Perang cyber. Istilah yang seolah muncul dari masa depan. Dalam perang cyber bukan lagi tentara yang berperang, melainkan robot dari jarak ribuan kilometer. Gambaran yang tepat. Namun hal ini tidak terjadi di masa depan, melainkan masa kini.
Sudah lama serangan cyber dilancarkan. Pertama kalinya tahun 1982, ketika Amerika meledakkan pipa gas Uni Sovyet dengan mengutak-atik piranti lunak Uni Sovyet.
Sekarang seisi dunia terhubung dengan internet dan karena itulah serangan cyber jadi berkali lipat lebih mudah. Kees Homan, mayor jendral dari institut Clingendael, menyatakan bahwa berbagai negara pernah jadi target serangan cyber.
Contohnya, Estonia pada 2007. Selama berhari-hari situs pemerintah, partai politik dan bank-bank offline alias tidak bisa diakses. Serangan dimulai ketika pemerintah Estonia menyingkirkan patung dari zaman Uni Sovyet. Setahun kemudian infrastuktur internet Georgia lumpuh, tak lama sebelum Rusia menyerang negara itu.
Dalam kedua kasus tersebut, tidak jelas siapa yang berada di balik serangan. Menurut Homan, mungkin pelakunya adalah hacker yang dibayar oleh pemerintah Rusia.
Buta dan tuli
karena sekarang segalanya terhubung dengan internet, sangat mudah untuk menimbulkan kerusakan. Jika situs sebuah bank tidak bisa diakses selama beberapa hari, bank tersebut akan rugi besar dan mungkin kehilangan nasabah.
Namun yang lebih parah lagi, jika sistem kontrol pertahanan sebuah negara tidak bekerja, negara tersebut tidak akan sadar bahwa ada pihak yang akan menyerang. Yang terakhir ini, menurut Homan juga strategi penting dalam serangan cyber:
“Menurut saya, serangan cyber akan dipakai terutama sebagai force multiplier, atau cara untuk melipatgandakan kekuatan. Dipadukan dengan penggunaan tentara konvensional, seperti yang terjadi di Georgia. Dengan serangan cyber Anda bisa membuat lawan buta dan tuli. Itu akan sangat memudahkan serangan militer Anda.”
Terlihat seperti gambaran masa depan yang suram: hacker yang bisa dengan mudahnya masuk ke sistem komputer negara. Dengan pengeboman dan serangan militer sebagai akibatnya.
Amerika pasti telah menimbang-nimbang untuk merusak sistem pertahanan Libia, sebelum membombardir negara tersebut. Dan sejumlah ahli yakin, Cina memiliki ribuan tentara cyber yang sekarang sudah terus-menerus menyerang Amerika Serikat. Negara-negara kecil atau kelompok pemberontak juga bisa melakukan hal yang sama. Toh tidak semua orang menganggap serius ancaman tersebut.
Naif
Ahli keamanan Amerika dan penemu firewall, Marcus Ranum, berpendapat, sekelompok kecil tentara cyber tak akan bisa mengalahkan pengamanan sistem militer sebuah negara. Menurutnya, mengenai kekuatan, perang cyber tidak beda jauh dari perang konvensional.
“Aturan logistik dan strategi perang cyber tidak beda dengan perang biasa. Itu salah satu kekesalan saya dengan orang-orang yang menganggap perang cyber 'sederhana.' Mereka mengabaikan logistik yang dibutuhkan dan informasi yang harus dimiliki. Karena itulah saya kecewa dengan cara orang-orang melihat perang cyber. Mereka sangat naif,” kata orang Amerika ini.
Perang cyber, menurut Ranum, tidak akan berbeda jauh dengan perang biasa. Walaupun sekarang banyak negara sibuk menyusun protokol perang cyber, mulai dari aturan melumpuhkan jejaring komputer atau menularkan virus antar aparatur. Tidak semua protokol digunakan untuk bertahan, ada juga yang untuk menyerang.
Belanda juga memiliki protokol macam itu, kata Homan, sama seperti Amerika Serikat. Dan dengan begitu, perang cyber bukan perang masa depan, melainkan masa kini.





















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.