Bertahun-tahun ia bekerja di bawah bayangan para wartawan internasional di Afganistan. Di sana ia sering berjumpa dengan reporter Radio Nederland Bette Dam. Dan sekarang Bette berjumpa dengannya di Hilversum, Belanda, di mana ia sedang mengikuti pelatihan jurnalistik.
"Bagaimana kabar di Uruzgan?", tanya Hashim pada saya seraya saya menggeserkan badan di bangku taman di kebun Pusat Pelatihan Jurnalistik RNTC di Hilversum. Rasanya sedikit aneh melihat Hashim ada di Belanda. Kita saling mengenal satu sama lain di 'gunungan pasir', tempat perlindungan tentara di Afghanistan. Di propinsi Afghanistan Selatan, Uruzgan, kami bertemu. Setelah itu bertemu kembali ketika salah satu 'klien wartawan'-nya menginap di hotel di Kabul.
Setiap pukul sembilan pagi Hashim tiba untuk menerjemahkan, menelefon sana-sini dan mengantar klien wartawannya ke mana pun mereka harus pergi. Kali itu dia harus menemani wartawan dari McChlatchy Newspapers. Singkat kata: Dia mengurus semua. Klien wartawannya tidak akan bisa melakukan apa-apa di Afghanistan tanpa bantuan Hashim. Melalui anak muda semacam Hashim, informasi mudah didapatkan. "Kami tahu bagaimana cara kerja di lapangan. Memang aneh, orang Barat yang tampaknya lebih berkuasa dari saya, toh tidak tahu apa-apa."
Sandera
Tahun 2008 lalu dia bekerja untuk koran Belanda, De Volkskrant, di Uruzgan. Dengan peluh di tangan dia meninggalkan Kabul. "Keamanan adalah yang paling penting bagi saya. Tidak hanya untuk orang Barat, karena mereka butuh banyak uang untuk membebaskan sandera, tapi juga untuk kami. Kami juga manusia. Kadang mereka melupakan ini."
Menurutnya Uruzgan biasa-biasa saja. Di kemah di Tarin Kowt stressnya hilang. "Pekerjaan di Uruzgan lebih mudah dari yang saya kira. Di Kabul kami punya bayangan yang salah."
Padatnya agenda
"Saya harus ikut rekaman lagi?", ujar Hashim tiba-tiba. Koleganya asal Kenya menggelengkan kepala. Lima belas menit kemudian baru mereka benar-benar 'on air'.
Hashim sendiri kini berada di stasiun radio di Hilversum. Untuk pertama kalinya dia meninggalkan tanah Afghanistan untuk mengikuti kursus jurnalistik. Bagi Hashim ini adalah pengalaman yang amat menarik. Ini pertama kalinya dia berkenalan dengan dunia dan lingkungan Barat. Dengan padatnya agenda dan udaranya yang dingin, tandas Hashim sambil tertawa.
Belajar bahasa Inggris
Hashim memang ingin sekali bekerja di bidang jurnalistik atau diplomasi. Ketika sekolah ditutup di tahun 1990an selama perang saudara, dia menghabiskan waktu luangnya untuk belajar bahasa Inggris. Ketika Taliban mulai berkuasa di tahun 1996 dia berumur 15 tahun. Dia berdiri berjam-jam di depan Klub Jurnalistik di kota Kabul dengan harapan mendapatkan sebuah pekerjaan serabutan. Kadang kala dia berbincang dengan para wartawan.
Ketika menjadi kewajiban, dia mendaftarkan diri di pemerintahan Taliban. Awalnya berjalan baik-baik saja. Sampai tahun 2000 lalu dia tiba-tiba dimasukkan ke penjara selama 10 hari sementara kliennya, wartawan freelance asal Rusia, bebas. "Saya tidak disiksa. Namun sampai sekarang tidak jelas kenapa mereka menangkap saya. Seorang kenalan akhirnya membebaskan saya. "
Adu mulut
Setelah 11 september 2001 karir Hashim beranjak. "Sampai saat itu saya masih belajar kedokteran." Invasi Barat di Afghanistan juga membawa ratusan wartawan, yang diterbangkan ke sana dengan terburu-buru dan tidak bisa berbahasa Afghanistan.
Dia mengajak para wartawan sampai ke pelosok Afghanistan, kadang diiringi gelak tawa, kadang adu mulut. Ini terjadi jika para wartawan itu ingin sekali ke wilayah yang penuh anarki dan mereka tidak punya persiapan apa pun. Wartawan yang menyulitkan dan tidak ingin tahu nilai-nilai kebudayaan yang ada. Tapi bersama Hashim mereka ingin mengambil sisi-sisi cerita dari orang dalam. Tentang kekejaman yang terjadi dalam penjara Afghanistan misalnya.
Akibatnya Hashim harus sangat berhati-hati. Yang diwawancara bisa saja tiba-tiba menyerang dia jika berita yang muncul menjelekkan dirinya. Contohnya ketika dia mendampingi wartawan yang membahas tentang saudara laki-lakinya Hamid Karzai, Ahmed Wali. Dia langsung mengumpat Hashim habis-habisan ketika dia ditanya tentang keterlibatannya dalam perdagangan narkoba.
Karir
Dalam beberapa minggu ke depan Hashim dia akan kembali ke kehidupan lamanya di Kabul. Setelah kursus selesai dia akan langsung pulang ke tanah air. Penghasilannya lumayan: 150 sampai $300 US dolar per hari dan dia memang ingin bekerja di negerinya. Tapi dia sudah punya rencana selanjutnya. Dari Kabul dia berharap bisa mengambil langkah lain untuk meningkatkan karirnya: Kursus bahasa Inggris tingkat universitas di Kanada.
Menurut Hashim seharusnya banyak rekan kerjanya di Afghanistan mendapatkan kesempatan semacam ini. Di Afghanistan semua rakyat berjabat tangan hampir dengan semua nationalitas di dunia. Tapi sebagian besar tidak pernah pergi ke luar negeri. Hanya sesekali seorang warga Afghanistan bisa mendapatkan sebuah beasiswa di Amerika Serikat atau sebuah kursus di Eropa. Peraturan visa sangat ketat. "Tapi saya akan menyakinkan orang-orang kalau mereka harus tekun berusaha."






















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.