Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Senin 13 Februari RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Enter a description of the photo here
Avatar Prita Riadhini
Map
Surabaya, Indonesia
Surabaya, Indonesia

Pinjaman Mikro Tak Ubah Hidup PSK

Diterbitkan : 13 Januari 2010 - 4:18pm | Oleh Prita Riadhini
Diarsip dalam:

Menjadi Pekerja Seks Komersial atau PSK bukanlah impian mayoritas perempuan. Alasan utama yang paling banyak muncul adalah alasan ekonomi.

Upaya terus dilakukan agar para PSK keluar dari lingkaran kesulitan keuangan. Namun sayangnya bantuan itu kadang terhambat dengan birokrasi pinjaman bank yang berbelit.

Malam menyelimuti kota Surabaya, namun semakin malam, suasana di lokalisasi Tambak Asri semakin meriah. Wilayah Tambak Asri adalah salah satu wilayah pelacuran tertua di Surabaya. Berdiri tahun 1959. Sampai saat ini ada sekitar 400 PSK yang tersebar di 44 Rukun Tetangga. Masyarakat biasa dan para PSK di Tambak Asri hidup secara berdampingan.

Rumah-rumah keluarga biasa dan rumah bordil berjejer di sepanjang jalan yang lebarnya delapan meter. Kebanyakan tamu dan para PSK yang mencari nafkah di Tambak Asri adalah warga golongan kelas bawah. Akibat lesunya pengunjung, maka banyak PSK yang berupaya mencari jalan lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Contohnya adalah Syamsiah.

Upaya Syamsiah mendapatkan pinjaman terbentur birokrasi bank. Untuk meminjam uang di Bank Rakyat Indonesia, syaratnya harus memiliki Kartu Tanda Penduduk dan menyediakan agunan. Keduanya tidak dimiliki Syamsiah. Untunglah mucikarinya, Suminah bersedia meminjamkan uang untuk memulai usaha yaitu warung kopi dan rokok. Warungnya berada persis di pinggir jalan utama Tambak Asri.

Syamsiah: Saya jarang dapat tamu, maka saya buka warung kopi. Karena sudah lama ikut germo ini maka saya dipinjamkan uang. Dulu dipinjami tiga juta untuk buka warung kopi, rokok, ya keperluan di wisma (bordil--red). Pinjaman itu berjalan sudah sekitar sembilan hingga sepuluh bulan. Bayar per bulan sekitar 180 ribu rupiah. Kalau ga ada tamu saya jualan, sebaliknya kalau warung sepi ya saya cari tamu.

Syamsiah bersusah payah membanting tulang untuk membayar kredit yang diberikan oleh mucikarinya. Namun upayanya itu kadang menemui jalan buntu. Jika tak dapat melunasi hutangnya maka dengan kebaikan hati Suminah, mucikarinya, Syamsiah bisa menunggak hingga bulan berikutnya.

Suminah sang mucikari mendapat dana sebanyak itu atas pinjaman bank BRI dengan jaminan sertifikat rumah. Alasan Suminah meminjamkan uang karena Syamsiah adalah PSK yang paling setia ikut dengannya. Syamsiah tadinya melihat ada prospek yang baik dengan membuka warung kopi, minum dan rokok di daerah remang-remang tersebut.

Syamsiah: Di situ ada lokasi di depan teras wisma kan lebar. Terus di dekat situ juga ada yang jualan nasi goreng. Terus ibu saya (Suminah) bilang daripada melacur sepi, lebih baik buka warung di sini aja kan bisa.

Semua barang kebutuhan warung dibeli Syamsiah dari distributor yang terletak dekat tempat tinggalnya. Meski harga di distributor boleh dikata agak miring, namun warung Syamsiah masih sepi pengunjung.

Jual Kerudung
Lain lagi kisah yang dialami Tarti. Perempuan bertubuh bongsor tersebut juga berusaha mencari jalan  keluar dari profesi PSK. Di siang hari ia berjualan kerudung perempuan. Di siang panas bolong ia berkeliaran keluar masuk kampung menawarkan dagangannya, dengan menjinjing tiga kantong tas plastik berukuran besar.

Modal untuk berjualan kerudung didapat Tarti dari Tukul Bintoro, lelaki beristri yang sibuk dengan Pokja untuk para PSK sebanyak tiga juta rupiah. Alasan menjual kerudung karena sasaran khususnya adalah anak kecil yang sering mengaji. Tarti tidak menarik keuntungan banyak dari kerudung jualannya. Biasanya ia hanya untung sekitar dua hingga tiga ribu rupiah.

Tarti: Aku ambil sama orang dan menjualnya lagi. Tangan kedua. Makanya keuntungannya itu tipis. Dari situ kadang-kadang aku beli 8 ribu rupiah, aku ambil untung 2 ribu rupiah. Di situ beli lima ribu, aku jualnya delapan ribu rupiah. Ambil untung dikit-dikit yang penting jalan.

Tarti beruntung. Ia mendapat keringanan yaitu dapat mengembalikan jika mampu, tidak ada bunga dan tidak ada ketentuan. Kebetulan Tukul Bintoro dan istrinya memiliki tabungan. Oleh sebab itu ia tidak dipusingkan untuk urusan bank.

Bekerja sebagai PSK merangkap penjual kerudung tidak membuat Tarti malu. Stigma bahwa ia adalah seorang PSK tidak bisa dilepaskan begitu saja. Namun Tarti memiliki keinginan kuat untuk lepas dari pekerjaan PSK. Omongan orang tidak dihiraukannya.

Tarti: Ya pasti ada yang ngomong gini: Itu orang kerja di depan (pelacur--red) sekarang jualan kudung. Tapi orangnya ga mau mengatakan langsung. Tapi cuma itu saya masukkan ke telinga sini, saya buang lagi ke telinga yang lain. Saya kepingin ga kerja gini lagi.

Koperasi PSK
Birokrasi berbelit dan syarat yang berat untuk berhutang ke sebuah bank menjadikan Soebandi, wakil ketua RW Tambak Asri memikirkan cara lain agar para PSK di tambak Asri dapat meningkatkan taraf hidupnya.

Soebandi: Kebanyakan PSK tidak punya KTP dan jaminan. Oleh karena itu kami menggalakkan menabung bagi para PSK dan mucikari. Tujuannya kalau tabungan sudah besar, PSK bisa memanfaatkannya untuk modal kerja. Sampai saat ini sudah 190 an PSK yang menabung. Ini sebagai embrio untuk mendirikan koperasi khusus PSK dan mucikari.

Namun keinginan dan cita-cita mulia tampaknya akan mengalami benturan seperti dikatakan oleh Hargandono, Kepala Staf Dinas Rehabilitasi Sosial Jawa Timur.

Hargandono: Itu ide yang bagus. Tapi tujuan kita akan mengurangi jumlah pelacur. Jadi nanti kalau kita berdayakan dengan modal koperasi pelacur. Maka imagenya, pemerintah akan tumbuh kembangkan pelacuran. Itu bukan pekerjaan di republik ini kan?

Untuk mendengar laporan selengkapnya, silahkan klik di bawah ini:
 

  • ©
  • ©
  • ©
  • ©
  • ©
  • ©
  • ©

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Pecandu Narkoba Polandia Balik ke Negaranya
Orang Polandia di Belanda yang kecanduan alkohol dan narkoba, akan...
Amsterdam, Taman Ria bagi Wisatawan
Penduduk Amsterdam menghadapi pilihan berat. Warga yang tinggal di pusat...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET