Aksi protes pekerja PT Freeport Indonesia masih terus berlangsung. Pemogok kerja memblokade jalan menuju pertambangan.
Mereka menuntut pihak pimpinan Freeport diganti dengan orang-orang yang peduli. Baik kepada pekerja maupun masyarakat di sekitar perusahaan, Timika secara khusus, Papua secara umum dan Indonesia secara keseluruhan. Demikian Virgo Solossa, ketua dewan perwakilan cabang serikat pekerja kimia, energi dan pertambangan kabupaten Mimika.
Tujuan blokade jalan adalah untuk menghentikan seluruh produksi perusahaan. "Karena kalau kita tidak menghentikan produktivitas itu, perusahaan akan terus bermanuver, melakukan ancaman-ancaman, intimidasi, bahkan sampai ke proses PHK.''
Para pemogok kerja juga menuntut kepada pihak pemilik modal mengambil sikap tegas, menggantikan jajaran pimpinan PT Freeport dan menjawab tuntutan kenaikan upah pekerja.
Kekurangan pangan
Sementara itu pihak perusahaan mengatakan, akibat blokade jalan, warga yang tinggal di kompleks Tembagapura, kekurangan pangan dan obat-obatan. Namun menurut Virgo Solossa, itu justru salah satu cara PT Freeport memberikan gambaran jelek tentang aksi protes para pekerja.
''Maksud daripada itu adalah bagaimana menjelaskan kepada publik bahwa aksi kami ini meresahkan sehingga bisa membuka ruang kepada pihak kepolisian untuk membongkar blokade yang kami lakukan.''
Penekanan
Virgo menambahkan, justru pihak pemogok kerja yang paling dirugikan, karena terus diteror dengan surat PHK, surat panggilan, dan upah tidak dibayar selama aksi mogok. Jadi, lanjut Virgo, blokade jalan perlu karena kalau tidak, ''perusahaan akan terus menekan kami.''
Kalau pihak PT Freeport menghentikan produksi dan punya iktikad baik membicarakan masalah yang ada, para pekerja yang bergabung dalam aksi protes akan membuka kembali jalan. Demikian Virgo Solossa kepada Radio Nederland.
Damai dan tertib
Aksi mogok sebenarnya berawal damai dan tertib. Hanya saja, ungkap Virgo, dalam berjalannya aksi ini pihak perusahaan melanggar aturan-aturan ketenagakerjaan. Itu tidak disikapi pemerintah, kabupaten maupun dinas tenaga kerja, dan pihak penegak hukum.
''Sehingga mogok yang tadi kami sudah sepakat untuk tertib dan damai itu, jadi berubah seperti yang terjadi sekarang ini."






















Inilah akibat dari ekonomi yang berkiblat kapitalis barat, orde baru yang menciptakan proyek ini dan tidak disikapi dengan persiapan SDM (supaya bisa dikelola sendiri) sudah lama tambang ini dikelola tapi masih saja bermasalah, ketidak seimbangan ekonomi ahkirnya jadi masalah padahal gaji mereka yg kerja disana jauh lebih tinggi dari UMR, tetapi biaya hidup juga tinggi.. Pemerintah harus mengatasi masalah ini secepatnya..
Keberadaan Freeport sebaiknya dikaji ulang lagi karena rakyat dan negara tidak mendapatkan keuntungan apa-apa dari Freeport yang ada konflik saja di Papua semenjak Freeport ada.
Spertinya ini ada pihak ketiga yang bermain untuk memperkeruh situasi yang ada di timika dengan mengambil keuntungan atas insiden bebrepa waktu yang lalu.
Tidak hanya pekerja saja yang diintimidasi, wartawan / pers juga mendapatkan intimidasi. Baca di http://goo.gl/uAYSK
Video sesaat setelah alm. Petrus Ayamiseba tertembak dan situasi saat penembakan terjadi dapat dilihat di :
http://www.youtube.com/watch?v=5OW-i4Qmbts
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.