Akhirnya, sesudah 65 tahun setia menemani pendengar dan pembaca, Radio Nederland Siaran Indonesia dengan berat hati mohon diri. Kali ini untuk waktu tak terbatas. Menandai berakhirnya era Ranesi, kami siapkan berbagai artikel khusus tentang Ranesi, mitra, dan tentu saja pendengar.
"Saya sebagai mantan Tapol merasa terbela haknya dengan pemberitaan Radio Nederland." Tidak itu saja, Pak Sis juga rajin menulis surat kepada rekan-rekan perjuangan sesama Tapol membagi berita yang didengarnya dari Radio Hilversum (sebutan Radio Nederland kala itu).
Di usianya yang senja, 87 tahun, Siswoyo atau akrab dipanggil Pak Sis, masih punya daya ingat yang luar biasa. Tubuh jangkungnya yang ringkih tak menghalangi gerakannya untuk selalu aktif membagi ilmunya kepada anak muda.
Hal yang sama dilakukannya ketika ia berbagi berita yang disiarkan Radio Nederland, puluhan tahun lalu.
Di rumahnya yang sempit, di wilayah Tebet, Jakarta Selatan, Siswoyo, mantan Tapol yang pernah mendekam di Nusakambangan selama empat tahun, menceritakan pengalamannya kepada Radio Nederland.
Suaranya langsung berapi-api ketika bercerita soal masa lalunya. Berita-berita Radio Nederland, kata Siswoyo, ketika keluar dari Nusakambangan selalu menjadi inspirasi baginya.
Tak layak
"Jaman dulu saya selalu menulis dengan tangan dan berkirim kabar yang disiarkan Radio Nederland, ke rekan-rekan sesama bekas Tapol." Tentu saja, tuturnya, mereka sangat senang, karena maklum, radio (sekitar tahun 1970an) pada masa itu merupakan barang mewah dan tidak dapat dibeli oleh mantan Tapol.
Para mantan tapol berpendapat mereka tak mendapatkan berita yang layak karena pemberitaan dalam negeri masa itu tidak seberani radio-radio asing seperti misalnya Radio Nederland.
Tiga belas tahun
Siswoyo, menjadi Tahanan Politik semasa rezim Soeharto selama tiga belas tahun. Dari mulut ke mulut, waktu itu ia mendengar ada siaran bahasa Indonesia dari Belanda. Dari semua radio asing yang didengarnya, aku Siswoyo, hanya Radio Nederland merupakan favoritnya, karena ada hubungan pribadi dan sejarah dengan Belanda.
"Dari jaman Hindia Belanda dulu saya sudah berbicara bahasa Belanda dan mengetahui peta Belanda. Jadi juga nostalgia, interressant juga."
Perkenalannya dengan Radio Nederland dimulai tahun 1965 dan dilanjutkan setelah keluar dari Nusakambangan, tahun 1978. Empat tahun ia menjalani penderitaan di pulau tersebut, setelah sebelumnya sempat mendekam di penjara-penjara di Jakarta. "Kalau di dalam (penjara, Red.) masih mikir keluarga, maka akan menambah penderitaan."
Tertindas
"Apalagi di tahun-tahun pertama jaman Harto (Soeharto, Red.), makanannya sedikit. Tapi ya itu daya tahan dibangun di Nusakambangan, harus bisa makan apa saja. Protein dari alam. Misalnya buah di hutan. Atau tanaman liar," tuturnya kepada Radio Nederland.
Masih terngiang dalam ingatannya ketika di zaman Soeharto hak asasi Tapol tertindas, sambil mencontohkan dirinya yang dijebloskan ke penjara selama tiga belas tahun dan tidak pernah diadili.
"Saya anggota DPR, masak menahan anggota DPR sampai 13 tahun tanpa dasar hukum. Tapi jaman Harto peristiwa itu merupakan sesuatu yang sudah biasa," demikian Siswoyo, mantan wakil ketua partai PKI di DPR tahun 1955.
Radio tua
Ketika Radio Nederland datang berkunjung ke rumahnya ada radio transistor tua. Radio itu pula yang sejak tahun 1978 setia menemaninya sampai saat ini. Radio usang didapat atas bantuan rekan-rekan sesama Tapol.
Kala itu mendengarkan Radio Nederland dengan suara pelan tanpa didengar oleh tetangga.
Banyak tetangganya di wilayah Tebet, Jakarta Selatan, sampai saat ini, tidak mengetahui kalau dirinya seorang mantan Tapol. Hanya tetangga di Surakarta yang mengenalnya.
Menurut anak laki-lakinya, Andreas Waskito, Siswoyo rajin mendengar Radio Nederland. "Sudah pasti tiap hari, pagi sama malam. Dia mencari informasi yang waktu itu terbatas setelah keluar dari Nusakambangan."
Menurut Andreas, ayahnya adalah sosok yang selalu memegang prinsip keyakinan ideologinya. Perhatian sebagai ayah saat itu, tambahnya, lebih banyak ditujukan untuk pengabdian partainya dibanding keluarga. "Istilahnya hidup untuk partai."
Melarikan diri
Ketika tahun 1969 mendekam di penjara Tangerang, Siswoyo, sempat melarikan diri. "Kala itu sudah diatur oleh teman-teman yang tahu saya anggota DPR dan Comitee Central CC juga. Diatur gitu rupa akhirnya bisa lari. Bulan Januari tanggal 19 jam empat pagi melarikan diri. Terus dicari di luar sampai hampir dua tahun saya ketangkap lagi."
Istrinya saat itu sempat juga ditahan sebentar, karena ia melarikan diri.
Akhirnya ia tertangkap lagi tahun 1970 dan dijebloskan ke penjara di Salemba, lalu pindah ke Cipinang, Budi Utomo sampai akhirnya dibuang ke Nusakambangan tahun 1974.
Tak pernah dendam
Meski "berkelana" dari satu penjara ke penjara lain, ia tidak pernah punya dendam pribadi. "Yang ada hanya dendam politik. Itu paling jahat Harto, sampai meninggal tak pernah minta maaf," tambah Siswoyo yang juga ketua dan pendiri Universitas Rakyat di Surakarta saat itu.
"Namun sekarang saya tak perlu kata maaf lagi, saya tidak perduli. Orangnya sudah meninggal kok, mau diapain lagi."
Dikira mati
Karena tak berhubungan ketika berada di penjara, keluarganya mengira dirinya sudah mati, karena sudah lama tak ada kabar. Ibunya pernah menggelar selamatan. Namun tiba-tiba ada kabar bahwa dirinya masih hidup lewat surat yang dikirim temannya. "Akhirnya ibu kaget dan nangis."
Namun kehidupan setelah masa Nusakambangan pun tidak begitu mulus dijalani Siswoyo. Untuk menghidupi keluarganya ia dibantu oleh kakaknya dan istrinya menerima pesanan jahitan. "Tapol kan hidupnya selalu mepet."
Menurut rencana, buku Memoar Siswoyo akan terbit. Pengarangnya Andreas Waskito menyatakan buku tersebut menceritakan pengalaman kehidupan orang-orang golongan kiri, yang diharap bisa memberikan pelajaran untuk generasi muda.


















Sungguh sayang RNW akhirnya benar2 ditutup. Bagi saya, RNW (Radio Hilversum, yang saya kenal sejak 1980, ketika masih mahasiswa)merupakan sumber informasi terpecaya mengenai masalah politik (tapol)pada zaman Rezim Suharto. Sebab, semua berita/informasi mengenai tapol (Peristiwa 1965)yang disiarkan media massa dalam negeri tidak seimbang dan tidak obyektif. Ini lebih karena mereka (media massa) takut.
Persis seperti tulisan mengenai Pak Sis, demikianlah cerminan situasi di era Rezim Fasis Suharto. Semuanya serba dikontrol. Rakyat tidak bisa bebas berbicara/menyatakan pendapat serta mendapatkan informasi yang benar/obyektif. Ini adalah catatan sejarah kelam bagi perjalanan sejarah Republik Indonesia. Dan terima kasih kepada RNW (Radio Hilversum)yang telah berperan mencatat/mendokumentasikan sejarah kelam tersebut, agar kelak generasi muda mendatang dapat mencatat dan mempelajarinya bahwa pada periode 1965 - 1998 pernah berkuasa rezim fasis yang kejam bernama Suharto di Republik Indonesia.
SAyang sekali setelah 65 tahun menemani pendengar Indonesia, RAnesi harus mengundurkan diri. SEmoga di tahun mendatang RAnesi bisa kembali mengudara yaa...Ingat Indonesia dan Belanda mempunyai hubungan histori yang sulit dilupakan begitu saja.
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.