Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Sabtu 18 Mei  
rumah sakit
Avatar Myrtille van Bommel
Map
Hilversum, Belanda
Hilversum, Belanda

Pasien Koma: Bagaimana selanjutnya?

Diterbitkan : 6 Maret 2012 - 10:54am | Oleh Myrtille van Bommel (Foto: Alex@faraway)
Diarsip dalam:

Kondisi kesehatan Pangeran Friso yang koma setelah kecelakaan ski, menimbulkan diskusi di Belanda soal proses pemulihan setelah koma. Antara 1000 hingga 3000 di Belanda orang mengalami koma setiap tahunnya.

Kebanyakan pasien ini (65 persen) sadar kembali dalam beberapa hari. Delapan belas persen meninggal dunia. Tapi bagaimana dengan pasien yang membuka mata, tapi tidak bereaksi?

Dalam kebanyakan kasus, orang tidak bisa berbuat lain daripada menanti apa yang akan terjadi selanjutnya, demikian Henk Eilander, psikolog dan neuropsikolog klinis.

“Belanda punya kebijakan seperti berikut: menunggu sampai pasien sadar dengan sendirinya. Sementara itu perawatan terus berlangsung - misalnya jika komposisi darah tidak bagus. Seorang ahli fisioterapi akan menggerakkan anggota tubuh pasien untuk mengurangi kejang otot. Tapi tidak ada perawatan yang bertujuan untuk menyadarkan pasien dari koma.”

Tak ada gunanya
Ada asumsi bahwa pasien yang berada dalam koma, bisa bernafas sendiri tanpa bantuan alat pernafasan, setelah tujuh hingga 10 hari.

Batang otak harus bisa berfungsi sedemikian rupa sehingga dapat merangsang pernafasan. Jika rangsangan itu tidak ada, maka, menurut peraturan Belanda, secara medis tidak ada gunanya untuk melakukan perawatan lebih lanjut. Kalau demikian, dokter boleh menentukan untuk menghentikan perawatan.

Jika pasien mampu bernafas sendiri, maka tim dokter akan menanti apakah pasien bisa sadar dengan sendirinya atau bereaksi.

“Secara internasional dibedakan antara orang, yang akibat kecelakaan atau pukulan di kepala, berada di bawah sadar, atau orang yang akibat kekurangan oksigen berada dalam koma. Pasien yang kekurangan oksigen diharapkan memperlihatkan perbaikan, maksimal tiga bulan setelah berada dalam keadaan di bawah sadar. Dia harus bereaksi terhadap orang-orang di sekitarnya. Orang yang menderita cedera otak lainnya, diharapkan memperlihatkan perbaikan dalam kurun waktu maksimal satu tahun.”

Semakin lama seorang pasien berada dalam keadaan koma, semakin besar kemungkinan dia akhirnya meninggal dunia. Jika ini tidak terjadi, dan pasien membuka mata, maka dia berada dalam kondisi vegetatif. Sebagian kecil pasien bisa sadar dengan sendirinya.

Tanda-tanda pertama bahwa seorang pasien kembali sadar, adalah dia mengungkapkan suatu emosi atau mengarahkan pandangan ke titik tertentu. Ini merupakan tingkat kesadaran rendah.

Kwalitas hidup 
Namun tidak jelas kapan seorang pasien memliki kesadaran rendah dan tidak berada dalam kondisi vegetatif sepenuhnya. Rumah sakit tidak punya waktu untuk menantinya. Setelah tiga hingga enam bulan, anggota keluarga disarankan agar memindahkan pasien ke rumah perawatan.

Penelitian terhadap pasien biasanya tidak dilakukan lagi di rumah perawatan tersebut. Di tempat itu pun boleh diputuskan apakah kegiatan medis dapat dihentikan. Alasannya karena tidak seorang pun yang tahu bagaimana kehidupan pasien selanjutnya. Asupan pangan ke pasien juga dapat dihentikan. Keluarga dapat memutuskan kehidupan sang pasien. Namun menurut Eilander hal itu tidak akan pernah terjadi dengan cepat. 

Kendati demikian ia berpendapat, masih banyak yang bisa dilakukan terhadap pasien koma. Menurut penelitian, kaum muda hingga usia 25 tahun, punya kans dua kali lebih besar untuk sadar kembali setelah mendapat perawatan. Oleh sebab itu kelompok usia hingga 25 tahun yang berada dalam kondisi vegetatif tetap mendapat perawatan ketika mereka berada dalam keadaan koma. 

Dibedakan
Eilander yang sejak awal terlibat dalam penelitian penangangan hingga usia 25 tahun mengatakan perlakuan beda tersebut hanya berdasarakan motif keuangan. "Ketika orang dewasa datang ke pusat revalidasi, kami tak diizinkan untuk menangani mereka. Hal itu disebabkan, karena penangangan pasien di atas 25 tahun lebih mahal di tempat revalidasi. Ketika kami menunjukkan hasil penelitian terhadap penangangan kelompok di bawah 25 tahun, mereka malah mengatakan: Anda tidak menggelar penelitian terhadap pasien di atas 25 tahun. Jadi kami tidak punya izin untuk menangani kelompok tersebut.

Baginya, pasien dengan kondisi vegetatif tetap memiliki kesempatan untuk hidup. "Saya yakin penanganan yang tepat dan mengaktifkan fungsi otak sangat bermanfaat untuk mereka. Otak akan berfungsi lebih baik. Banyak sekali penelitian terhadap pasien dengan kerusakan otak yang membuktikan hal tersebut. Jadi dapat disimpulkan bahwa penangangan tepat terhadap pasien vegetatif juga akan lebih baik dibanding tidak melakukan apapun.  

Psikolog otak itu membandingkan dengan bayi yang harus belajar jalan dan bicara. "jika anda tidak melakukan sesuatu maka bayi itu juga tidak atau sedikit bisa. Ia juga menekankan agar penangangan sejensi itu harus segera dimulai.

Apabila pengobatan dimulai lebih cepat, dapat mencegah pasien memiliki masalah dalam berfikir atau bersikap. Untuk itu sungguh tragis jika Belanda tidak memiliki penangangan tepat terhadap pasien dewasa dengan kondisi vegetetatif.

Diskusi

saur meliana sitorus 29 Januari 2013 - 11:10am / Indonesia

Satu-satunya penyembuh penyakit yang Ajaib adalah Yang Maha Kuasa yang menciptakan otak manusia tsb. Otak adalah pengatur segala pikiran manusia dan fungsi organ dll. sebaiknya keluarga pasien berdoa mendoakan pasien dan semua anggota keluarga mohon ampun kepada Allah. Apakah baik secara sengaja maupun tidak sengaja, baik secara sadar maupun tidak sadar telah menggunakan otak yang dikaruniakan Allah tsb utk menyakiti, arogan, membuat orang lain menderita dengan hasil pikiran selama kita hidup. Semoga PM Ariel Sharon disembuhkan Tuhan Pulih Total mendapat mujizat yang luar biasa. sembuh tanpa bekas dengan kondisi otak yang lebih cemerlang yang digunakan utk kebaikan bagi sesama. Amin.GBU

saur meliana sitorus 29 Januari 2013 - 11:10am / Indonesia

Satu-satunya penyembuh penyakit yang Ajaib adalah Yang Maha Kuasa yang menciptakan otak manusia tsb. Otak adalah pengatur segala pikiran manusia dan fungsi organ dll. sebaiknya keluarga pasien berdoa mendoakan pasien dan semua anggota keluarga mohon ampun kepada Allah. Apakah baik secara sengaja maupun tidak sengaja, baik secara sadar maupun tidak sadar telah menggunakan otak yang dikaruniakan Allah tsb utk menyakiti, arogan, membuat orang lain menderita dengan hasil pikiran selama kita hidup. Semoga PM Ariel Sharon disembuhkan Tuhan Pulih Total mendapat mujizat yang luar biasa. sembuh tanpa bekas dengan kondisi otak yang lebih cemerlang yang digunakan utk kebaikan bagi sesama. Amin.GBU

apeng kromen 26 November 2012 - 4:29am / Indonesia

Pelayanan Kesehatan oleh rumah sakit bagi semua pasien amat penting dalam rangka penyembuhan dan pemulihan hidup pasien yang lebih baik. Namun demikian, tingkat pemulihan dan penyembuhan yang akan didapatkan oleh semua orang berbeda-beda. Ada yang berhasil mencapai tingkat pemulihan 100% sedangkan lainnya minim, bahkan hampir tidak ada. Terkait yang terakhir, kiranya nampak jelas bagi pasien dalam koma tetap(PVS). Contoh kasus pasien kontrovesial adalah Terri Schiavo, wanita asal Florida AS, yang hidup dengan ditopangi feeding tubes selama 15 tahun. Memasuki masa yang ke-15 tahun, kondisinya makin menurun, dan akhirnya ia meninggal dunia dengan tidak sadarkan diri. Seandainya ia tetap hidup dengan kondisi yang demikian, apakah sarana medis yang demikian sudah seharusnya dihentikan penggunaannya atau tetap dilanjutkan? bisa jadi keluarganya termasuk kaya dan dapat membayar apapun yang diinginkan keluarganya agar Terri tetap hidup. Tetapi bagaimana dengan mereka yang berasal dari keluarga miskin dan hampir pasti tidak dapat membayar jenis perawatan apapun? Sampai kapan sarana medis tetap dipertahankan bagi pasien koma tetap, sementara itu ia tidak pernah akan kembali sadar? Mohon tanggapannya...

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Ranesi Pamit di Indonesia
Dalam rangka acara perpisahan RNW Indonesia 14 Juni di Erasmus Huis,...
Lampu Lalulintas Terlalu Cepat bagi Lansia
Makin banyaknya jumlah kelompok lansia ada dampaknya bagi masyarakat...