bencana, tapi adalah alat untuk memajukan suatu bangsa.

“Sungguh sangat disayangkan kalau RNW ditutup, saya yang notabene tinggal dipelosok kalimantan akan kehilangan media hiburan dan informasi. RNW adalah teman kerjaku dikala aku lembur, juga jendela untuk mendengar informasi dunia dimana aku tak bisa mendapatkan dari media yang ada di Indonesia” Tulis Imam Khudori di Facebook RNW Indonesia.

Saya belum membalas “kicauan” dari Ranesi. Rasa penasaran membawa saya tuk berkorespondensi dengan salah satu kru Ranesi.

Belum ada putusan resmi.Sejauh ini direksi RNW mengusulkan pemotongan anggaran sekitar 10 juta euro, dari total sekitar 46 juta. Korban utama, seksi bahasa Belanda, dengan alasan, siaran bahasa Belanda bisa memanfaatkan siaran publik yang ada. Bocoran usul dari parlemen, anggaran sisa 10 juta euro saja. Ini berarti Seksi Bahasa Indonesia pun akan kena. Padahal total anggaran Ranesi kurang dari dua juta euro.” Balas Agrar Sudrajat.

Saya masih menyimpan tanya. Jika putusan terjadi, akankah hubungan Indonesia Belanda tak "seksi" lagi? Karena bisa jadi informasi akan kabur. Doa saja tentu tak cukup. Petisi?

Opini Anta Kusuma, seperti dimuat di http://mediaindependen.com/

 

Diskusi

Anonymous 19 Juni 2011 - 6:53pm / Indonesia

Cewek cewek Jawa mengenakan pakaian adat Belanda (ranesi) tampaknya seram bangat si. Awas lho, kalau kembali ke Jawa pasti dites keperawanannya. Apa sikapmu, marah ataukah mengiakan? Dan itulah pemerintahmu yang Indonesia itu. Kumpul dulu duitnya agar bisa membekali dikemudian. Kalau bisa niat jahat DPR itu haruslah didakwakan kepengadilan.

Anonymous 19 Juni 2011 - 6:52pm / Indonesia

Cewek cewek Jawa mengenakan pakaian adat Belanda (ranesi) tampaknya seram bangat. Awas lho, kalau kembali ke Jawa pasti dites keperawanannya. Apa sikapmu, marah ataukah mengiakan? Dan itulah pemerintahmu yang Indonesia itu. Kumpul dulu duitnya agar bisa membekali dikemudian. Kalau bisa niat jahat DPR itu haruslah didakwakan kepengadilan.

Anonymous 6 Agustus 2011 - 5:08am / Indonesia

Sebelum mengomentari ini, aku sempat diskusikan tulisanmu di atas dengan beberapa teman ku dan ini hasilnya: Ranesi akan ditutup kami pendengar setia Ranesi tak masalah sama sekali, sebab sekarang era televisi. Kalau pun masih ada, hanya tinggal era radio musik aaja, era radio berita & acara sudah lama tamat. Kita generasi muda cuma suka musik, itu pun musik dalam negeri, yang saat ini sudah cakep-cakep. "Kita stres ngliat pemerintah cuman ngurusin politik dan partai melulu, nggak ngurusi kami generasi muda, nggak perduli masa depan kami apakah akan ada lapangan pekerjaan cukup buat kami, ngapain ndengerin berita radio luar negeri lagi. Ndengarin musik agak mengurangi stres kami," kata teman-teman ku. Aku setuju.

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET