Belanda bukan tempat yang aman bagi pencari suaka dari Irak. Pemerintah Belanda berencana memulangkan pengungsi dari Irak karena Bagdad sudah tidak lagi dianggap berbahaya. Namun demikian, Mahkamah Eropa untuk Hak Asasi Manusia melarang pemulangan secara berkelompok. Setiap kasus harus dianalisa secara terpisah.
Kami tampilkan tiga cerita: Zaid Al-Hilli (28) yang terancam dipulangkan ke Bagdad. Ali Mahdi, 36 tahun, sudah dipulangkan ke Irak, sama seperti Zaid Mohan (33 tahun). Mohan sekarang berusaha pulang lagi ke Belanda. Laporan Klaas den Tek en Chaalan Charif.
Pada Juni 2010 Zaid Al-Hilli mendapat surat dari Dinas Imigrasi Belanda (IND). Berita buruk: IND berencana menarik ijin tinggalnya di Belanda. Menurut dinas imigrasi Bagdad, kota asal Hilli, sudah aman.
Al-Hilli tidak bisa percaya apa yang ia lihat. "Saya hancur, tidak bisa konsentrasi untuk kuliah. Bagdad berarti kematian buat saya. Saya dulu jurnalis di Irak dan di sana sama sekali tidak aman untuk orang seperti saya. Semuanya ada dalam berbagai laporan. Sebulan lalu kolega saya di sana dibunuh."
Tidak cukup
Al-Hilli tinggal di Belanda sejak 2008. Dia sekarang bisa berbahasa Belanda dan kuliah di Universitas Teknik Delft. Di Bagdad ia bekerja bersama saudara laki-lakinya untuk Iraqi Media Network, perusahaan multimedia. Pada 2006, dua saudara itu diberondong tembakan ketika berada di mobil mereka. Mereka untungnya bebas. Dua hari kemudian mereka mendapat ancaman dari organisasi teroris. Oleh karena itu mereka memutuskan untuk mencari suaka di Belanda.
Dinas Imigrasi Belanda tidak percaya cerita Al-Hilli. Ia menyertakan pernyataan pemberi kerja dan juga kartu persnya. Semua dokumen juga sudah dilampirkan tapi itu semua tidak cukup bagi IND.
Dengan emosional Al Hilli Bercerita: 'IND sepertinya sama sekali tidak sungguh-sungguh mau mendengarkan cerita saya. Sepertinya mereka ingin memulangkan semua pengungsi ke Irak. Tidak peduli kamu punya dokumen resmi atau tidak. Padahal menurut Organisasi Pengungsi PBB UNHCR, Irak sangat berbahaya bagi jurnalis.'
Belum jelas apakah pencari suaka seperti Zaid Al-Hilli tetap akan dipulangkan ke Irak dalam waktu dekat. Menurut Menteri Imigrasi dan Suaka Leers, IND membuat penilaian per kasus. Zaid Al Hilli mengajukan proses hukum menentang pemulangannya ke Irak. Ini adalah upaya terakhirnya.
Aman
Ali Mahdi (36) dan Zaid Mohan (33) sebelumnya sudah pernah dikirim kembali ke Irak. Ali Mahdi adalah bekas guru olahraga di kawasan sunni di Bagdad. Dia meninggalkan Irak tahun 2006 setelah menerima ancaman kaum militan syiah di kota tersebut. Melalui rute gelap dia tiba di Belanda tahun 2008. Zaid Mohan berasal dari Sadr City, sebuah kawasan syiah besar di Bagdad. Zaid juga cabut dari Irak karena hidupnya terancam.
Baik Mahdi maupun Mohan awalnya mendapat ijin tinggal sementara. Tapi ijin dicabut tahun 2010, dengan alasan, sebagian Irak sudah cukup aman untuk kembali ditinggali. Bersama 35 warga Irak lain, Mahdi dan Mohan dipulangkan ke Bagdad.
Menghilang
Begitu tiba di bandara Bagdad, Zaid dan sejumlah pencari suaka lain dipukuli para penjaga keamanan. Mahdi: "Itu terjadi begitu saja, tanpa sebab. Di pesawat juga terdapat sejumlah polisi Belanda. Mereka sudah pasti bisa menyaksikan hal itu."
Ketiga warga Irak tersebut langsung dibawa polisi Irak. Salah seorang dari mereka, Mohanned dari Kerbala, adalah kawan Ali Mahdi. Sejak saat itu Ali tidak pernah lagi mendengar kabarnya. Dia memutuskan untuk mencari tahu. Lima hari setelah tiba di Irak, polisi menyambangi rumah tempat dia tinggal. Ali pikir ini karena dia pernah bicara kepada media ketika masih tinggal di Belanda.
Ali:"Sejak kembali, saya tinggal bersama kawan di kawasan yang relatif aman. Tapi di sini juga saya hampir tidak berani keluar rumah. Saya sama sekali tidak bisa kembali ke rumah sendiri, terlalu berbahaya."
Kembali ke Belanda
Ali Mahdi kepingin pergi dari Irak bagaimanapun caranya. Dia masih punya dokumen perjalanan Belanda hingga 2013, tapi belum tahu apakah akan menggunakan hal tersebut. Sementara Zaid Mohan sudah kembali meninggalkan Irak. "Saya diancam gerombolan yang kejam. Dari polisi Irak saya tidak bisa mengharapkan perlindungan. Mereka saja tidak bisa melindungi diri. Belakangan ini, lebih dari 20 polisi tewas dibunuh pistol berperedam suara."
Dengan paspor palsu Zaid tiba di Bulgaria lewat Turki. Sekarang dia tinggal di penampungan pencari suaka yang tertutup. Tujuan utama Zaid jelas: kembali ke Belanda.
Zaid: "Sebelum dideportasi dari Belanda, saya sempat mendekam di penjara selama 6 bulan. Saya bukan penjahat dan tidak pernah melakukan hal yang melanggar hukum. Saya punya pengacara di Belanda yang tahu persis kisah saya. Saya cuma ingin menuntut hak saya."
Keterangan:
Pencari suaka Irak di Belanda
*2008: 5000 warga Irak minta suaka di Belanda
*2009: 2000 warga Irak minta suaka. Belanda menyatakan Irak cukup aman untuk mengirim kembali para pencari suaka. Sebelumnya hanya Irak Utara yang dianggap aman. 719 warga Irak kembali secara suka rela.
*2010: dia kelompok pencari suaka Irak dikirim pulang. Jumlah totalnya 66 orang. Hingga Oktober 2010, 421 pencari suaka kembali secara suka rela.
*Pada 1 Januari 2010 tercatat kurang lebih 51 ribu penduduk keturunan Irak.














Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.