Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Rabu 19 Juni  
Yulfa Savitri
Avatar Yunita Rovroy
Map
Kediri, Indonesia
Kediri, Indonesia

Ranesi, dari Sabang sampai Merauke

Diterbitkan : 28 Juni 2012 - 9:00am | Oleh yunita rovroy (Foto: Yulfa Savitri)
Diarsip dalam:

Akhirnya, sesudah 65 tahun setia menemani pendengar dan pembaca, Radio Nederland Siaran Indonesia dengan berat hati mohon diri. Kali ini untuk waktu tak terbatas. Menandai berakhirnya era Ranesi, kami siapkan berbagai artikel khusus tentang Ranesi, mitra, dan tentu saja pendengar. Kali ini giliran Radio Bonansa FM, stasiun mitra di Kediri, Jawa Timur.

Ada yang menyambut positif namun ada juga yang mengkritik acara-acara Ranesi, ungkap Yulfa Savitri, program manager Radio Bonansa FM. Salah satu acara radio yang banyak dikritik adalah Kedai Tabu. “Pernah saya dapat SMS, katanya kok terlalu vulgar untuk pendengar di Kediri.”

Kontroversial
Acara ini memang mengangkat topik-topik kontroversial misalnya di bidang seks, keagamaan dan politik. Menurut Yulfa masyarakat di Kediri kurang terbiasa jika hal-hal sepert itu disiarkan. “Kalau di radio-radio sini, di Kediri, topik-topik kontroversial cenderung nggak dibicarakan secara terbuka.”

Namun ada juga suara-suara positif.

“Saya pernah berkunjung ke dokter, waktu itu anak saya sakit. Ternyata dia (dokter, Red.) setiap pagi mendengarkan Ranesi. Kemudian ada liputan gereja tua di Kediri yang mau digusur, ternyata pendetanya yang dari Papua itu juga penggemar Radio Nederland sejak masih tinggal di Papua.”

Tiba-tiba menghilang
Radio Bonansa FM sejak tahun 2005 menjadi mitra Radio Nederland. Namun Yulfa sebetulnya sudah jauh lebih lama mengenal Ranesi. “Kalau di sini orang-orang tua, termasuk ayah saya, sudah familier dengan namanya Radio Nederland, lewat shortwave atau SW.”

Keputusan untuk mengakhiri siaran Ranesi, menurut Yulfa adalah sebuah keputusan yang tidak adil. “Kami sudah biasa dengar pagi, lalu tiba-tiba menghilang. Padahal program-program pagi itu menemani aktivitas di pagi hari sebelum berangkat kerja.”

Action dulu
Radio Bonansa FM selama menjadi mitra Radio Nederland, merelay dua jam penuh siaran Ranesi. “Dulu masih ada Gema Warta, Kamera, pelajaran bahasa Belanda. Beberapa bulan terakhir ada perubahan. Tidak ada lagi Gema Warta dan seterusnya. Di luar itu kami juga ikut Europarade bang Eka Tanjung setiap sebulan sekali.”

Dan, dari Europarade ini lah, mulai lah kerja sama dengan Ranesi.

“Dulu sempat kontak-kontak dengan Eka Tanjung. Kami dikirimi sampel program Europarade. Akhirnya kontak ke Han Harlan di Jakarta. Ternyata prosedurnya mudah sekali. Tidak seribet yang saya bayangkan. Ada teknisi dari Tulungagung ke sini kemudian sudah bisa relay. Saya pikir perlu MoU dulu baru kemudian ada kesepakatan. Ternyata itu semuanya menyusul. Pokoknya action dulu, urusan lainnya belakangan.”

Dari Sabang sampai Merauke
Yulfa Savitri sebanyak dua kali diundang untuk menghadiri acara Temu Mitra, yang pertama di Jakarta tahun 2006 dan yang kedua di Bali, 2008. “Kru Ranesi sangat baik, kemudian juga semua biaya ditanggung. Jadi kita bisa bertemu mitra-mitra Ranesi dari Sabang sampai Merauke.”

Acara Temu Mitra ini, menurut Yulfa juga salah satu cara untuk mengenal lebih jauh kru Ranesi. “Ada ibu Yanti Mualim, pak Bari Muchtar, dulu juga ada pak Sirtjo dan pak Han tentu saja, juga mbak Valentina yang di Jakarta.”

Hubungan dengan staf Ranesi, bagi Yulfa Savitri, sangat penting.

“Dulu ibu Yanti Mualim pernah berkunjung ke Kediri sewaktu Hari Air Sedunia bulan Maret 2007 datang ke Kediri. Kami bersama mengunjungi salah satu proyek air dari Bank Dunia, yakni program pengadaan air bagi masyarakat yang kesulitan sumber air. Kami berkunjung ke berbagai daerah di kabupaten termasuk ke Kelud, jadi melihat sendiri bagaimana proyek itu sendiri dilakukan dan kemudian betapa pentingnya keberadaan air bagi masyarakat sekitar, sebelum dan setelah ada proyek itu.”

Bagi Yulfa Savitri ini merupakan pengalaman sangat berharga. “Mudah-mudahan nanti ke depan, meskipun sudah tidak bermitra lagi, tapi namanya silaturahmi, kontak tetap dengan kami di sini.”

Diskusi

guest 21 Februari 2013 - 1:05am

SELAMAT ATAS PENUTUPAN RANESI RADIO PROVOKATOR PENJAJAH HAM LELUHUR ORANG NKRI .......TUTUP KARENA BANGKRUT YA HAHAHAHAHA

Nano Supriyono 24 Juli 2012 - 5:27pm / Indonesia

Saya merasa kehilangan sesuatu mana kala sudah tak dapat mengakses radio gelombang pendek lagi seperti dulu yaitu Ranesi, BBC, VOA, DW dll.
Lembaga siaran begitu besar mengapa sampai tutup ??? atau ada unsur politik ?
Kalau kita memantau di internet kan butuh waktu, ruang khusus. Dengan radio kita dapat memantau sampai sambil mandi, bersih-bersih halaman dll. Padahal apapun yg disiarkan sangat bermanfaat menambah pengetahun.

Anonymous 28 Juni 2012 - 2:26pm / Manado

Mengapa sampai jadi undur diri? Apa Ranesi tidak merasa berguna lagi bagi pendengar atau karena sudah rugi? Masa kala sama VOA dll. Menurut saya ranesi membuka cara pandang yang baik.. sayang kalau sudah mau pamit. Tapi paling tidak saya sebagai pendengar ranesi yang dipancar ulang oleh Radio Montini, mengucapkan terima kasih dan sampai jumpa.

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Ranesi Pamit di Indonesia
Dalam rangka acara perpisahan RNW Indonesia 14 Juni di Erasmus Huis,...
Lampu Lalulintas Terlalu Cepat bagi Lansia
Makin banyaknya jumlah kelompok lansia ada dampaknya bagi masyarakat...