Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Avatar Willemien Groot
Map
Hilversum, Belanda
Hilversum, Belanda

Pengaruh Steve Jobs di Afrika

Diterbitkan : 7 Oktober 2011 - 11:19am | Oleh Willemien Groot (Foto: Mirjam van den Berg)
Diarsip dalam:

Seluruh dunia kehilangan Steve Jobs pendiri Apple. Ia dipandang sosok jenius pencipta generasi baru peranti komunikasi iPhone, iPod dan iPad. Di dunia Barat dia disanjung, bagaimana di belahan lain?

Kalangan berduit di perkotaan. Orang-orang yang terutama suka desain dan barang-barang praktis. Itulah pengguna produk Apple di negara-negara berkembang. Bagi kalangan menengah ke bawah, telepon genggam merupakan alat komunikasi dan biasanya dari jenis kualitas harga terjangkau. Ini berlaku juga bagi komputer dan tablets. Mereka yang ingin kreatif, akan memilih telepon pintar berbasis Android.

Terlalu Berpengaruh
Masalah terbesar semua produk Apple adalah sistem operasi tertutup. Bagi komputer engkol murahan untuk anak-anak sekolah di negara-negara berkembang, yaitu program pengenalan komputer pada anak, One Laptop Per Child (OLPC), Steve Jobs bersedia memberi cuma-cuma piranti lunak sistem operasinya. Tapi tawarannya ditolak.

Orang-orang tidak mau tergantung updates yang ditentukan Apple, tapi justru ingin menyesuaikan sistem operasi menurut selera. Demikian tutur webmaster Haapee de Groot dari LSM pembangunan Belanda Hivos, yang sering berkunjung ke Afrika.

"Steve Jobs secara umum diakui sebagai pria bervisi, tapi orang bervisi pun bisa salah ambil keputusan. Apple mengaitkan piranti keras yang diproduksinya dengan piranti lunaknya. Jadi pada akhirnya Apple-lah yang menentukan apa yang boleh dipakai konsumen apa yang tidak. Dan itu ada harganya. Itulah salah satu alasan Android lebih populer. Sebenarnya sms lebih populer di Afrika. Jadi mereka tidak butuh smart phones atau iPads."

OLPC akhirnya memilih Linux. Sama halnya dengan Brazil yang memiliki program ICT serupa. Apple terkenal karena mudah penggunaannya; tapi itu sudah menjadi hal umum dan bukan keunggulan Apple lagi.

Bukan desain licin atau penggunaan yang mudah yang menjadi dobrakan dunia ICT di negara-negara berkembang, tapi program One Laptop Per Child, kata Stijn van der Krogt dari lembaga internasional Komunikasi dan perkembangan, International Institute for Communication and Development (IICD), yang aktif dalam bidang ICT di negara-negara berkembang. Ternyata laptop bisa juga dibuat dengan beberapa ratus dollar saja.

Generasi Baru
Generasi baru pengguna telpon genggam dan laptop punya selera sendiri. Mereka sangat kreatif dan pakai piranti lunak terkini, kata Van der Krogt. Dan mereka sama sekali tidak membeli aplikasi. Bukan karena harganya tidak terjangkau, tapi karena dianggap tidak penting. Mereka merakitnya sendiri.

Stijn van der Krogt: "Terutama anak-anak muda ingin melakukan hal-hal fantastis dengan smart Phones dan komputers. Membuat aplikasi sendiri, menggunakannya dan membuka produk lain. Konsumen cenderung memilih jalan keluar yang berguna seperti telepon Android phones dan sistem open source. Karena itu berguna bagi mereka."

Selain itu mereka juga tidak bisa memperbaiki sendiri Apple yang rusak. Baterainya tidak bisa dikeluarkan begitu saja. Di Afrika atau Amerika Latin telepon atau laptop yang rusak harus bisa dibawa ke tukang terdekat untuk direparasi. Atau reparasi dilakukan sendiri. "Yang pertama dilakukan adalah mengeluarkan blokade telepon baru. Tapi teleponnya harus bisa dibuka dulu," kata Stijn van der Krogt.

Aplikasi Berguna
Tampaknya Apple tidak bisa lagi mengejar ketinggalan. Cina memproduksi telepon-telepon murah.

Stijn van der Krogt: "Di sana pelbagai variasi masuk pasaran dan itu cepat sekali. Tapi laptops dan komputer butuh waktu cukup lama. Itu sedang terjadi. Yang pasti di Amerika Latin. Proses perkembangan di Afrika berlangsung lebih lamban, karena hambatan pelbagai bea masuk. Tapi kami berharap, dalam tempo setahun ini sudah akan bisa menggunakan berbagai program ICT untuk berbagai proyek pertanian, pendidikan dan kesehatan."

Bervisi
Tapi itu semua tidak berarti kematian Steve Jobs bisa dibiarkan berlalu begitu saja. Jobs diakui sebagai pria yang berwawasan, kata webmaster Haapee de Groot dari LSM Hivos.

Haapee de Groot: "Saya dengar kabar dari Kenya bahwa Steve Jobs dianggap setara dengan Wangari Maathai, pemenang Hadiah Nobel untuk Perdamaian. Dalam satu minggu dua pria berwawasan itu dikalahkan kanker. Dengan demikian, peran Steve Jobs sebagai pria berwawasan, juga diakui di Afrika."

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET