Karena tidak puas dengan kebijakan bank sperma, Ed Houben dari Maastricht, Belanda Selatan, sudah sepuluh tahun menjadi pendonor sperma. Ia mendukung agar sang ibu dan anak tahu siapa yang membantu mereka. Jadi si pendonor tidak lagi perlu anonim. Sekarang, Houben telah menjadi ayah biologis 87 anak.
Tahun 2004 berakhirlah donasi anonim sperma melalui bank sperma Belanda. Laki-laki secara massal mengundurkan diri, tapi Ed Houben (43) memilih jalan lain. Ketika itu seorang kenalannya ingin sekali punya anak. Mereka sudah berusaha melalui klinik tapi gagal, dan IVF terlalu mahal.
Siapa yang ingin menjadi pendonor sperma melalui klinik, harus melakukan itu, kata Houben. Tapi ia menambahkan, “Banyak calon orangtua merasa tidak nyaman di klinik itu karena bersifat ‘dingin’ dan klinis. Orang menghargai jika tahu siapa yang bakal menjadi ayah biologis anak mereka.”
Saling percaya
Setelah berpikir berbulan-bulan, ia melakukan donasi pertama. Walaupun demikian ia masih sedikit ragu melihat kemungkinan dampak yuridis seperti tuntutan pertanggungjawaban untuk pendidikan si anak. Bagaimana pun juga Houben mendonasi tanpa kontrak, hanya berdasarkan rasa saling percaya.
“Anda bisa membiarkan hidup anda dibayangi ketakutan atau anda menunjukkan sikap berani, sama seperti para perempuan yang meminta bantuan saya. Mereka meminta bantuan orang yang tak dikenal lewat internet.”
Situs web Ed Houben biasanya menjadi tempat untuk mengadakan kontak pertama. Kadangkala tidak ada yang datang selama beberapa bulan, tapi pada kesempatan yang lain ada tiga peremuan yang datang pada hari yang sama.
Setelah beberapa e-mail dan percakapan telepon, ada pertemuan langsung. Mereka yang berminat berasal dari seluruh dunia. Semakin sering para calon orangtua mengunjungi Houben di Maastricht. Tapi Houben sendiri juga mengunjungi mereka di luar negeri.
Hidup tidak sehat
Houben juga menolak permohonan. “Ini bukan pekerjaan saya, saya tidak digaji untuk itu: saya tidak wajib membantu semua orang yang meminta bantuan.”
Ia menolak orang yang tidak hidup sehat, merokok atau memakai narkoba. “Saya rasa gaya hidup tidak sehat merupakan salah satu bahaya paling besar untuk masa depan anak.” Obesitas juga termasuk di dalamnya, walaupun Houben sendiri juga tidak termasuk kategori orang langsing.
Dalam separuh kasus, calon orangtua memilih hubungan seks sebagai cara alami untuk membuat anak. Tapi bagi si pendonor sperma dari Maastricht, hal itu tidak menjadi syarat untuk menyumbang sperma. “Itu tidak pernah menjadi syarat saya.”
Perempuan selalu ditawarkan inseminasi buatan dengan disuntik. Terutama pasangan hetero tidak menyukai hal ini. “Mereka berkata: kami kehilangan rasa intimitas yang kami harapkan bisa kami ciptakan dalam proses membuat anak.”
Bentuk keluarga
Houben menyetujui menyumbang sperma jika ia merasa seorang anak bisa hidup bahagia dalam keluarga. Ia mendonasi untuk perempuan single dan lesbian atau pasangan hetero. “Secara prinsip saya merasa bahwa semua bentuk keluarga itu bisa memberi kans bagi seorang anak.”
Houben kini menjadi ayah biologis 87 anak dan ada beberapa lagi yang bakal dilahirkan. “Saat ini, jika Tuhan mengizinkan, lima anak lagi akan dilahirkan.”
Jika di Belanda, seorang anak dari pendonor sperma menginjak usia 16 tahun, ia boleh tahu siapa ayahnya. Tapi menurut Houben seorang anak selalu berhak mengetahui siapa ayahnya, berapa pun usianya. Karena itu ia menyelenggarakan pertemuan tahunan untuk anak-anaknya dan orangtua mereka.
Anak bahagia
Houben tidak memperdulikan ungkapan orang bahwa ia hanya mementingkan seks atau hanya bertujuan membuat anak. “Saya dapat membayangkan betul bahwa tidak semua orang sependapat dengan saya, tapi hingga sekarang saya belum melihat orangtua dan anak yang tidak bahagia.”
Ia yakin akan misinya: “Saya pikir adalah kewajiban semua orang untuk, satu kali dalam hidup, berbuat suatu hal positif untuk orang lain tanpa imbalan.”
Walaupun demikian, pria 43 tahun ini sebenarnya ingin menghentikan kegiatan ini. Ia tidak punya kehidupan pribadi lagi. “Anda harus mengikuti metoda penanggalan berdasarkan siklus dari sepuluh hingga lima belas orang per bulan. Anda tidak lagi bisa ikut ritme sendiri. Itu makin sulit, saya tidak mampu melakukan itu bertahun-tahun.”
*Wawancara terbaru dengan majalah mingguan Jerman, Der Spiegel: http://www.spiegel.de/international/europe/













Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.