Delegasi PSSI ke Belanda September ini untuk menindaklanjuti minat merekrut pemain dan pelatih asal Belanda. Media Belanda juga tertarik dan melihat Iman Arif sebagai Ketum PSSI.
Paroh September ini berbagai media Belanda memberitakan PSSI mencari pemain keturunan Indonesia dan pelatih asal Belanda.
Voetbal International, majalah sepakbola paling bergengsi Belanda melansir berita PSSI sedang mencari pemain keturunan Indonesia di tiga divisi teratas Belanda, Eredivisie, Eerste Divisie dan Topklasse. "Mereka ingin meningkatkan level sepak bola Indonesia," tulis majalah yang sering disingkat VI itu. Selain itu VI mengutip Iman Arif yang disebut sebagai 'voorzitter van de bond' atau ketua asosiasi sepakbola nasional.
Berita ini membawa dimensi baru. Selain ingin meningkatkan kwalitas timnas Indonesia di ajang internasional, media Belanda melihat Iman Arif sebagai ketua PSSI. Semoga saja 'human error' ini tidak berdampak pada situasi lebih runyam di tubuh PSSI.
Kembali ke kunjungan Iman Arif, Ketua Badan Tim Nasional (BTN) ke Belanda. Kepada VI, Iman Arif mengatakan 'November 2011 kami ingin menoreh prestasi bagus pada SEA Games di Jakarta. Kami ingin tampil dengan tim yang representatif.'
Dua Misi
Iman Arif membawa dua misi. Utamanya mencari pemain dan kemungkinan juga pelatih dari Belanda.
"Pekan depan saya di Belanda. Dan berharap bisa menemukan para pemain keturunan yang bisa memperkuat timnas Indonesia. Kami sedang sibuk menata daftar pemain berdarah Indonesia. Kemudian juga seorang pelatih Belanda," katanya kepada VI paroh September.
80 Nama
Ketua BTN itu mengatakan punya daftar sekitar 80 nama pemain keturunan Indonesia. Kalau bisa mengumpulkan begitu banyak nama, maka bukan saja keturunan Indonesia tetapi juga Suriname-Jawa dan Maluku.
Nama yang mencuat Cayfano Latupeirissa yang merumput di klub Liga Utama, NEC Nijmegen, Dominggus Lim-Duan di FC Zwolle, Edwin Soenarto FC Volendam, Michael Timisela VVV-Venlo, Oliver Rifai di Jong AZ Alkmaar dll.
Irfan Bachdim
Untuk pertama kali sejak 2006, media dan publik Belanda kembali giat mengikuti perkembangan sepakbola Indonesia. Empat tahun lalu publik Belanda marak memberitakan tim muda Indonesia yang berlatih di Belanda bersama Foppe de Haan, selama lima bulan. Tapi pelatih kondang Belanda ini tidak mampu mengantar sukses U-23 di Asian Games Qatar 2006.
Ketika itu Indonesia untuk kali pertama berkenalan dengan fenomena blasteran. Bakat keturunan Malang-Belanda berpaspor Indonesia, Irfan Bachdim, sempat latihan bersama di Timnas U-23. Sayang Irfan absen di Qatar karena cedera.
Urutan Terbalik
Iman Arif sebaiknya mencari pelatih dulu baru pemain. Mendapat pelatih asal Belanda tidaklah sulit. FIFA tidak melarang pelatih asing menukangi timnas Indonesia.
Merayu pemain-pemain keturunan yang tidak punya 'ikatan' emosional akan lebih sulit. Dan makin parah lagi merekrut pemain keturunan yang secara emosional dan politik tidak suka dengan Indonesia.
Ganjalan paling heboh lagi adalah masalah kewarganegaraan. Tapi itu bisa dibicarakan kemudian, yang penting sekarang adalah motivasi dan emosi.
Maluku Peka
Seperti diungkap Cayfano Latupeirissa, sayap NEC keturunan Maluku yang baru menjajal rumput liga utama de Eredivisie pada pertandingan NEC-Herenveen 28 Agustus lalu. Omroep Gelderland menurunkan kabar Cayfano Latupeirissa membaca di internet bahwa Indonesia berminat padanya. Walaupun belum mendengar langsung dari PSSI tapi ia menyatakan terbuka.
"Saya baca di internet, tapi belum ada kontak langsung," kata Latupeirissa kepada Omroep Gelderland sambil menambahkan. "Mengingat saya berlatar belakang Maluku, situasinya agak peka. Tapi kalau mereka minati saya, selalu bisa dibicarakan. Tentu saja saya akan berpikir dengan baik dan minta nasihat ayah."
Emosi Sejarah
Masalahnya mungkin terletak soal emosi sejarah, orang Maluku generasi pertama dan kedua masih punya rasa kegetiran soal Indonesia. Tapi sebagai generasi ketiga tampaknya Cayfano sendiri tidak terlalu masalah. "Saya bisa main untuk Indonesia, walaupun saya pernah bermain di timnas junior Belanda."
Emosi sejarah Maluku tidak bisa dikesampingkan. Mereka merasa dikorbankan oleh Belanda dalam 'kemerdekaan Indonesia.' Emosi itu masih menggelayuti generasi tua. Nah mengingat permasalahan itu alangkah baiknya kalau prioritas tim BTN pimpinan Iman Arif itu dibalik. Pertama cari pelatih dulu, baru merekrut pemain.























Rms apa..sudah kgak gaul cing..Mas..mas mau jadi apa kamu...sesat.
Sudah lupakan sejarah yang lalu,, yang penting sekarang kita bersatu untuk sepak bola Indonesia. Maluku itu bagian dari Indonesia,Indonesia itu bagian dari maluku.
VIVA INDONESIA VIVA MALUKU
Maluku itu RMS, RMS itu Maluku.
Itu satu yang tak bisa dipisahkan.
Indonesia kasian banget menjilat ludah sendiri, makan muntah sendiri.
udah bkin susah Orang Maluku, skarang mau ambil hati pura2 baek tawarin jadi Pemain Timnas.
Politik apalagi hei Jawa Indonesia..!????
Katax pendudukmu no. 5 terbanyak di dunia, masa untuk cari 11 orng untuk bermain bola susah banget. Akhirnya mengorbankan sejarah yang pahit, yang masih terasa sampe generasi Maluku sampai kapanpun.
Viva RMS...
Mena Muria.
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.