Ramadan di Merauke diwarnai dengan suhu yang kotras antara siang dan malam. Bulan puasa ditandai dengan sikap toleran terhadap kaum muslim pendatang.
Australia
Sulistyo dari radio Fritta FM Merauke ketika dihubungi telepon menyebutkan perbedaan suhu antara siang dan malam yang cukup besar. Malam lebih dingin dan siang terasa panas. Menurut Station Manager di Fritta FM itu perubahan suhu ini dipengaruhi iklim di Australia. "Karena di benua Australia sedang musim maka terasa di Merauke juga. Sore menjelang malam sangat dingin dan siangnya panas sekali."
Toleransi
Perubahan suhu tidak mempengaruhi kerukunan beragama di sana. "Toleransi beragama di kota paling timur Indonesia itu sangat baik," kata Sulistyo dari radio Fritta FM Merauke. Kota ini memiliki keragaman budaya dan agama itu. Perbandingan penduduk pendatang mayoritas muslim dan penduduk asli menganut kristiani diperkirakan imbang.
Penghormatan tampak di tempat-tempat umum. "Warung-warung makan yang tutup di siang hari. Dan minimnya orang yang makan dan minum di jalan-jalan, selama Ramadhan ini," tutur Sulistyo.
Dangdut
Sehubungan dengan bulan Ramadhan ini Radio Fritta yang mengudara pada 103,5 FM juga membuat program khusus ceramah Ramadhan dan musik dangdut. Ditanya alasannya, Sulistyo mengatakan "itu sudah tradisi kami di setiap bulan ramadhan, memutar dangdut yang pas untuk anak muda, biar semarak," katanya semangat.






















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.