Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Avatar Heleen Sittig
Map
Amsterdam, Belanda
Amsterdam, Belanda

Pionir Budaya Mengisi Baterai di Belanda

Diterbitkan : 29 Mei 2011 - 10:31am | Oleh Heleen Sittig (Foto:Shahidul Alam)
Diarsip dalam:

Para pionir budaya Cina, Kolombia, Bangladesh dan Rwanda ini mendapat sokongan dari yayasan Prins Claus Fonds Belanda untuk pekerjaan mereka yang seringkali beresiko tinggi. Minggu lalu mereka tiba di Amsterdam untuk mengisi tenaga. Laporan Heleen Sittig.

"Mereka adalah para individu dan organisasi pemberani yang bekerja dalam kondisi sulit," kata direktur Prins Clausfonds Christa Meindersma. Dana ini dinamai sesuai almarhum suami Ratu Beatrix. Mereka bertemu setahun dua kali, misalnya di Bolivia, Suriah atau Bangladesh. Kali ini mereka bertemu di Belanda untuk menjalin kontak, berbagi ide dan inspirasi.

Shahidul Alam, Drik (Bangladesh): Pamerannya Boleh Buka Sehari
Shahidul Alam adalah salah seorang figur penting dalam kebudayaan Bangladesh. Bersama organisasinya, dia memberi pelatihan fotografi tersohor di negerinya. Selain itu dia pernah disurati pemimpin Bangladesh. Bahkan dia tidak bergeming ketika diberi kesempatan memotret sang perdana menteri untuk sampul majalah Time.

Belum lama ini Alam menarik banyak perhatian atas proyeknya Crossfire. "Dengan Crossfire, kami menunjukkan kenyataan tentang eksekusi tanpa pengadilan. Di Bangladesh, hal ini dilaksanakan Rapid Action Batallion, semacam kelompok pejuang. Kami mencoba menggambarkan kegelapan dan ketakutan yang dirasa para korban." Pemerintah melarang pamerannya, tapi setelah protes massal, akhirnya diijinkan buka walau hanya untuk satu hari.

Carlos Jiménez Holguín, Museo de Antioquia (Colombia): Menampilkan Orang-orang Terlupakan

Jiménez Holguín adalah karyawan museum kota Medellin. Dia memulai sebuah proyek yang melibatkan para penduduk kawasan Comuna1. Para karyawan museum terjun ke kawasan, membuat rekaman suara dan video dari para penududuk, mengumpulkan foto-foto tua dari guntingan koran dan mendokumentasikan sejarah kawasan tersebut. "Dengan proyek ini kami menampilkan kembali sejarah orang-orang terlupakan. Mereka ini orang-orang yang biasanya cuma kita dengar di berita-berita tentang kejahatan atau kekerasan," kata Jiménez Holguín.

Tampaknya proyek Jiménez Holguín bertutur tentang rasa hormat atas diri sendiri. "Rencana awal saya bukan itu maksudnya, tapi yah memang proyek ini memberi rasa bahwa mereka juga bagian dari sejarah." Oleh sebab itu pameran pertamanya diberi titel 'Yo soy patrimonio' (Saya adalah warisan).

Odile Gakire Katese (Rwanda) : Makan Es Krim Sambil Mimpi Indah

Rwanda dilukai genosida tahun 1994. Dengan latar belakang tersebut Gakire Katese mendirikan pelbagai festival budaya dan sebuah kelompok tari serta kelompok perkusi perempuan. Rwanda juga merupakan sebuah negara yang jadi model rekonsiliasi.

"Ini adalah negara penuh keajaiban: genosida adalah suatu hal yang tidak bisa dicerna, dan tingkat pengampunan yang ada saat ini juga sulit dimengerti. Saya terima saja itu, sebagai mukjizat. Di Rwanda, pelaku dan korban hidup berdampingan. Kami berbagi semuanya, ya negara,ya budaya. Kami tidak punya pilihan, kami harus melanjutkan hidup bersama."

Dengan kelompok perkusi perempuannya, Gakire Katese mendirikan sebuah toko es krim yang dinamai Mimpi Indah. Tidak cuma untuk membantu menyediakan lapangan kerja bagi para anggotanya, tapi juga karena orang Rwanda juga membutuhkan kenikmatan sepele seperti makan es krim.

Defne Ayas, Art Hub Asia (Shanghai): Anda Tidak Pernah Tahu Apa yang Diijinkan Sensor

Ayas, seorang keturunan Turki, bekerja di Art Hub Asia, organisasi yang mempromosikan seni kontemporer di Cina dan negara Asia lain.

"Sebenarnya Anda baru bisa mengerti dunia jika Anda bisa mengerti Cina. Seni kontemporer di sana sangat dinamis. Di satu sisi, kontak dengan dunia seni internasional semakin erat namun di sisi lain, hasil karya seni Cina semakin sering disentil."

Internet adalah salah satu elemen terpenting dalam budaya Cina masa kini, kata Ayas. "Kendati ada sensor. Jika Anda ingin mengerti Cina, Anda tidak bisa melihat sensor dan politik secara hitam putih. Anda tidak pernah tahu sebelumnya apa yang bakal disensor apa yang bakal lolos. Kadang Anda pikir: Hmm sepertinya ini isu yang sensitif, tapi ternyata tidak ada masalah sama sekali. Kadang sensor malah dijatuhkan atas hal-hal yang sama sekali tidak Anda duga. Ini bisa juga karena alasan estetis. Bisa saja badan sensor menganggap sebuah karya seni jelek. Tapi para seniman independen sering tidak bertingkah sewajarnya."

Bagaimana dengan seniman Ai Weiwei yang sekarang mendekam di tahanan? "Dalam kasusnya, banyak seniman Cina yang beranggapan Ai Weiwei sudah melangkah terlalu jauh. Dengan cara protesnya mungkin dia dipandang sebagai pahlawan di Barat, tapi di Cina tidak banyak seniman yang mendukungnya. Berkat dia, kita bisa lihat sisi gelap Cina. Tak apa-apa, karena tiap negara toh punya sisi gelap."

Lihat foto-foto di sini.
 

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET