Gamelan terus melanjutkan pengaruhnya pada musik barat. Bukan saja komponis Prancis Claude Debussy yang kena pengaruh dan bukan hanya gamelan Sunda yang menyebar pengaruh.
Terilhami gamelan, komponis Prancis Claude Debussy [1862-1918] meninggalkan jejak yang bukan saja tak terhapuskan, tapi juga tak terhindari lagi dalam sejarah musik barat. Supaya tidak dicap ketinggalan zaman, pembaruan itu harus diikuti.
Maka komponis Prancis ini mulai mendapat pengikut. Beberapa komponis mengikuti jejaknya, dengan, antara lain, memasukkan unsur-unsur gamelan pada karya mereka.
Lebih besar
Tentu saja bukan hanya gamelan Sunda yang berpengaruh. Menyusul gamelan Sari Oneng yang meramaikan Exposition Universelle (pameran semesta) tahun 1889 di Paris, tahun 1931 giliran jatuh pada gamelan Bali. Saat itu di ibukota Prancis ini berlangsung Exhibition Coloniale Internationale atau pameran kolonial internasional.
“Pada pameran itu Bali terwakili baik pada corak arsitektur pavilyun Belanda, maupun para penari dan penabuh gamelannya,” tutur sejarawati Belanda Marieke Bloembergen. Para penari dan penabuh gamelan berasal dari desa Peliatan, dekat Ubud. Mereka dipimpin oleh Tjokorda Soekawati, pemuka masyarakat Ubud yang juga anggota Volksraad, DPR di zaman Belanda.
Kembali publik Paris terpesona, mereka berduyun-duyun mendatangi pameran ini. Bloembergen menduga jumlah pendatang lebih besar ketimbang pendatang pada pameran semesta 1889. Para pendatang itu termasuk dua orang komponis, komponis Prancis Francis Poulenc [1899-1963] dan komponis Kanada Colin McPhee [1900-1964].
Mozart melenggok Bali
Karya utama Poulenc yang sangat bernafaskan gamelan adalah konser untuk dua piano dalam D minor, ciptaan tahun 1932. Konser ini terdiri dari tiga bagian, Allegro ma non troppo, Larghetto dan akhirnja Allegro molto. Dua kali hentakan pada pembukaan langsung diikuti hembusan nafas Bali, baru sesudah itu terdengar kelincahan dan kejenakaan Mozart. Kadang-kadang masih diselingi musik Afrika. Gaya Mozart ini begitu kentara di bagian kedua yang lambat, Larghetto. Tapi warna Afrika, jazz dan Bali kembali terdengar di bagian tiga. Tentu saja nafas utamanya tetap Mozart. Tak pelak lagi, dalam konser untuk dua piano ini Poulenc mendandani Mozart dengan lenggak-lenggok Bali.
Motif gamelan Bali dalam satu karya Poulenc lain tidak sejelas konser untuk dua piano itu. Bagian pembukaan opera pendek surealis Les Mamelles de Tirésias (Payudara Tirésias), ciptaan tahun 1947, terdengar nafas pentatonisnya. Sekitar menit keenam bagian ini, diakhiri dengan thema gamelan Bali.
Selain menyaksikan gamelan Bali di Paris, komponis Kanada Colin McPhee juga menetap di Bali, persisnya di desa Sayan, dekat Ubud, antara tahun 1931 sampai 1938.
Ia jatuh cinta pada gamelan Bali, dan selama hidupnya hanya bergelut dengan musik ini. Ia menulis buku tentang gamelan Bali dan juga menciptakan karya-karya musik berdasarkan gamelan Bali serta gamelan Jawa.
Struktur kothèkan
Menurut Ernst Heins, pakar gamelan di Belanda, dengan penelitian mendalam, Colin McPhee telah membuka gamelan Bali untuk dunia. Walau demikian, Heins tidak yakin McPhee waktu itu ikut main gamelan, duduk di tanah bersama-sama orang Bali. Jarak antara orang kulit putih dengan pribumi waktu itu masih terlalu jauh.
Karya Colin McPhee yang paling terkenal adalah Tabuh-Tabuhan, toccata untuk orkestra dan dua piano yang diciptanya tahun 1936, ketika sedang berkunjung ke Meksiko. Gubahan ini terdiri dari tiga bagian, bagian pertama Ostinato - Animato, bagian kedua Nocturne - Tranquilo dan bagian ketiga, Finale - Quieto e misterioso.
Jelas ini struktur komposisi barat, bukan struktur gamelan Bali. Ernst Heins memperingatkan, walaupun terdengar sebagai gubahan Bali, Tabuh-tabuhan tidak dimainkan oleh instrumen tradisional Bali, semua dimainkan oleh instrumen barat. Struktur gamelan Bali hampir tidak ada pada karya ini, yang terdengar adalah warna suara atau tangga nada, larasnya. “Tapi struktur kothèkan belum ada,” tegas Heins.
Kenyataan ini bukan merupakan keberatan bagi I Wayan Rai, seorang pakar gamelan Bali. “Colin McPhee itu mentransfer gending-gending Bali ke dalam instrumen musik Barat,” tegasnya. Itu jelas merupakan suatu pembaruan, terobosan yang luar biasa, tambahnya. Mendengar Tabuh-Tabuhan, Wayan Rai merasa bangga. “Berarti musik Bali diperhatikan oleh orang Barat!” tandasnya.
Dia tidak merasa karya McPhee itu telah merusak tradisi Bali. “Itu sah-sah saja sebagai sebuah karya seni,” katanya. Bagi pemusik Guruh Soekarno Putra, apa yang dilakukan oleh Colon McPhee ini pantas dijadikan teladan oleh pemusik Indonesia.
Pangeran Pagoda
Dari Francis Poulenc lewat Colin McPhee, seseorang akan sampai pada komponis Inggris Benjamin Britten [1913-1976]. McPhee memperkenalkan musik Bali pada Britten. Mereka bertemu di New York pada tahun 1940an, semasa Britten hidup dalam pengasingan karena, sebagai penganut pasifisme yang anti perang, dia menolak wajib militer selama Perang Dunia Kedua.
Waktu itu mereka berdua juga sempat merekam transkripsi piano McPhee atas beberapa motif gamelan Bali. Setelah perang Britten bertemu Poulenc dan keduanya tampil sebagai solis pada pementasan konser untuk dua pianonya Poulenc di Albert Hall, London, pada tanggal 16 Januari 1955.
Setahun kemudian, pada tahun 1956, bersama pasangan hidupnya, penyanyi bersuara tenor Peter Pears, Benjamin Britten mengadakan perlawatan ke Timur jauh. Mereka berada di Bali mulai tanggal 12 sampai dengan 25 Januari 1956. Dari perlawatan ini paling sedikit lahirlah dua karya musik yang berwarna Bali. Itulah The Prince of The Pagodas, musik balet dengan motif Bali di sana-sini serta opera Death in Venice yang kental warna Balinya.
Sejak itu gamelan Bali dan Jawa telah merupakan bagian integral khazanah musik dunia. Selain Claude Debussy, Francis Poulenc, Colin McPhee dan Benjamin Britten, makin banyak saja komponis yang menyertakan unsur gamelan pada musik mereka.
Komponis-komponis seperti Leopold Godowsky [1870-1938], Sir Michael Tippett [1905-1998], John Cage [1912-1992], Steve Reich [1936], Lou Harrison [1917-2003], Douglas Young [1947], Olivier Messiaen [1908-1992] dan seterusnya mencipta karya-karya yang terpengaruh gamelan.














Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.