Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Avatar Willemien Groot
Map
Amsterdam, Belanda
Amsterdam, Belanda

Putri Belanda Tetap Optimis dengan Kredit Mikro

Diterbitkan : 10 Juni 2011 - 8:51pm | Oleh Willemien Groot (Foto©ANP)
Diarsip dalam:

Pinjaman mikro baru saja melewati tahun yang penuh gejolak. Meningkatnya kisah-kisah penyalahgunaan sistem pinjaman untuk kalangan miskin merusak citra pinjaman mikro. Belum lagi tuduhan bahwa pemenang hadiah Nobel Mohammed Yunus menyalahgunakan sistem.

Walau begitu, orang-orang yang terlibat dalam bidang pinjaman mikro, termasuk putri Máxima, tetap optimis. Itu yang terlihat dari pertemuan Pinjaman Mikro Eropa di Amsterdam, ibukota Belanda.

Kendati banyak kekurangan, pinjaman mikro tetap satu-satunya cara bagi kaum miskin atau mereka yang sulit mendapatkan pinjaman dari bank, untuk memperoleh dana sehingga bisa membuka usaha. Dini Verhoef, perempuan Belanda, dinyatakan tidak mampu bekerja karena sakit. Ia tidak mempunyai pekerjaan dan tidak mendapatkan pinjaman mendirikan perusahaan sendiri.

Masalah
Dengan pinjaman sebesar 10.000 euro dari organisasi kredit mikro Belanda, Qredits, ia mendirikan apotik Coklat. Ia pun turut hadir dalam pertemuan Pinjaman Mikro Eropa di Amsterdam, menyajikan beragam jenis snack. Selain pinjaman untuk pemula, ia juga diberi kesempatan mengikuti kursus. Ia sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang profesinya yang sekarang.

Mahal
Coaching, atau pelatihan dianggap bisa mensukseskan kredit mikro. Seorang pemula tidak langsung memahami semua seluk beluk pembukuan atau membuat analisa mendalam tentang pasar. Tapi bimbingan bagi pemula sangat mahal.

Menurut seorang bankir Jerman biayanya paling tidak 1000 euro per klien. Itu belum termasuk bantuan-bantuan tambahan bagi si klien jika misalnya pecah krisis global atau perusahaan terancam masalah keuangan. Siapa yang harus membayar untuk itu?

Menurut si bankir Jerman, itu tugas pemerintah. Tapi jika melihat trend global, lembaga-lembaga kredit mikro harus membiayai diri sendiri.

Di Peru, Grupo ACP sangat sukses di bidang itu. Organisasi ini memiliki lebih dari 600.000 klien di Peru, di seluruh Amerika Latin lebih dari dua juta orang. Berkat banyaknya klien, mereka tidak memerlukan bantuan pemerintah, kata direktur Luis Felipe Derteano.

"Jadi, siapa yang harus bayar? Grupo ACP berinvestasi di perusahaan-perusahaan yang menciptakan inklusi. Semua perusahaan harus memenuhi tiga syarat: finansial, sosial, lingkungan. Perusahaan-perusahaan saling membantu satu sama lain, dan itu dasar yang membantu kita menciptakan jaringan klien-klien penting. Jadi mereka bisa bayar sendiri."

Pengawasan intern
Walaupun klien Grupo ACP seluruhnya terdiri dari orang miskin, organisasi ini bisa membiayai diri sendiri. Melalui pengawasan intern, keuntungan tidak diambil dari suku bunga yang ekstrim tinggi atau premi, tegas Derteano.

Setelah sukses awal, pinjaman mikro mulai diwarnai kasus-kasus penyalahgunaan. Ketua Dewan Belanda untuk Pinjaman Mikro, Diederik Laman Trip, tidak bisa menerima kejadian itu. Tapi ia bisa menjelaskannya:

"Jika sesuatu sukses berat, pasti ada saja orang-orang yang ingin menebeng kesuksesan itu dengan motivasi yang salah. Begini saja deh, saya beri contoh agar semua orang mengerti: jika para pengusaha atau orang-orang yang berorientasi uang ikut-ikutan dalam pinjaman mikro, itu tandanya kita harus waspada. Namun untungnya, tokoh-tokoh besar dunia tidak terpengaruh kisah-kisah buruk soal kredit mikro. Saya telah mendiskusikan ini dengan putri Máxima dan Yunus. Kami sepenuhnya mendukung pinjaman mikro di dunia. Karena hal-hal yang salah, paling hanya satu atau dua persen. Sedangkan 98 persen berjalan baik. Kami harus memastikan bahwa orang-orang yang terlibat dalam bidang pinjaman mikro tetap punya kepercayaan diri, sehingga seluruh dunia kredit mikro juga bisa memancarkan kepercayaan."

Máxima
Itu pun tugas European Microfinance Network yang menyelenggarakan kongres di Amsterdam. Lembaga-lembaga yang membantu pengusaha-pengusaha kecil dengan pinjaman di bawah 25.000 euro tergabung dalam jaringan ini. Putri Máxima adalah utusan khusus PBB untuk pinjaman mikro:

"Tujuh tahun terakhir saya sudah bepergian ke mana-mana untuk mendiskusikan kredit mikro dan mempromosikan inklusi finansial. Saya sudah melihat sendiri betapa kita bisa saling menginspirasi satu sama lain. Masalahnya, persoalan dalam kredit mikro berbeda-beda, dan inilah yang membuat kredit mikro jadi rumit. Kita butuh model usaha yang berbeda untuk tiap negara, bahkan kadang dalam satu negara harus ada model usaha yang berbeda. Di Peru, misalnya, model usaha di Lima berbeda dengan di Andes. Ini juga berlaku untuk Uni Eropa. Kita tidak bisa membandingkan kondisi kredit mikro di Rumania dengan di Inggris atau Belgia. Jadi: apakah adil untuk membatasi pinjaman mikro menjadi 25.000 euro untuk seluruh regio?"

European Microfinance Network : http://www.european-microfinance.org/milan2009/

Diskusi

Anonymous 16 November 2011 - 2:02pm

Pemimpin RMS yang di Belanda itu mata gelap, otak pendek sama seperti James Bon ini, sudah lama tinggal di Belanda tidak ada apa-apa kemajuan sekalipun fasilitas-fasilitas terdedia untuk dipergunakan. Contohnya berapa banyak dokter, insinyur,ekonomist, etc, ahli-ahli yang diciptakan untuk kebutuhan Maluku di kemudian hari? Nol besar! Jadi jangan bicara masa lalu tanpa isi untuk masa depan. Kalau mau maju suruh dan bantu anak-anak Maluku supaya dapat pendidikan yang baik untuk mereka maupun untuk dapat disumbangkan ditimpat mereka berada dan tentunya juga untuk Maluku.

Anonymous 16 November 2011 - 2:02pm

Pemimpin RMS yang di Belanda itu mata gelap, otak pendek sama seperti James Bon ini, sudah lama tinggal di Belanda tidak ada apa-apa kemajuan sekalipun fasilitas-fasilitas terdedia untuk dipergunakan. Contohnya berapa banyak dokter, insinyur,ekonomist, etc, ahli-ahli yang diciptakan untuk kebutuhan Maluku di kemudian hari? Nol besar! Jadi jangan bicara masa lalu tanpa isi untuk masa depan. Kalau mau maju suruh dan bantu anak-anak Maluku supaya dapat pendidikan yang baik untuk mereka maupun untuk dapat disumbangkan ditimpat mereka berada dan tentunya juga untuk Maluku.

Anonymous 16 November 2011 - 2:02pm

Pemimpin RMS yang di Belanda itu mata gelap, otak pendek sama seperti James Bon ini, sudah lama tinggal di Belanda tidak ada apa-apa kemajuan sekalipun fasilitas-fasilitas terdedia untuk dipergunakan. Contohnya berapa banyak dokter, insinyur,ekonomist, etc, ahli-ahli yang diciptakan untuk kebutuhan Maluku di kemudian hari? Nol besar! Jadi jangan bicara masa lalu tanpa isi untuk masa depan. Kalau mau maju suruh dan bantu anak-anak Maluku supaya dapat pendidikan yang baik untuk mereka maupun untuk dapat disumbangkan ditimpat mereka berada dan tentunya juga untuk Maluku.

Anonymous 16 November 2011 - 2:02pm

Pemimpin RMS yang di Belanda itu mata gelap, otak pendek sama seperti James Bon ini, sudah lama tinggal di Belanda tidak ada apa-apa kemajuan sekalipun fasilitas-fasilitas terdedia untuk dipergunakan. Contohnya berapa banyak dokter, insinyur,ekonomist, etc, ahli-ahli yang diciptakan untuk kebutuhan Maluku di kemudian hari? Nol besar! Jadi jangan bicara masa lalu tanpa isi untuk masa depan. Kalau mau maju suruh dan bantu anak-anak Maluku supaya dapat pendidikan yang baik untuk mereka maupun untuk dapat disumbangkan ditimpat mereka berada dan tentunya juga untuk Maluku.

Anonymous 13 Juni 2011 - 2:20am / Maluku

Halo Maxima!
Kapan kalian bayar hasil rampokan Belanda di Maluku?

James Bon 13 Juni 2011 - 11:04am / Indonesia numpang liwat ajalah.

Benar juga ya, kapan mata rumah oranye menyelesaikan utangnya yang dari tahun 1600 sampai dengan hari ini untuk Maluku? Sudah rampok, tipu memperdaya lagi, membunuh rakyat Maluku, tapi sampai dengan hari ini, tidak pernah satu centpun diberikan kepada orang Maluku atau RMS. Konyol juga Belanda, sama saja dengan Indonesianya, kedua duanya bersekongkol dalam kejahatan.

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET