'Seorang perempuan memiliki bentuk seperti bidadari, hati seperti ular, dan otak seperti keledai'.
'Seorang laki-laki setua yang diarasakan, seorang perempuan setua parasnya'. 'Kalau kamu mencintai istrimu, maka kamu harus memukulnya'. Dan masih ada banyak lagi, yang semuanya tidak enak didengar.
Dari ribuan pepatah
Pepatah-pepatah itu diambil dari database berisi ribuan pepatah tentang perempuan dari seluruh dunia yang dikumpulkan dan dianalisa oleh seorang profesor Belanda, Mineke Schipper. Koleksinya itu mengilustrasikan betapa negatifnya perempuan digambarkan dalam pepatah. Mereka digambarkan sebagai orang bodoh, suka berbohong, jahat, dan berbahaya.
Profesor Schipper menuliskan semua penemuannya itu dalam sebuah buku yang berjudul 'Jangan pernah menikahi seorang perempuan dengan kaki besar', yang dipublikasikan oleh Yale University Press.
'Awalnya saya dibuat bingung karena ada begitu banyak pepatah yang negatif tentang perempuan dan begitu sedikit pepatah yang mencerminkan perspektif perempuan'. Demikian kata Mineke Schipper, profesor studi literatur antar budaya di Universitas Leiden. Ia mulai mengumpulkan pepatah dari berbagai negara ketika mempersiapkan bukunya yang lain tentang perempuan dan literatur. Penelitiannya menghasilkan sebuah database berisi 15.000 pepatah dan metafora dari ratusan negara, yang semuanya dianalisa dan dipilah-pilah dalam berbagai kategori. Mencengangkan sekali bahwa 4000 pepatah yang ada dalam bukunya itu memberi gambaran negatif tentang perempuan.
Ibu
Namun ada perkecualian, yaitu ibu. Ibu di mana-mana diagungkan. 'Ibu dicintai, dipuji, dan dijadikan contoh tentang bagaimana seorang perempuan itu seharusnya: murah hati, penuh kasih sayang, meladeni, tidak pernah meminta sesuatu untuk dirinya sendiri', demikian kata Profesor Schipper.
Bagi perempuan lainnya, selama mereka dapat memainkan peran ibu terhadap laki-laki di sekitar mereka, maka mereka akan digambarkan secara positip. Namun, apabila seorang perempuan menjadi hamil, maka ia akan segera dicurigai. Seorang laki-laki tidak akan pernah bisa yakin sepenuhnya bahwa ia adalah ayah dari anak bersangkutan. Ada pepatah Jamaica, yang juga ada dalam buku itu, yang berbunyi 'Nama ayah adalah rahasia si ibu'.
Menurut Profesor Schipper, ketakutan laki-laki merupakan penyebab utama dari semua sifat-sifat negatif yang dilekatkan pada perempuan dalam pepatah-pepatah itu. 'Ada pepatah yang benar-benar buruk. Dalam buku saya, ada satu bagian penuh mengenai kekerasan misalnya. Memukul istri menjadi cara untuk menunjukkan bahwa anda adalah pihak yang dominan dalam relasi,' katanya sambil menambahkan bahwa menggunakan kekerasan adalah tanda ketidakberdayaan dan kurangnya kemampuan lisan. Di seluruh dunia, pepatah mengilustrasikan kebutuhan laki-laki untuk merasa superior dari perempuan:
'Jangan pernah menikahi perempuan yang berkaki lebih besar dari kakimu sendiri', adalah pepatah yang berasal dari Mozambique dan Malawi, yang mengilhami judul buku saya. Tetapi saya juga menemukan pepatah serupa di Cina, di mana orang biasa berkata 'Seorang perempuan dengan kaki panjang akan berakhir sendirian di kamar'. Keduanya memiliki arti bahwa seorang perempuan yang memiliki banyak kemampuan merupkan ancaman bagi suami. Karena bagaimana mungkin suami berkuasa apabila istri memiliki banyak bakat?'
Padanan
Profesor Schipper menemukan bahwa sebagian besar pepatah memiliki padanannya di budaya yang berbeda.
'Antropolog selalu menekankan perbedaan dalam budaya, tapi saya menemukan banyak kesamaan. Contohnya, saya menemukan sebuah pepatah Inggris yang berbunyi, 'Seorang istri pergi dari rumah tiga kali dalam hidupnya: ketika dibaptis, ketika menikah, dan ketika meninggal'. Ada pepatah serupa di Iran dan Afganistan, 'Seorang perempuan meninggalkan rumah dua kali, ketika pergi menikah dan ketika telah dibungkus kain kafan'. Jada ada persamaan dan saya rasa ini didasrkan pada kenyataan bahwa manusia memiliki bentuk tubuh yang sama di seluruh dunia. Kita juga memiliki pengalaman dasar yang sama- dilahirkan, menikah, mati- dan kemungkinan besar hal ini juga menimbulkan ketakutan yang sama pula'.
Pepatah-petatah itu umumnya menunjukkan kepentingan laki-laki tapi ini tidak berarti bahwa perempuan tidak pernah mengutipnya.
'Di Kongo, di mana saya pernah tinggal, mereka mengatakan 'Makan dengan seorang perempuan ibarat makan dengan tukang sihir'. Kita tidak akan menduga bahwa perempuan akan mengutip pepatah ini, tapi pada kenyataannya pepatah yang satu ini sangat populer di kalangan ibu-ibu Kongo yang putranya hendak menikah. 'Calon istri merupakan orang asing bagi keluarga itu, ia bisa saja meracunnya atau menyihirnya. Anak laki-laki ini harus sangat berhati-hati. Di samping itu kepentingan yang dipertahankan, baik dari ibu maupun putranya, sama. 'Sangatlah dangkal untuk mengatakan bahwa perempuan tidak akan pernah menyetujui pepatah-pepatah buruk ini, mereka telah menginternalisasi kepentingan tertentu sehingga menjadi kepentingan sendiri. Para ibu juga memanjakan putra-putranya sampai pada tahap di mana calon istri dari putra-putranya akan hidup dengan sulit'.
Masih hidup
Di Afrika, di mana Profesor Schipper pernah tinggal dan bekerja selama bertahun-tahun, pepatah masih menjadi bagian kehidupan sehari-hari. 'Mereka merupakan bunga-bunga pembicaraan, minyak kelapa yang digunakan untuk memakan kata-kata', demikian kata Profesor Schipper, mengutip pepatah Nigeria. Walaupun di masyarakat Barat pepatah tidak banyak lagi digunakan dan tampaknya sudah kadaluwarsa, tapi gagasan yang dikandung pepatah masih berakar dalam.
'Kita bisa saja berkeyakinan bahwa masyarakat Barat sudah berkembang dan perempuan dan laki-laki setara tapi dalam bawah sadar kita, ketakutan serta gagasan yang terkandung dalam pepatah-pepatah tua itu masih hidup sampai saat ini. Apabila anda melihat ke sekeliling, maka anda akan menemukan bahwa laki-laki biasanya lebih tua dari istrinya, lebih tinggi, berpenghasilan lebih besar dari istrinya. Apabila anda bertanya pada orang-orang di dunia Barat, maka masih banyak yang berkeyakinan bahwa seharusnya memang begitu'.
Wawancara dilakukan oleh Bertine Krol.






















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.