Peringatan 66 tahun kapitulasi Jepang digelar di berbagai tempat di Belanda. Yang terbesar dilangsungkan di Indisch Monument atau Monumen Hindia-Belanda, di kota Den Haag. 15 Agustus 1945 menandai akhir Perang Dunia II di Asia. Ribuan warga Belanda tewas atau mendekam di berbagai kamp Jepang dan ribuan warga Belanda lainnya bekerja sebagai romusha untuk Jepang. Demikian tulis Algemeen Dagblad dan Spits.
Perdana menteri Belanda Mark Rutte hadir dalam peringatan tersebut. Sang perdana menteri ternyata punya hubungan dekat dengan bekas koloni Belanda, Indonesia. Ayahnya pernah bertugas sebagawi wajib militer ke Hindia-Belanda dan ditahan di kamp Jepang. Yang menarik, banyak remaja yang hadir dalam peringatan ini. Dalam sambutannya, perdana menteri Rutte mengatakan, "Belanda harus tetap memperingati dan mengambil makna dari peringatan ini dan melanjutkannya ke generasi berikut."
"Pemerintah Den Haag selama bertahun-tahun tidak mempedulikan trauma para korban Perang Dunia II di Asia. Baru 40 tahun sesudahnya, Ratu Belanda Beatrix meresmikan sebuah monumen untuk para korban pendudukan Jepang. Mereka yang kembali dari Hindia-Belanda dengan trauma tidak pernah diberi kesempatan menceritakan pengalamannya. Ketika itu Belanda tidak bersimpati dengan mereka." Demikian Hans van der Hoeve, seperti dikutip situs Veluweland.nl














Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.