Giovanni van Bronckhorst pasti sudah bermimpi bisa mengangkat piala emas seperti yang dilakukan kapten Italia, Fabio Cannavaro, empat tahun silam. Ketika itu kesebelasan Italia sebenarnya membawa piala itu ke "rumah".
Piala itu dibuat hampir empat puluh tahun lalu di Milan. Setiap empat tahun replika itu dilapis emas.
Wartawan Radio Nederland, Angelo van Schaik mengunjungi perusahaan yang membuat piala FIFA. Sulit sekali menemukan pabrik GDE Bortoni di kawasan industri di Milan utara. Nama pabrik tidak tercantum pada papan petunjuk jalan.
Memang tertulis pada papan di depan pabrik, namun hampir tak kelihatan karena huruf-hurufnya kecil. Bangunan bewarna coklat itu dikelilingi pagar.
Ruang harta
Namun begitu masuk gedung, suasananya berbeda. Perusahaan kecil dengan hanya sepuluh karyawan itu ternyata merupakan tempat penyimpanan harta. Giorgio Losa direktur perusahaan, membawa wartawan RNW ke ruang harta.
Mereka melewati sejumlah lemari kaca yang di dalamnya terpajang semua medali dan piala yang pernah dibuat. Dari medali Olimpiade Roma tahun 1960, sampai piala untuk kompetisi sepak bola Saudi serta Piala Champions.
Di atas meja di tengah ruangan terpajang tiga eksemplar yang menjadi kebanggaan perusahaan tersebut: yakni piala dunia FIFA. Satu terbuat dari lilin dan bewarna merah, yang kedua dari gips putih dan di sampingnya piala asli dari emas.
Seperti bocah kecil di toko permen, hati sang wartawan mulai berdebar. "Permisi". Anggukan ramah Giorgio Losa sudah cukup untuk melakukan apa yang diimpikan setiap pemain sepakbola: mengangkat trofi Piala Dunia.
Piala cukup berat. "Sekitar enam kilogram", kata Giorgio Losa.
"Piala yang asli terbuat dari lima setengah kilogram emas 18 karat. Replika resmi ini terbuat dari logam dan dilapis emas. Bersama dengan bagian bawahnya dari marmer hijau, berat totalnya sekitar enam kilogram."
Tanpa piala
Ketika tahun 1970 Brasil untuk ketiga kali menjadi juara dunia sepak bola, trofi ketika itu, yakni Piala Rimet, definitif diserahkan ke Brasil sehingga FIFA tak punya piala lagi. Hal yang sama menimpa Brasil, karena tahun 1983 Piala Rimet dicuri dan tak pernah ditemukan lagi hingga sekarang.
Setelah Piala Dunia 1970 FIFA mengadakan lomba mendesain piala baru. Desain Silvio Gazzaniga, yang bekerja di GDE Bortoni keluar sebagai juara. Ayah Giorgio Losa diizinkan memproduksi piala atas nama FIFA.
"Piala menggambarkan dua atlet pada saat kemenangan. Mereka berdiri di atas dasar yang terbuat dari marmer hijau, yakni lapangan sepak bola, dan dengan tangan terentang mengangkat bola dunia."
Piala tidak diasah halus, namun sengaja dibuat kasar. Pemain sepak bola pertama yang mengangkat trofi baru adalah Franz Beckenbauer di tahun 1974, setelah Oranje kalah final melawan Jerman.
Foto yang terpajang di ruang GDE Bortoni memperlihatkan kegembiraan kapten tim Jerman, serta di belakangnya wajah sangat kecewa Pieter van Vollenhoven, suami putri Belanda, Margriet.
Belanda
Pabrik terkesan berantakan dengan mesin pengasah, dan bak rendam cairan emas. Direktur Losa meminta salah satu karyawan melapis piala dengan emas. Ia berhati-hati mengangkat piala, menggantungnya pada kawat tembaga dan memasukkannya dalam bak rendam berisi cairan transparan.
"Ini disebut galvanisasi. Emas dilarutkan dalam larutan garam, sehingga lebih mudah lengket pada logam. Jika sudah kering, piala memiliki lapisan emas."
Piala kemudian dipoles.
Namun aslikah piala di stadion, ataukah salah satu replika?
"Piala yang diserahkan seusai pertandingan final adalah piala asli. Yang asli itulah diangkat para pemain di stadion. Setelah itu tim pemenang memperoleh replika, yang di dasarnya tertulis semua negara pemang Piala Dunia", ujar Losa.
Mungkin saja nantinya juga tercantum nama 'Belanda' di sana.














Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.