"Anak saya kangen makan patat dan frikadel," ujar Marcel Kooijmans, laki-laki Belanda yang bersama keluarga tinggal di Salatiga, Jawa Tengah. Jika sudah kembali ke tanah air apa yang paling dirindukan?
Marcel dan Mintje Kooijmans bersama lima anak mereka, selama satu tahun tinggal di Salatiga, mengikuti kursus bahasa Indonesia. Setelah itu mereka meninggalkan kota di bawah gunung Merbabu itu untuk menetap di Papua selama sekitar tiga tahun.
Di Papua suami-isteri akan bekerja di rumah sakit. Mintje sebagai perawat membantu membangun program penanggulangan Aids. Sementara Marcel akan turut menyusun strategi sehingga rumah sakit Papua nantinya bisa dikelola warga lokal sendiri.
"Saya bisa berbicara dengan anda bahasa Indonesia," ujar Marcel, tapi, lanjutnya dalam bahasa Belanda, "kadang-kadang saya, mau tak mau, terpaksa memakai kata-kata Belanda."
Ramah
Kursus belajar bahasa Indonesia pada umumnya berjalan baik. Penduduk sekampung sangat ramah. Mereka dengan senang hati membantu keluarga Kooijmans dengan PR dan berani mengoreksi jika salah bicara.
Terutama minggu-minggu pertama sulit berkomunikasi dengan orang lain. Namun perlahan-lahan bahasa Indonesia makin bagus. Marcel senang kini bisa berbicara dengan orang-orang sekampung.
Ini bukan pertama kali Marcel dan Mintje ke Indonesia. Dua tahun lalu suami-isteri sudah pernah menginjak kaki di Papua. Di sana mereka bertemu karyawan rumah sakit dan mensurvei lokasi, tempat mereka akan tinggal dan anak mereka bersekolah.
Suka sekali
Namun untuk anak mereka, Leon 13 tahun, Anoek 11 tahun, Thomas delapan tahun, Stefan enam tahun dan si bungsu Naomi, empat tahun, ini pengalaman pertama tinggal di Indonesia. Dan mereka suka sekali.
Sebelum ke Indonesia, keluarga Kooijmans pernah satu tahun tinggal di Inggris, mengikuti kursus bahasa Inggris. Ini semacam persiapan bekerja di Papua dan untuk melihat bagaimana hidup sebagai keluarga di sebuah negara asing.
Ternyata anak-anak lebih mudah beradaptasi di Indonesia ketimbang di Inggris.
Memang, Inggris letaknya lebih dekat dari Belanda, jadi orang berpikir Inggris lebih mirip dengan budaya Belanda. Tapi, lanjut Marcel, orang Inggris lebih suka privasi dan menjaga jarak dengan orang baru.
Lebih suka Indonesia
Lain halnya di Indonesia, di mana orang lebih cepat ingin tahu dan berkenalan dengan orang baru. Dan itu membuat keluarga Kooijmans merasa lebih nyaman tinggal di Indonesia ketimbang di Inggris. Bahkan anak sulungnya, Leon, bertanya pada ayahnya: "Mengapa kami tidak tetap tinggal di Salatiga saja?"
Bagaimana rasanya sebagai orang bule tinggal di sebuah negara Asia?
Awalnya mereka belum terbiasa. Suatu saat keluarga Kooijmans pergi ke kolam renang. Di sana mereka satu-satunya orang berkulit putih. Aneh sekali rasanya. Banyak orang ingin membuat foto, ingin berbincang-bincang.
Namun keluarga Kooijmans tidak terganggu dengan situasi seperti itu, karena orang yang mendekati mereka sangat ramah. Mereka biasanya hanya ingin mempraktekkan bahasa Inggris dan ingin membantu saja, ujar Marcel.
Pedas
Makanan pedas dan bahasa Indonesia yang belum lancar. Itu menjadi soal pekan-pekan pertama di Indonesia.
Memang, di Belanda keluarga Kooijmans sudah kenal makanan Indonesia, tapi rasanya tidak terlalu pedas seperti di Indonesia. Tapi kini mereka sudah terbiasa. Mintje, isteri Marcel semakin sering masak masakan Indonesia. Tapi, akunya, kadang-kadang mereka masih beli kentang di pasar untuk digoreng.
Suatu ketika, cerita Marcel, seorang penduduk kampung meninggal dunia. Kemudian dipasang tenda dan kursi-kursi ditaruh di jalan. Marcel tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tapi untung tetangga dekat berbahasa Inggris, banyak membantu dan menjelaskan apa yang diharapkan darinya.
Lalu, selama tinggal di Indonesia, apa yang paling dirindukan dari Belanda?
Patat
Anak-anak paling merindukan patat dan frikadel, sosis khas Belanda. Dan yang tak kalah pentingnya keluarga dan teman-teman. Kendati demikian anak-anak cepat sekali membuat teman baru di Indonesia.
Atas pertanyaan apa yang paling dirindukan dari Indonesia ketika suatu saat nanti harus pulang ke Belanda, Marcel menjawab:
"Suasana di kota, toko-toko kecil yang lucu, rumah bewarna-warni. Di Indonesia, setiap rumah punya warna berbeda. Dan yang tidak kalah pentingnya orang Indonesia, yang menurut keluarga Kooijmans sangat ramah. Suasana di kampung, tempat semua orang saling kenal dan selalu bersedia membantu."























Orang Jawa, MENTAL INLANDER SEJATI .
Orang Jawa, MENTAL INLANDER SEJATI .
Orang Jawa,Mental Inlander .
orang orang goblok,rendah diri liat bule aja maunya aja minta foto sama bule padahal di negaranya biasa-biasa aja .Dasar MENTAL INLANDER!!!!!!!!!!!!!!
Anonymous 20 Oktober 2010 - 10:15pm / The Netherlands, justru itu polemik saya. Rasa minderwaardigheidkomplex tegen over orang KulitPutih di bangsa kita masih sangat besar. Terutama dari kalangan orang2 Jawa. Bahkan yang punya kedudukan sekalipun! Sikap2 "mengacung dan menjongos"ini yang dulu akan diberantas oleh Bung Karno. Sayang Beliua hanya 22 tahun bertahan sebagai Bos Indonesia.
Orang Minahasa, Minang atau Batak lain cara approachnya terhadap orang "bule".
Bagi Anda yang sudah lama tingal di Negeri Belanda, juga tentu lain. Apalagi bila Anda di Netherlands menduduki posisi bagus dengan gaji bagus. Disitu orang2 Belanda akan bersikap lain tegen over anda.
Rasa minder masih tebal, mbakmas@Anonymus. Orang Bule pasti mendapatkan pelayanan extra dahulu dari pada bangsa dewek. Mudah2an GARUDA Indonesia kali ini tidak akan demikian lagi. Juga restoran2 di Indonesia, serta Polisi2 dan Satpam2... Mereka ini galak dan garang kalau lawan kita. Coba ada "bule"nya, pasti jadi lembek. Lha itu juga mutu Diplomat kita. Masak sama "bule" takut? Meski kali ini DuBes Anda Habibie brani lawan Wilders dkk nya. Persis..Beliau kuasai bhs. Belanda dengan fasih.
Kalau Belanda2 Penjajah itu dulu secara luas ngajarin bahasa Belanda, maka kita2 akan cepat bisa belajar bahasa Inggris. Pemerintah Hindia Belanda cuma purak2 bikin pinter orang Indonesia, agar Pemerintah Kolonial Hindia Belanda di BATAVIA tidak diprotes oleh Partai2 Oposisi di Tweede Kammer
Karena Politik 3E/3I juga keinginan Ratu Wilhelmina (?), edukasi bagi orang "koeli2". Tapi cuma berapa persen yang dapet edukasi?
Orang2 Malaysia hampir semua fasih bahasa Inggris, juga orang2 India. Maka cara menjajah Inggris dan Belanda itu lain. Motto Belanda adalah: Indonesie is een natie van koeli, en een koeli onder de naties
Soft ware ini MANCLEP DALEM di benaksanubari orang2 Indonesia, terutama orang2 JAWA (sekali lagi) sadar atau tidak sadar. Anda perlu ke Yogya dan Solo, dulu sebagai Voorstenlanden dan Centrumnya Penguasa Pulau Jawa. Anda akan melihat bagaimana dalamnya pengaruh2 Kumpeni, baik politis sosiologis dan kulturil, pada bos bos orang Jawa itu.
Kalau bos2nya saja tunduk pada Kumpeni, bagaimana Rakyatnya?
Sri Sultan HB IX yang saya anggap berani melawan Belanda (menghilangkan bentuk executive kepatihan Danurejan buatan Belanda), eeh Beliau tahun 1970 ikut2an tim ke Jenewa mencari investor, atas Perintah Soeharto untuk - maaaaf -- menjual Negara.... Kapan kita jadi bangsa Indonesia bisa mempunayi rasa BANGGA? Semua mental moril moral sudah dihancurkan. Dan itu, maaf mbakmas@Anonymus Belanda pegang peran besar dalam penghancuran mental moril dan moral bangsa kita. Maka perlu sejak dini di TK dan SD2 diajarkan Budi Pekerti dan nasionalisme yang benar. Yang benar? Wat is dat? Lha sumonggo kita cari bersama...
Mas mbak Anonymus@,
"Memang hanya Indonesia negara di dunia ini yang pernah terjajah apa, masih banyak negara2 lain bekas jajahan juga, tapi tidak sebobrok Indonesia, demikian tulis anda Anonymus@.
Justru disitu letak teka tekinya. Negara2 lain yang tidak sebobrok Indonesia itu bukan dijajah oleh Belanda. Dan mengapa justru P. Jawa, sebgagai pusat Pemerintahan kolonial Belanda yang justru menjadi paling bobrok geworden? Sejarah perlu kita fahami, kalau di hafal menjadi sulit.
Barang siapa melupkan sejarah masa lalunya, dia tidak akan punya masa depan, demikian kata seorang Romo SJ
Pertanyaan mbahpur, mengapa pulau Jawa sebagai yang dulunya pusat pemerintahan kolonial Belanda yang paling bobrok geworden? Jawabanya mbahpur, apa mbahpur tidak tau siapa-siapa saja yang sudah memrintah dan bercokol di pemerintahan Indonesia, contohnya jaman Soeharto lho, semua anak, mantu, famili dan cucu, buyutnya dan semua saudara/inya menjadi pengusaha dan habis mengkorupsi tanah dan harta Indonesia yang kebanyakn untuk pribadi mereka, itu masih keluarga presiden saja, belum para menteri dan pejabat lainya dengan segala handai taulanya, belum lagi masa setelah pemerintah setelah Soeharto sampai yang sekarang ini,mbahpur bisa tau sendiri deh dan , jadi jelas toch. jangan2 kalau Belanda dulu tidak bangun apa-apa di Indonesia, maka Indonesia engga punya apa-apa, malah Indonesia, kalau bisa rel kereta api juga kalau bisa dimakan habis. Terutama di pulau Jawa, Kalau mbahpur memang faham sejarah, maka kebobrokanya itu semua terutama di era Soeharto. Jangan bilang hanya pulau Jawa, emang Indonesia yang ada hanya pulau Jawa apa yang dijajah. Makanya dengan tulisan ini, perlu mbahpur menghafal sejarah dan memahaminya. Saya tidak membela Belanda, tapi tolong agak real kalau memberikan pendapat, saya tidak lupa sejarah, tapi saya berusaha agak real berpikir, karena kalau saya tidak berpikier real, di masa depan juga saya akan selalu mengkambinghitamkan orang lain,seolah-olah sampai sekarang kebobrokan bangsa Indonesia itu akibat Belanda saja, lihat orang Indonesianya dan mental-mental orang Indonesianya yang bobrok. Pernah tahu apa lihat kerusuhan di Indonesia tahun 1998, kalau tau dan lihat, maka mbahpur bisa ngerti apa yang melatarbelakangi ini. Masa lalu itu penting untuk perubahan dan kaca untuk masa depan, tapi harus srealistis mbahpur!
Persis, justru bagi saya mas mbak @Anonymus, Soeharto dan OrdeBarunya itu justru handverlengingnya Belanda. Soeharto ada bukan dengan cara2 kebetulan.
Orde itu aja kan bahasa Belanda to? Belanda menjajah secara modern pinjem tangan penduduk asli. Di zaman OrBa persis sperti zamannya van den Bosch (1830an), bosnya tanam paksa. Ada banyak bunuh2 orang tak bersalah, ada buang2 orang ke pulau di luar Jawa, ada monopoli cengkeh, ada politik brangus mulut, ada tanam paksa tebu, dll.. Belanda was comming back mas mbak Anony@ pada saat Orba.
Belum tentu, kita sebegok itu, tanpa Belanda tidak bisa bikin rel KA, gedung2 indah, dll..Borobudur saja sudah lama berdiri sebelum Belanda datang. Artinya bangsa kita kan nggak begok2 amat.
Dari mana datangnya rasa minder terhadap orang2 "bule"? Dan mengapa selalu yang berbau Eropa pasti dianggap bagus? Jangankan orang biasa, bahkan Diplomat2 RI pun sama "bule2" ada rasa minder. Masak adik saya ahli bedah syaraf dari Yogya, diskusi sama "bule"2 yang belum tentu lebih pinter ada rasa minder? Orang2 Jawa lah yang dijadikan Belanda sebagai koeli2. Sampai di Afrika Selatan bahkan. Terus dicekoki kalian bangsa koeli, blivj koeli... Ini penderitaan orang Jawa, yang setelah Merdeka meledak menjadi KERE MUNGGAH BALE. Anda liat sendiri itu tingkah laku orang2 DPR MPR dan Exekutif di Jakarta. Bagai Kuda lepas dari pingitan.. Ya itu: KERE MUNGGAH BALE.. Ini semua akibat mental2 terjajah oleh Belanda yang belum sempat kita benahi dengan Nationbuilding yang benar..
Mental bobrok Korupsi Kolusi Nepotisme itu di Batavia/Jakarta sudah ada sejak zaman VOC di tahun2 1754 an, sehingga oleh Gubernur JendralVOC Jacob Mosel dikeluarkan Ordonantie tegen pracht en pralerij. Kata pendahulunya, yaitu GJ Van Imhoff,: corruptie in Batavia is een wond, de slecht heilen"
45 thn kemudian VOC runtuh gara2 korupsi (Vergaan Onder Corruptie) dan Roh Roh korupsi itu masih terus bergentayangan di Jakarta hingga hari ini. Dan kita belum sempat dengan baik menyembuhkan luka luka dari penjajahan Belanda dengan benar dan seksama. Walau sudah Merdeka dan punya UUD serta Filosofi hidup Pancasila. Roh Roh penjajahan itu masih kental ada.
Jelas saya juga tidak berpendapat, bahwa itu satu2nya sumber keterpurukan bangsa ini.
Makanya mbahpur, yang harus dicuci bersih yaitu yaitu handverlengingnya Belanda itu. Makanya khan sudah saya tuliskan sebelumnya, jadi yang salah kaprah itu khan mental2 orangnya, terutama pemimpinya itu lho bisanya hanya menjajah bangsa sendiri, coba disuruh menjajah dunia luar, engga bisa sama sekali. Lihatvsaja itu, jadi bulan2an bbangsa Malasya, masalah perbatasan, tenaga kerja, dan juga dengan bangsa arab2 sana, banyak TKI yang mati bunuh diri, dibunuh, diperkosa, dibuntingin dan disiksa, apa tidakanya?
Karena terutama para pemimpinya itu tidak mau memasukkan orang-orang tidak sefaham dengan mereka, sepaham untuk moroti negara Indonesia tentunya. Khan banyak sekali orang-orang yang dikirim ke luar negeri untuk belajar, lha pulang ke Indonesia setelah belajar engga ada fungsinya, bahkan engga ada mejanya, karena takut. Makanya banyak kalau sudah belajar di luar negeri tidak mau pulang, ngapain ke Indonesia, gajinya kecil dan tidak ada kesempatan berkembang.
Memang bangsa Indonesia tidak sebego yang mbahpur maksud, tapi buktinya seperti sarana jalan2 hampir di semua tempat, rel kereta api bukaan Belanda dulu, masih itu-itu, perbaikanya hanya darurat sekali, sehingga banyak kecelakaan, ngurus yang sudah ada saja tidak becus, apalagi mau menciptakan yang belum ada.
Kalau masalah rasa minder, kalau dulu dibicarakan mungkin masih up to date yah, wah kalau jaman sekarang masalah rasa minder diomongin karena salah orang lain, gimana yah. Makanya seperti para diplomat2 itu, kalau bertugas ke luar negeri belajar bahasa yang bagus, lalu bergabung di masyarakat di mana dia ditempatkan, jangan suka buat kumpulan2 hanya orang Indonesia melulu, yah bahasanya juga hanya Indonesia saja, dan tahunya cuma makan Indonesia dan juga yang diomongin juga Indonesia melulu, sampai lupa lagi tinggal di mana. Memang mbahpur, rasa rendah diri itu akan timbul kalau tidak menguasai bahasa. Akhirnya apa, para diplomat yang ditempatkan ke luar negeri, taunya cuma pintu depan dan belakang rumah dinas kedutaan, yang lainya kalau pulang ke Indonesia, merasa hebat karena sudah tugas di luar negeri, isinya apa, terka sendiri mbahpur.
Ingat mbahpur, yang dijajah Belanda itu tidak hanya Jawa lho.
Sayangnya, bangsa Indonesia sampai sekarang masih terjajah, hanya yang menjajah adalah bangsa dan saudara sendiri. Sangat menyedihkan memang.
Mbak Mintje dan mas Marcel diagnosa kalian betul. Orang Indonesia dari Sabang sampai Merauke itu memang ramah2. Sayangnya NenekKakek kalian menyalahgunakan keramah tamahan NenekMoyang kami. Padahal bagi kami, semua MANUSIA, termasuk mas Geert Wilders dkk, selalu welkam.
Janganlah salahkan kami, jika tiba2 kami2 ini bisa sangat buas. Misalnya Nenekmoyang kalian sangat mencela dan meratapi akan "kebuasan2" Pemoeda2 Indonesia di zaman "BERSIAP" 1947 - 1949. Pasti "kebuasan" Pemoeda2 Indonesia di zaman itu ada sebab2nya. Mereka hanya ingin mempertahan- kan rasa MERDEKA. Ya rasa MERDEKA. Seperti kalian juga merasa merdeka dari pendudukan Jerman yang hanya 5 tahun itu. Bevrijding bevrijding kata kalian. Tiap tahun kalian rayakan dengan besar2an.
Adalah tugas kalian2 generasi muda Belanda dan Indonesia, untuk merajut tali persaudaraan Indonesia Belanda dengan adil setara dan saling menghormati tanpa TIPU2AN dan BOHONG2AN lagi.
Semoga bisa. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Itulah yang kami inginkan.
Wah, mbahpur benar sekali ! Bro Marcel dan Zus Mintje Kooijmans salah besar!
Orang Indonesia, seperti misalnya mbahpur dan Soeharto, memang SANGAT BUAS, deh !
Habis, mosok Soeharto braninya cuma membunuh2i rakyatnya sendiri yang tidak berdosa dan tidak bersenjata, bahkan juga tidak melawan? Tapi sebegitu lekas berhadapan dengan saya (Westerling), kalian lari ter-birit2 sampai ter-kenvcing2 .... Kami tidak mengakui Soeharto dan mbahpur sebagai kaki-tangan kami (Belanda). Fakta sejarah menunjukkan bahwa Soeharto, bahkan juga Soekarno, adalah antek-antek JEPANG yang telah kami bikin bertekuk lutut tahun 1945. Indonesia baru bisa merdeka setelah Amerika dan Inggris turun-tangan, karena ingin ambil bagian keuntungan. Jika tidak, pasti Indonesia sampai hari ini masih berada dalam kekuasaan tangan-besi KU (Westerling). Mangkane, mbahpur jangan ngibul 'gitu. Nanti kalo buku sejarah dibuka, mbahpur dan bangsa Indonesia yang malu sendiri ...
Aduh mbah pur, keganasan orang2 Indoensia sekarang jangan dihubung2kan dengan belanda dan Wilders segala deh, malu2in. Engga ada hubunganya, jaman sudah berubah mbah Pur, coba lihat realita di Indonesia, kerusuhan di mana2, penutupan gereja,main hakim sendiri, lihat tuh di Ambon, Irian, kalimantan di jakarta dengan keganasan FPI. Apa kita tidak malu selalu bawa2 nama Belanda. Apa tidak malu, negara yang mengaku berbudaya, bertata krama, beragama yang patuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh lagi, tapi lihat, memperalat agama untuk menindas orang lain, koruptor yang sudah seperti penyakit kanker, tidak menghargai yang katanya minoritas, punya undang2 yang lengkap, tapi kenyataanya apa, jadi siapa yang salah, yang salah adalah bangsa itu sendiri, terutama pemimpinya. apa2 pun tidak berfungsi di sana. Memang hanya Indonesia negara di dunia ini yang pernah terjajah apa, masih banyak negara2 lain bekas jajahan juga, tapi tidak sebobrok Indonesia. jadi jangan selalu gampang menyalahkan orang lain, teliti dulu apa yang terjadi di Indonesia. seperti kata orang Padang, Awak yang tak pandai menari, lantai pula yang dibilang tejungkat.
"Memang hanya Indonesia negara di dunia ini yang pernah terjajah apa, masih banyak negara2 lain bekas jajahan juga, tapi tidak sebobrok Indonesia, demikian tulis anda Anonymus@.
Justru disitu letak teka tekinya. Negara2 lain yang tidak sebobrok Indonesia itu bukan dijajah oleh Belanda. Dan mengapa justru P. Jawa, sebgagai pusat Pemerintahan kolonial Belanda yang justru menjadi paling bobrok geworden? Sejarah perlu kita fahami, kalau di hafal menjadi sulit.
Barang siapa melupkan sejarah masa lalunya, dia tidak akan punya masa depan, demikian kata seorang Romo SJ
"Memang hanya Indonesia negara di dunia ini yang pernah terjajah apa, masih banyak negara2 lain bekas jajahan juga, tapi tidak sebobrok Indonesia, demikian tulis anda Anonymus@.
Justru disitu letak teka tekinya. Negara2 lain yang tidak sebobrok Indonesia itu bukan dijajah oleh Belanda. Dan mengapa justru P. Jawa, sebgagai pusat Pemerintahan kolonial Belanda yang justru menjadi paling bobrok geworden? Sejarah perlu kita fahami, kalau di hafal menjadi sulit.
Barang siapa melupkan sejarah masa lalunya, dia tidak akan punya masa depan, demikian kata seorang Romo SJ
Mbahpur silap .... Memang masih banyak negara lain yang bekas jajahan, tapi tidak ada satu juga yang se BOBROK Indonesia-nya mbahpur. Sudah 65 tahun merdeka masih kacau-balau tidak ada hukum, negara paling korupsi sedunia, becusnya cuma ngemis2 hutang sama bekas2 penjajahnya, bahkan pernah dua (atau tiga?) kali ngemplang tidak mau/bisa bayar (ihhh, malu2in jadi orang Indonesia !). Menurut hemat saya, itu adalah gara2 kebodohan orang Indonesia sendiri. Jika tidak ada Jan Pieterszoon Coen yang membangun Batavia, Indonesia sampai hari ini masih hutan belantara dan rakyatnya masih tinggal di gubug2. Bandingkan jasa2 Jan Pieterszoon Coen (1587–1629), Direktur VOC (Dutch East Indies company), dengan kemenakannya yang bernama Jan Pieter Stuyvesant (1612-1672), mantan Direktur VWC (Dutch West Indies company) yang belakangan membeli pulau Manhattan dari orang Indian buat seharga 60 Gulden (24 dullar) dan membangun kota New York City. Tapi lihat bedanya New York dan Jakarta/Batavia sekarang. Jelas orang Indian lebih pintar2 daripada orang Indonesia, bukan? Buktinya lagi, orang Indian baru2 ini sempat memberi julukan Obama = Walking Eagle (burung elang yang kagak bisa terbang sebab penuh dengan SHIT), sedangkan orang Indonesia malah me-muja2 Obama, yang faktanya kagak becus hingga sebentar lagi bakal runtuh, seperti dulu Jepang juga rontok. Jelas disini, sampai kapanpun juga, politik Indonesia dan mbahpur selalu salah .... Mangkane jangan suka nyalahin penjajah .... Tapi, PIKIR, mbahpur ... PIKIR ,,,,
Saya kutip tulisan mbahpur:
"Barang siapa melupkan sejarah masa lalunya, dia tidak akan punya masa depan, demikian kata seorang Romo SJ"
Jadi sang Romo itu lupa menerangkan tentang konteks dan pengertian kalimat di atas yah, makanya kalu mengutip itu mbah pur jangan hanya setengah-setengah, jangan dikutip yang hanya menyenangkan hati sendiri, karena itu akan salah kaprah seperti mbahpur yang salah kaprah dan hanya mengkambinghitamkan orang lain. Selamat membaca dantidak hanya menghapal.
komentar yang menakutkan buat orang bukan dari Indonesia
Mbak Mintje dan mas Marcel diagnosa kalian betul. Orang Indonesia dari Sabang sampai Merauke itu memang ramah2. Sayangnya NenekKakek kalian menyalahgunakan keramah tamahan NenekMoyang kami. Padahal bagi kami, semua MANUSIA, termasuk mas Geert Wilders dkk, selalu welkam.
Janganlah salahkan kami, jika tiba2 kami2 ini bisa sangat buas. Misalnya Nenekmoyang kalian sangat mencela dan meratapi akan "kebuasan2" Pemoeda2 Indonesia di zaman "BERSIAP" 1947 - 1949. Pasti "kebuasan" Pemoeda2 Indonesia di zaman itu ada sebab2nya. Mereka hanya ingin mempertahan- kan rasa MERDEKA. Ya rasa MERDEKA. Seperti kalian juga merasa merdeka dari pendudukan Jerman yang hanya 5 tahun itu. Bevrijding bevrijding kata kalian. Tiap tahun kalian rayakan dengan besar2an.
Adalah tugas kalian2 generasi muda Belanda dan Indonesia, untuk merajut tali persaudaraan Indonesia Belanda dengan adil setara dan saling menghormati tanpa TIPU2AN dan BOHONG2AN lagi.
Semoga bisa. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Itulah yang kami inginkan.
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.