Zaid, asal Aljazair, sudah tiga puluh tahun tinggal dan bekerja secara ilegal di Belanda. Kabinet ingin menghukum para pendatang ilegal. Namun gereja, serikat pekerja dan oposisi menentang rencana tersebut.
Untuk menarik perhatian mengenai para pendatang ilegal di Belanda, mereka menyelenggarakan Nacht van de Vervanging. Malam itu, Zaid menginap semalam di rumah seorang pejabat kotapraja Amsterdam.
Perayaan
Sibuk sekali di Museum Perjuangan Amsterdam. Di sini, tiap tahunnya digelar Nacht van de Vervanging, acara khusus untuk menarik perhatian mengenai posisi pendatang ilegal di Belanda. Para ilegal bisa menginap semalam di rumah selebritas atau politisi Belanda.
Tahun ini, malam perayaan terasa agak berbeda. Pasalnya, kabinet berencana memasukkan ilegalitas sebagai pelanggaran hukum. Menteri Imigrasi dan Suaka Gerd Leers ingin memberikan sinyal penting. Orang-orang yang tidak punya dokumen izin tinggal resmi di Belanda harus ditangkap dan dideportasi.
Pembunuhan massal
Zaïd, nama samaran, melarikan diri dari tanah kelahirannya Aljazair pada akhir tahun 50-an. Waktu itu terjadi pertikaian berdarah antara penguasa Prancis dan Front Pembebasan Nasional Aljazair yang berjuang merebut kemerdekaan. Kedua pihak bersalah atas penyiksaan. Zaïd adalah saksi pembunuhan massal.
Akhir tahun 70-an Zaïd menginjakkan kaki di Belanda tanpa dokumen resmi. Ia berhasil mendapat tempat tinggal di Amsterdam dan menghilang dari radar. Di sini Zaïd harus bekerja keras:
"Kadang sampai 16 jam per hari. Pekerjaan-pekerjaan kecil di horeca dan di cleaning sevice. Kalau sakit dan punya uang, saya beli obat. Namun sepuluh tahun terakhir kondisi saya memburuk. Saya sering sekali mimpi buruk."
Sembunyi
Pada Nacht van de Vervanging, Zaïd menginap semalam di rumah Kees Diepeveen, pejabat kotapraja Amsterdam Utara. Politikus partai kanan hijau GroenLinks ini menentang keras rencana kabinet. Ia khawatir, dengan aturan ini pendatang ilegal justru akan terperangkap jual-beli manusia dan diperas oleh pemilik rumah yang mereka sewa.
Diepeveen: "Saya khawatir jika kebijakan ini diterapkan, para pendatang ilegal malah akan menutup diri. Bersembunyi makin dalam. Orang-orang ini tak akan lagi punya akses ke perawatan kesehatan. Anak-anak mereka tak akan bisa lagi ke sekolah. Saya khawatir, mereka akan jadi paria dalam masyarakat Belanda."
Ajax
Sambil minum bir, pejabat tersebut mengorek situasi tamunya. Zaid si Aljazair menunjukkan dokumen IND, dinas imigrasi Belanda, kepada Diepeveen. Namun keduanya tidak hanya membicarakan status, mereka juga mengobrol soal klub bola favorit Ajax. Masih adakah kemungkinan Ajax menang?
Di negara-negara tetangga seperti Inggris, Belgia, dan Jerman, ilegalitas sudah sejak dulu dijerat hukum. Pada 2002 kabinet partai kristen demokrat CDA dan partai liberal konservatif VVD juga ingin menerapkan hukum ini. Namun mantan menteri dari partai VVD Rita Verdonk menunjukkan bahwa menangkap para pendatang ilegal justru akan menyusahkan Kementrian Kehakiman dan polisi.
Diringankan
Sedangkan di kabinet sekarang, tekanan partai kanan populis PVV pimpinan Geert Wilders dan partai liberal konservatif VVD besar. Suara partai kristen demokrat CDA juga terpecah-pecah soal hal ini. Kabinet sudah meringankan rencananya: gereja, dokter, dan lembaga sosial yang membantu pendatang ilegal tak akan dihukum.
Belum pasti apakah Zaïd yang sudah 30 tahun bermukim di Belanda masih boleh tinggal. Pengacaranya mencoba memperjuangkan izin tinggal resmi untuk Zaid atas alasan kemanusiaan.
Zaid: "Saya takut. Siang-malam saya memikirkan hal ini. Bisa apa saya di Aljazair? Negara itu bukan lagi rumah saya. Sekarang, Belanda-lah tanah air saya."






















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.