Seniman Libya, Ali Fates, punya misi: menghidupkan kembali budaya Berber. Sudah bertahun-tahun ia tak punya kewarganegaraan di negerinya sendiri. Pemerintah menyita dokumen-dokumennya ketika ia menolak bernyanyi untuk pemimpin Kadaffi. Laporan Mohamed Amezian.
Penyanyi muda ini melarikan diri ke Belanda dan menerima status pencari suaka. Ali Fates (25) tidak sengaja memilih Belanda. "Ini karena keadaan. Bagaimana pun juga, saya harus pergi dari Libya." Dua adiknya masih ada di sana.
"Sangat menyakitkan untuk meninggalkan mereka. Semoga saja, apa yang terjadi di Tunisia, bisa terjadi juga di Libya. Kalau sampai terjadi, saya akan segera pulang ke Libya."
Ketertarikannya terhadap budaya Berber tumbuh ketika ia mendengar Ider - penyanyi terkenal dari Aljazair - bernyanyi. Sebelum terjun sebagai penyanyi, Ali Fates memulai karier sebagai penulis lagu untuk penyanyi Berber lain. Ia belajar main gitar di jalanan.
Mengapa ia menyanyi dalam bahasa Tamazight - bahasa asli kaum Berber? "Itu hak saya," katanya. Karena prinsip, ia menolak bernyanyi dalam bahasa Arab.
Festival
Prinsipnya tersebut ditentang pemerintah Libya, karena rezim di sana memiliki ideologi Arab. Pada 2006, bersama band-nya Oessane, Ali Fates diundang untuk ikut serta dalam festival budaya Berber di Tanger, Maroko Utara. Ini adalah awal penangkapan Ali dan band-nya.
Pemerintah Libya menarik paspor mereka.
Pada penangkapan sebelumnya, Ali Fates diminta menandatangani 'perjanjian'. Dalam perjanjian itu, salah satunya tertulis bahwa ia "tak akan lagi" bernyanyi dalam bahasa Tamazight dan akan bernyanyi untuk pemimpin Libya, Muammar Khadaffi. Sebagai gantinya, paspornya akan dikembalikan.
Tawaran itu ditolaknya.
Agen rahasia
Menurut rezim Libya, Berber "tidak ada."
"Perlakuan terhadap seniman Berber sangat memprihatinkan. Saya pernah mencoba merekam lagu di sebuah studio di Tripoli, namun pemilik studio langsung menerima peringatan dari pemerintah."
Intimidasi
Seniman Berber mempromosikan karya mereka lewat jalur-jalur khusus. Ali Fates menceritakan, itu bisa terjadi dengan "ponsel, kaset dan komputer. Di rumah, kami bisa buat studio sendiri. Kami telah mencoba segalanya, namun intimidasi pemerintah membuat hidup seniman Berber sulit."
Ali Fates lega, tahun ini di Belanda, ia bisa mulai pendidikan integrasi. Karier bernyanyinya juga ingin ia teruskan. Dengan dua pemuda Belanda, ia membentuk grup musik. Belum lama ini, ia sudah manggung di Belanda dan Belgia.
Cinta
Di Libya, ia bernyanyi soal cinta dan kehidupan sehari-hari, namun sekarang, lagu-lagunya terutama menyoroti situasi politik di negaranya. Ia seringkali mempersembahkan lagu-lagunya untuk para tahanan politik di sana. "Di Libya ada penyanyi Berber yang sangat terkenal, tapi ia sudah lima tahun dipenjara."
Walau hidup "dalam pengasingan" Fates coba kembali menghidupkan budaya Berber. "Saya punya pesan yang ingin saya sampaikan. Saya ingin menghidupkan kembali budaya yang terancam ini."

























Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.