"Pada mulanya, semua ancaman tersebut tidak saya anggap serius. Saya berubah sikap ketika rekan Ali Jabbar dibunuh oleh kelompok milisi. Beberapa waktu kemudian, penerjemah lain, yang juga bekerja pada pasukan Belanda, tewas dibunuh."
Demikian kisah Haider, penerjemah di propinsi Al Muthanna, Irak, tempat yang dijaga oleh tentara Belanda selama dua tahun. Pasukan Belanda sudah lama pulang. Namun, Haider masih tinggal di sana. Dan ia menyesal.
Haider hanya mau memperkenalkan nama depannya. Ia bekerja pada pasukan Belanda, sejak kedatangan mereka di Al Muthanna, Juli 2003, hingga saat pulang pada tahun 2005. Ia mengikuti operasi malam dan pemeriksaan jalan. Ia juga hadir dalam berbagai konfrontasi melawan bandit penyelundup dan milisi bersenjata.
Ia juga bertindak sebagai penerjemah pada berbagai pertemuan dengan pejabat Irak, pada pelatihan agen polisi Irak. Ketika pasukan Belanda ditarik mundur, Haider pindah bekerja pada tentara Inggris. "Sikap militer Inggris sombong. Berbeda dengan tentara Belanda, yang memperlakukan kami dengan ramah dan bersahabat."
Kolaborator
Haider bekerja hampir selama satu tahun pada pasukan Inggris. Ia berkhayal, suatu ketika akan bisa menempuh kehidupan baru, di negeri asal militer tempat ia bekerja. Pemerintah Britania Raya memang memberi kesempatan pada warga Irak yang bekerja bersama militer mereka, untuk memperoleh perlindungan politik di Inggris. Kesempatan itu tidak berlaku bagi Haider.
Haider mengenang: "Ketika saya tidak lagi bekerja pada pasukan asing, nama saya sudah dikenal oleh kelompok milisi. Mereka menganggap penerjemah sebagai kolaborator dan spion pasukan asing. Padahal, kini saya tidak lagi mendapat perlindungan dari pasukan asing."
Tanggung-jawab
Haider dan rekan-rekan lainnya sering menerima ancaman dari kalangan milisi. Dua rekannya sudah tewas dibunuh. Menurut Haider, secara tidak langsung Belanda ikut bertanggung-jawab atas tewasnya mereka.
Ia berkilah: "Kami, para penerjemah, berjasa banyak bagi Belanda. Mereka tidak mungkin mampu melaksanakan tugas, tanpa bantuan kami. Mereka tahu, bahwa pekerjaan kami berbahaya. Mereka tahu, bahwa milisi bersenjata telah membunuh dua orang penerjemah."
Pasukan Amerika dan Inggris memberi peluang bagi banyak warga Irak yang bekerja untuk mereka, untuk pindah ke negeri mereka. Tapi, sikap Belanda lain. Beberapa penerjemah pergi ke Belanda atas inisiatif sendiri. Dan baru di sana, mereka mendapat suaka.
Beberapa lainnya, melalui negara tetangga Irak, berusaha pergi ke Belanda. Atau, melalui perantaraan Departemen Pertahanan Belanda.
Permohonan Ditolak
Pada tahun 2009, setelah dua orang rekannya tewas dibunuh, Haider menulis surat pada Departemen Pertahanan Belanda di Den Haag. Ia kini berpikir, itu sudah agak terlambat.
"Sebelumnya saya masih berharap, lambat laun tidak akan ada bahaya lagi. Dan saya bisa hidup normal di Irak. Kelahiran anak pertama, bagi saya merupakan alasan langsung untuk mulai berpikir lain, mengenai bahaya tetap tinggal di Irak."
Departemen Pertahanan Belanda meneruskan permintaah Haider ke Dinas Imigrasi, IND. Lembaga ini menolak permintaan Haider. Ia menerima berita e-mail singkat: "Departemen Kehakiman Belanda menetapkan, persyaratan yang berlaku bagi penerjemah Irak yang bekerja pada pasukan Belanda, bagi anda tidak berlaku."
Kini, beberapa penerjemah Afghanistan juga mengalami nasib sama seperti Haider. Sejak 1 Agustus lalu, pasukan Belanda sudah ditarik mundur dari propinsi Uruzgan, di Afghanistan. Sejauh ini, tidak ada tanda-tanda, pemerintah Belanda akan menawarkan perlindungan pada mereka.






















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.