Warga pendatang di Belanda banyak mengkonsumsi makanan berlemak. Dan dalam banyak kasus, itu merupakan upaya pelarian, dari perasaan terisolasi dalam lingkungan masyarakat Belanda. Mereka juga biasanya tidak aktif berolahraga.
Buat wanita keturunan Turki dan Maroko, gaya hidup tidak sehat seperti itu, menjadi kendala bagi integrasi. Demikian kesimpulan suatu penelitian, yang dipublikasikan belum lama ini.
Dinas Kesehatan
Berna Navruz adalah seorang wanita keturunan Turki. Ia bekerja di Dinas Kesehatan Kota Alkmaar. Tugasnya antara lain, memberi penerangan tentang cara hidup sehat pada kalangan warga pendatang.
Berdasarkan pengalaman kerja sehari-hari, ia melihat munculnya penyakit kelebihan berat badan, jantung, pembuluh darah, diabetes dan gangguan psikologis di kalangan warga keturunan asing. Itu semua dampak isolemen yang dirasakan oleh kalangan imigran.
"Jika merasa tidak nyaman, orang cenderung akan banyak makan. Dan jika orang tidak banyak bergerak, ia akan cepat gemuk. Dan itu semua sumber penyebab berbagai penyakit, seperti misalnya diabetes, jantung atau gangguan pembuluh darah."
Joging
Menurut Berna Navruz, banyak warga pendatang merasa sulit untuk mengubah gaya hidup mereka.
"Mereka memahami pesan yang disampaikan. Tapi mengubah gaya hidup dan pola makan, ternyata sangat sulit. Mereka mungkin bisa saja selama satu pekan hanya mengkonsumsi makanan sehat. Tapi, pekan berikutnya, mereka akan mulai lagi makan mentega asli, sebagaimana biasa."
Selain makan sehat, banyak menggerakkan badan juga penting. Di Alkmaar, para wanita pendatang diajak jalan-jalan ke luar rumah, untuk berjoging.
Pengangguran
Dibandingkan dengan warga Belanda asli, para wanita pendatang, terutama yang berasal dari Turki dan Maroko, sangat jarang bekerja di luar rumah.
Di kalangan wanita Belanda, 72 persen di antaranya, paling tidak, bekerja satu jam per pekan, di luar rumah. Di kalangan wanita Turki, angkanya 50 persen, dan di kalangan wanita Maroko, 45 persen. Penyebabnya antara lain, minimnya penguasaan bahasa, tingkat pendidikan dan kendala integrasi.
Dan para wanita itu sendiri, juga sering merasa mereka tidak cukup sehat untuk bisa bekerja. Demikian penjelasan Saskia Keuzenkamp, dari lembaga Sociaal en Cultureel Planbureau, atau Badan Perencanaan Sosial Budaya.
Gaya Hidup
Menurut Saskia Keuzenkamp, buruknya kondisi kesehatan warga pendatang sebagian juga akibat penyakit genetis. Di beberapa kalangan warga pendatang, misalnya, diketahui bahwa banyak di antara mereka mengidap penyakit diabetes.
Selanjutnya, pada umumnya tingkat pendidikan warga pendatang rendah. Dan memang terdapat kaitan jelas antara tingkat pendidikan dan kondisi kesehatan. Di negeri baru, banyak kaum pendatang merasa tercabut dari akar mereka. Dan ini mempengaruhi tingkat kesehatan.
Selanjutnya, kebanyakan warga pendatang punya gaya hidup yang tidak begitu sehat. "Jadi, kebiasaan berolahraga dan makan juga berpengaruh," demikian simpul Saskia Keuzenkamp.
Suriname dan Antilla Belanda
Namun, dalam kaitan antara bekerja dan kesehatan, wanita pendatang asal Suriname dan Antilla Belanda merupakan pengecualian. Memang, mereka juga punya lebih banyak keluhan berbagai penyakit, dibandingkan dengan wanita Belanda asli.
Tapi, mereka lebih banyak bekerja di luar rumah, ketimbang wanita asal Turki dan Maroko. Bahkan, lama jam kerja wanita asal Suriname, hampir sama dengan wanita Belanda asli.
Tentu saja, kehidupan wanita Suriname dan Antilla Belanda tidak seketat gaya hidup tradisional warga asal Turki dan Maroko. Dan mereka juga mendapat dorongan lebih kuat, untuk mampu mencari uang sendiri, kata Saskia Keuzenkamp.
Mereka lebih sering harus sendirian menghidupi keluarga, karena ditinggalkan suami.
"Karena itu, bagi mereka tingkat pendidikan penting, dan akan selalu berusaha punya penghasilan sendiri. Banyak wanita Suriname menjadi tulang punggung satu-satunya bagi keluarga. Karena itu, kalangan warga Suriname, sangat memahami pentingnya punya pekerjaan di luar rumah."





















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.