Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Minggu 19 Mei  
Avatar Yunita Rovroy
Map
Canberra, Australia
Canberra, Australia

Ranesi Berperan Penting di Zaman Soeharto

Diterbitkan : 28 Juni 2012 - 12:00pm | Oleh yunita rovroy (Foto: a-birdie/RNW)
Diarsip dalam:

Akhirnya, sesudah 65 tahun setia menemani pendengar dan pembaca, Radio Nederland Siaran Indonesia dengan berat hati mohon diri. Kali ini untuk waktu tak terbatas. Menandai berakhirnya era Ranesi, kami siapkan berbagai artikel khusus tentang Ranesi, mitra, dan tentu saja pendengar.

“Sewaktu datang di Belanda, saya kaget. Mungkin juga karena dingin dan angin. Itu musim dingin di sana. Tapi senang juga waktu datang, karena saya belum pernah tinggal di Eropa sebelumnya,” kata Joe Coman (72), laki-laki Australia yang menjabat Kepala Ranesi tahun 1990-1996.

Laki-laki yang oleh kru Ranesi juga akrab dipanggil “Pak Joko” ini tiba di Belanda awal Februari 1990.

Would you like to come?
Setelah diwawancarai anggota dari seksi Asia dan seksi Indonesia, pak Joko pulang ke Australia mengabari istri tercinta Allison dia diterima sebagai Kepala Seksi Indonesia.

“Saya bilang kepada istri saya Allison: ‘Allison saya akan ke Belanda. Would you like to come?’ Dia bilang ‘kapan?’ Saya bilang ‘bulan depan’. Jadi dalam waktu satu bulan sudah terurus semuanya dan kami pindah ke Belanda.”

Menjadi kepala seksi Indonesia sebenarnya bukan hal baru bagi Joe Coman. Pak Joko sebelumnya pun berpengalaman sebagai pemimpin seksi Indonesia di Radio Australia.

“Saya tidak datang di Belanda untuk mengulang apa yang disiarkan Radio Australia, karena Radio Australia kan lain, dekat dengan Indonesia dan juga siaran sembilan jam per hari. Radio Australia adalah stasiun radio yang cukup lama mengudara,” ceritanya ketika dihubungi Radio Nederland.

“Tapi yang khas mengenai Radio Nederland dan memang dipuji-puji oleh pendengar di Indonesia adalah siaran berita, pengetahuan dan acara-acara yang mengangkat kejadian di Indonesia waktu itu. Indonesia waktu itu kan tidak begitu terbuka dalam soal berita. Itu kan masih zaman Soeharto.”

Kekuatan Ranesi
Menurut pak Joko, itu lah yang menjadi kekuatan dari Ranesi, “karena bisa bebas menyiarkan apa yang terjadi di Indonesia, tanpa disensor. Selain itu anggota staf di Radio Nederland betul-betul menaruh minat terhadap apa yang terjadi di Indonesia, sehingga kami selalu mencari berita-berita yang masuk akal dan obyektif dibandingkan dengan apa yang disiarkan oleh stasiun radio di Indonesia yang dikendalikan oleh pemerintah.”

Setelah 6,5 tahun memimpin Ranesi, Joe Coman memutuskan kembali ke Australia. “Orangtuanya Allison tidak melihat anak dan dua cucu selama 6,5 tahun. Jadi mereka rindu juga.”

Alasan lain mengapa pak Joko memutuskan pulang ke Australia terkait dengan masalah tunjangan hari tua.

“Kalau saya tetap di Belanda, saya tidak mencapai pensiun yang mencukupi. Sedangkan di Australia, karena saya sudah 20 tahun di Radio Australia, masih ada harapan saya dapat pensiun yang mencukupi kebutuhan untuk orang yang berumur seperti saya. Jadi hanya untuk masa depan. Kalau Allison sama saya masih muda waktu itu, saya rasa kami akan tetap tinggal di Belanda.”

Pak Joko senang tinggal di Belanda karena dekat dengan negara-negara lain. “Kami pernah holiday, pergi cuti ke Inggris, ke Belgia dan Italia misalnya. Jadi semuanya dekat, sedangkan perjalanan ke Australia kan jauh sekali. Di ujung dunia kita ini.”

Kerja di Deplu
Walaupun sudah mencapai usia pensiun, Joe Coman masih tetap aktif bekerja, yaitu di Departemen Luar Negeri Australia. “Saya masih kerja full time di sana. Kalau ada delegasi datang dari pemerintah Indonesia, saya ikut sebagai penerjemah dan membantu mereka. Kadang-kadang saya juga ditugaskan ke Indonesia.”

Pak Joko misalnya pernah dikirim ke Timor Timur untuk membantu dalam pemberian pelatihan yang diadakan oleh Deplu Australia, sekaligus menjadi penerjemah.

“Ya begitulah karena pengalaman saya lah. Orang berumur seperti saya katakan tadi, saya sudah uzur, tetapi karena sudah begitu lama berkecimpung dalam bidang bahasa Indonesia, masih dianggap bergunalah bagi Departemen Luar Negeri.”

Internet
Joe Coman sangat menyayangkan keputusan untuk menghentikan semua kegiatan Radio Nederland Siaran Bahasa Indonesia.

“Sama halnya dengan Radio Australia yang dulu punya jam siaran cukup panjang di Indonesia melalui gelombang pendek. Tapi dewasa ini gelombang pendek hampir tidak pernah diikuti lagi oleh pendengar di Indonesia. Mereka punya komputer punya internet, punya stasiun radio, punya televisi. Jadi persaingan bagi siaran gelombang pendek di luar negeri begitu berat sehingga Radio Australia pun harus mengurangi drastis siaran langsung.”

Menurut pak Joko banyak sekali pendengar di Indonesia yang dibesarkan dengan siaran Ranesi.

“Jangan lupa bahwa pada suatu saat di Indonesia kan siaran radio ngak-ngik-ngok seperti yang disebut oleh Bung Karno dulu, musik rock and roll itu kan dilarang. Jadi itu ada untungnya bahwa pendengar di Indonesia mengikuti siaran gelombang pendek, dari Ranesi dan dari Radio Australia dulu juga.”

Mengakhiri percakapan dengan Radio Nederland, Joe Coman berkata:

“Mudah-mudahan semuanya berjalan dengan lancar. Mudah-mudahan kru Ranesi dapat pensiun dan sumbangan yang cukup dari Radio Nederland karena ini kan tidak diinginkan dan saya kira juga di luar dugaan. Salam buat semua orang yang saya kenal di Radio Nederland, di siaran bahasa Indonesia khususnya. Dan juga kepada orang-orang lain yang masih ingat bung Joko, wong Australia yang selama 6,5 tahun bergabung dengan Radio Nederland.”

  • Pak Joko (kanan)<br>&copy; Foto: RNW - http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia
  • Pak Joko (tengah)<br>&copy; Foto: RNW - http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia
  • Pak Joko diwawancarai Yanti Mualim<br>&copy; Foto: RNW - http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia
Unduh
wawancara dengan Joe Coman

Diskusi

imran 22 Maret 2013 - 5:43pm / imran_rasool45@yahoo.com

ADDRESS:
· House # 88-A Street # 22 Muhallah Masjid taj Nazd Akbar Shaheed Road Kot Lakhpat Lahore.
PERSONAL INFORMATION:
Father’s Name Ghulam Rasool
D.O.B 24-07-1981
Cell No +971529819749
Nationality Pakistani
Marital Status Married
Religion Muslim
Visa AG1224262
N.I.C 35201-9028426-3
Email: Imran_rasool45@yahoo.com
ACADEMIC QUALIFICATId

ON:
Meddle Lahore Board
LANGUAGE:
Urdu
Pujabi
EXPERIENCE:
8 Years experience as a Carpenter in PELL Company.
5 Years experience as a Plumber.
3 Years experience as a Electration on Arraha Company.
HOBBIES:
Readin...

imran 22 Maret 2013 - 5:42pm / imran_rasool45@yahoo.com

ADDRESS:
· House # 88-A Street # 22 Muhallah Masjid taj Nazd Akbar Shaheed Road Kot Lakhpat Lahore.
PERSONAL INFORMATION:
Father’s Name Ghulam Rasool
D.O.B 24-07-1981
Cell No +971529819749
Nationality Pakistani
Marital Status Married
Religion Muslim
Visa AG1224262
N.I.C 35201-9028426-3
Email: Imran_rasool45@yahoo.com
ACADEMIC QUALIFICATId

ON:
Meddle Lahore Board
LANGUAGE:
Urdu
Pujabi
EXPERIENCE:
8 Years experience as a Carpenter in PELL Company.
5 Years experience as a Plumber.
3 Years experience as a Electration on Arraha Company.
HOBBIES:
Readin...

Toha Kosasih 8 September 2012 - 11:20am / sumedang

inimah namanya presiden akeuwsoeharto

JAWA JENGKOL KONTOL 17 Agustus 2012 - 7:58am

kemaren dulu simonyet wiranto muncul disini,

KOPASSUS 27 Juli 2012 - 8:37am

PRABOWO SUBIANTO, WIRANTO, SJAFRIE SAMSUDDIN WERE THE BIGGEST INDONESIAN PAST HUMAN RIGHT ABUSES THAT WERE STILL ALIVE & WELL IN INDONESIA, "THEY WERE THE MASTERMIND OF KILLINGS, TORTURES, MASS GANG RAPES OF CHINESE WOMENS, GENOCIDAL ACTS OF PAPUANS, AMBONESE CHRISTIANS, SULAWESI ETC.
----THEIR VICTIMS WERE IN HUNDREDS OF THOUSANDS OF PEOPLES IN CASES OF PAPUANS AND IT'S STILL ONGOING EVEN AS WE SPEAK, "SECRET GENOCIDAL WARS IN PAPUA".

Anonymous 16 Agustus 2012 - 6:04am / indonesia

masih inget rawagede? westerling ?? berkaca dulu lah

Anonymus 9 Juli 2012 - 6:48am / NKRI NEGERI TRAGEDI= Rakyat bunuh diri karena kemiskinan

Membaca surat kabar "Media Indonesia Com" pada Sabtu 7 Juli 2012, mengguncang semua orang yang masih hidup pada negara ini. Salman 30 tahun di Bogor Jawa Barat bersama anak anaknya, tak dapat lagi menahan tekanan kemiskinan yang semakin membuatnya mengambil jalan pintas, terpaksa membunuh diri meninggalkan ke 3 buah hatinya yang masih kecil sendirian dan yatim piatu setelah kematian suaminya beberapa waktu berlalu. Hal i ni anda dapat membacanya di www.ambon.com dengan judul NKRI NEGARA TRAFEDI. Kemiskinan telah membuat sebegitu banyak orang terpaksa membunuh diri, sementara semua anggota MPR dan DPR di Jakarta seakan melupakan saja dan pusing dengan hal hala yang tidak menguntuingkan. Misalnya membeli senjata dari Jerman, ini namanya senjata makan tuannya sendiri. Beli senjata atau kematian dan kemiskinan membunuh seluruh rakyat? Sebaiknya Bapak President SBY cepat sadar akan hal ini, kalau tidak, akan mendatangkan kehancuran yang lebih para lagi. Mau beli senjata atau rakyat membunuh diri?

Anonymous 16 Agustus 2012 - 6:01am / indonesia

Baca yg bener sebab nya apa, trus hubungannya apa sama tank, dari pada beli tank di belanda kaga boleh di pake mending beli becak buat narik, kontribusi anda buat negara apa ?

Anonymous 21 Agustus 2012 - 6:28pm

Yang dimaksudkan negara itu negara yang mana? NKRI? NKRI itu negara kusumat bencana mas. jangan deh, kalau Indonesia saja, lupakan, karena anda hanya dibilang warga Indonesia, tapi tidak ada nilainya dan berarti bagi Jakarata.Beli BECA ada untungnya buah menghidupkan keluarga, tapi beli tank hanya buat tembak sesama. Tapi sekarang, pak Bambang lagi repot dengan penggelapan uangnya dengan seorang wanita pilihannya dalam parteinya. Jadi uangnya sudah kurang untuk beli senjata.

John Remase 1 Juli 2012 - 8:52pm / R.M.S.

Mungkin ada baiknya agar semua orang tau bahwa, Indonesia itu hanyalah JAWA. Melihat kepada caranya Suharto menggunakan topi asli Jawa, kemudian SBY dengan peci asli budaya Hindu Nepal, membuktikan bahwa, Indonesia itu tidak tau apa artinya. Negara macam apakah Indonesia itu? Budayanya saja tidak tau mana yang benar. Main maksa aja sambarangan untuk semua orang harus menggunakan peci hitam yang adalah asli budaya Hindu dari Nepal. Untungnya tidak semua orang disuruh menggunakan jiblad hitam yang menutup dari kepala sampai kekaki, mungkin itu juga budaya Indonesia. INDONESIA itu, budayanya tidak punya, sejarahnya tidak punya, kedaulatannya tidak punya, kebenarannya tidak punya, yang punya hanyalah penipuan dan kepalsuan belaka. Dan itulah Indonesia alias NKRI.

Jenny Taufiek 30 Juni 2012 - 9:16am / Indonesia

Lalu kenapa mukanya sang durhaka dan pembunuh sadis ini (suharto) dimasukan pada milis ini? Bukankah, setiap kali kita melihat wajah sidurhaka ini, terkenanglah kita tentang betapa kejam dan jahat betul semua tindakan dan perbuatan pemerintah Indonesia selama ini? 10 juta rakyat dibunuh oleh Suharto dengan TNI dan POLRI dan penguasa lainnya sampai ketingkat lurah, semuanya ramai ramai membunuh dan menganiaya sitersangka sebagai PKI. Kalau mau jujur, semua yang disangka ORDE BARU atau GOLKAR, haruslah kita habiskan juga. Termasuk keluarga para TNI dan penguasa yang dulu itu. Kembalikan mere kepulau Buru atau Nusa Kebangan di Jawa barat sana. Setuju?

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Ranesi Pamit di Indonesia
Dalam rangka acara perpisahan RNW Indonesia 14 Juni di Erasmus Huis,...
Lampu Lalulintas Terlalu Cepat bagi Lansia
Makin banyaknya jumlah kelompok lansia ada dampaknya bagi masyarakat...