Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Kamis 23 Mei  
Avatar Redaksi Indonesia
Map
Jakarta, Indonesia
Jakarta, Indonesia

Orang Cina Juga Bisa Nasyid

Diterbitkan : 3 Februari 2011 - 1:14pm | Oleh Redaksi Indonesia (© RNW)
Diarsip dalam:

Musik adalah bahasa universal. Elemen Islam dan Tionghoa pun dipadukan dengan cantik oleh kelompok nasyid Lampion. Selain berdakwah, 5 anak muda etnis Tionghoa ini juga menggunakan nasyid untuk mematahkan stigma negatif soal Islam. Seperti apa hasil kreasi mereka di Lampion?

Alunan nada dan suara ini terdengar dari ruangan kecil di sudut bangunan sebuah lembaga bimbingan belajar di Pasar Rebo, Jakarta Timur. Malam itu Kelvin, Musthofa, Andrew, Ade, dan Heri yang tergabung dalam grup nasyid Lampion sedang latihan rutin. Kemampuan bernyanyi harus terus diasah mengingat mereka tengah menyiapkan album kedua. Rencananya akan keluar Ramadhan tahun ini.

Lampion bukanlah grup nasyid biasa. Sebagian besar personilnya berasal dari etnis Tionghoa. Mereka mengolah unsur budaya Tionghoa dalam lagu-lagu Islami yang mereka bawakan. Berdiri sejak 1997, nama Lampion dipilih karena identik dengan budaya Tionghoa. Selain itu juga karena lampion itu menerangi, ungkap salah seorang personil, Andrew Fateh.

“Mengambil satu warna atau satu image di dalam dunia nasyid sendiri, Tionghoa muslim. Kemudian kita memilih lampion itu sebab kita ada cita-cita atau keinginan bahwa dakwah melalui kebudayaan ini bisa jadi penerang atau bisa jadi jalan supaya orang dapat cinta dan takut pada Allah dan Rasulallah. Makanya kita ambil penerang etnis Tionghoa dalam hal ini lampion.”

Satu-satunya
Sampai saat ini, Lampion masih satu-satunya grup nasyid Tionghoa di Indonesia. Personil Lampion saling bertemu lewat perkumpulan remaja di Mesjid Lautze, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Lampion hadir untuk menunjukkan kalau komunitas muslim Tionghoa itu ada. Selain itu, dengan Lampion, mereka membuktikan kalau musik adalah bahasa universal. Dakwah pun disampaikan tak hanya kepada komunitas muslim, tapi juga non-muslim.

Kelvin, salah satu personil bilang, “Makanya kita sampaikan melalui seni budaya, lebih efektif dakwah dengan seni budaya dibandingkan ceramah karena kalau ceramah kita akan susah masuk ke orang-orang yang bukan muslim. Tapi kalau kita sebagai penyanyi atau pemusik di acara-acara umumpun yang sifatnya universal tidak atas nama agama islam juga jika kita punya peluang ngisi, kita bisa ngisi juga, itu salah satu tujuannya juga.”

Manggung
Lampion telah manggung di banyak tempat, di berbagai kota. Tahun 2005, mereka meluncurkan album perdana berjudul ‘Baiknya Tuhan’. Album ini laku terjual hingga 2000 kaset. Selama ini, mereka juga tak pernah mematok tarif mentas. Salah satu anggota Lampion, Musthofa mengatakan, ini komitmen mereka dalam berdakwah. Mereka bahkan pernah dibayar dengan buah-buahan.

“Di nasyid Lampion kita memang tidak menetapkan tarif, itulah yang abuya guru kami ajarkan bahwa kita nasyid ini untuk dakwah. Kalau untuk honor kita biasanya kita bicarakan langsung dengan pihak pengundang langsung, panitia langsung. Jadi jangan sampai pihak pengundang merasa diberatkan atau sebaliknya yang diundang yang diberatkan, jadi win-win solution-lah."

Dakwah
Lampion berdakwah lewat nasyid, menyebarkan ajaran Islam, khususnya ke kalangan masyarakat Tionghoa. Pentolan Lampion, Kelvin mengakui, ini tak mudah. Masih banyak masyarakat Tionghoa yang menanggap Islam identik dengan kemiskinan dan kekerasan.

Kelvin: “Jadi yang imagenya Islam itu bodoh, Islam itu miskin bahkan sekarang ditambah lagi ada bumbu-bumbunya teroris, jadi ditambah lagi. Jujur, di kalangan kita mungkin apalagi teman-teman yang mualaf yang baru masuk agama Islam image itu pasti ada, apalagi yang perempuan. Mau jadi istri ke berapa kamu? Jadi memang image yang seperti itu salah paham. Makanya tadi kita balik lagi ke tujuan Lampion. Salah satu tujuan kita menyampaikan dakwah kepada Tionghoa yang bukan muslim. Kita kasih lihat bahwa Islam itu sebetulnya indah, Islam itu sebetulnya berkasih sayang.”

Muslim Tionghoa
Tidak ada catatan pasti tentang awal keberadaan muslim Tionghoa di Indonesia. Jejak muslim Tionghoa di Indonesia sendiri mulai banyak diketahui sejak kedatangan Laksamana Ceng Ho di sekitar abad 15. Di masa penjajahan Belanda, masyarakat dipecah berdasarkan kelas. Dampaknya, kelas Eropa, Timur Asing dan pribumi diperlakukan berbeda. Perbedaan itu yang diakui atau tidak, masih terbawa hingga kini.

Salah satu tempat yang sering jadi referensi kelompok Tionghoa untuk belajar Islam adalah Mesjid Lautze, di daerah pecinan Pasar Baru, Jakarta Pusat. Data menyebutkan, sepanjang 2010 ada 79 orang yang jadi mualaf di mesjid tersebut. Yayasan Haji Karim Oei yang menaungi Mesjid Lautze mengatakan, sejak mesjid berdiri pada 1991, sudah lebih 1000 warga keturunan Tionghoa yang menjadi muslim.

Tantangan
Tantangan bukan hanya dari keluarga. Ada juga pandangan curiga dari kalangan muslim yang harus dihadapi ketika seorang Tionghoa memutuskan masuk Islam. Ketua Umum Yayasan Haji Karim Oei, Junus Jahja menceritakan kejadian seperti itu yang pernah terjadi di Mesjid Lautze.

“Satu waktu ada orang keturunan Tionghoa yang datang ke Lautze mau masuk Islam bicara dengan Lukman Harun, wah dicecar, diinvestigasi kayak polisi, kenapa masuk Islam? Apa mau mencari ini? Sampai itu anak ya bilang Pak Lukman, saya untuk datang ke sini aja ribut dulu di rumah, saya ditentang oleh orang tua saya, oleh kakak saya, sekarang saya datang malam-malam di maki-maki, wah malu Pak Lukman. Sebab kalau gitu pake syarat yang berat mana mau? Datang aja udah diinterogasi.”

Usaha untuk mengubah pandangan masyarakat Tionghoa yang masih mengidentikkan Islam dengan kekerasan ataupun kemiskinan terus dilakukan oleh kelompok nasyid Lampion. Termasuk dengan mendendangkan nasyid di mal, sehingga bisa didengarkan oleh masyarakat umum. Berdakwah melalui nasyid bagi masyarakat Tionghoa jadi misi besar Lampion. Tujuan utama mereka, kata Kelvin Ikhwan, adalah mendekatkan diri kepada Tuhan.

Diskusi

Tionghoa-NonNuslim 5 Februari 2011 - 1:31am / Amerika Serikat

Saya rasa koq orang Cina yang Muslim di Indonesia kebanyakan bukannya pindah agama masuk Islam, melainkan sejak kedatangan mereka dan/atau nenek-moyangnya dari Tiongkok memangnya sudah beragama Islam. Orang Cina yang Muslim ada banyak jumlahnya. Kecuali suku2 bangsa minoritas, seperti misalnya Uighur di utara serta suku Miao dan Bai di selatan, ada juga yang secara etnis tidak bisa dibedakan dari majoritas Cina Han. Mereka umumnya disebut orang HUI, tempat tinggalnya disekitar Xi'an, dimana ada mesjid yang tertua diseluruh Tiongkok.

Orang Han yang pindah agama masuk Islam di Tiongkok daratan jumlahnya sedikit sekali, boleh dibilang nihil. Zeng He (Ceng Ho) adalah anaknya Jendral suku bangsa minoritas yang ditaklukkan oleh Kaisar Tiongkok, dan sejak kecil dikebiri (eunuch, kasim), dan setelah dewasa dianugerahi pangkat menjadi Penjaga Harem (Thaykam). Di Indonesia (atau barangkali di Belanda?) bisa jadi ada banyak, terutama sebab mereka mau menunjukkan itikad baik, tetapi terlanjur keblinger.

Gunawan 22 April 2011 - 9:43am / Indonesia

Kalau anda tidak tau sejarah, sebaiknya lihat saja sambil mulutnya terkatub dan tak perlu memberikan komentaranya kalau tidak tau. Cina itu jauh lebih tua dari Mohamad. darimana engkau memperoleh ide sebodoh begini? Jangan karena perasaanmu cinta Isalam lalu seenaknya omong, lalu membodohi orang lain dengan perasaan tempe tahumu itu, nanti merusak suasana. Dimana saja, Islam itu berkembang bukan karena belajar, tapi karena perasaan. Akhirnya semuanya bisa mengaji tapi tidak tau dan mengerti isi ngajinya sendiri. Pintar ngga?

Anonymous 4 Februari 2011 - 12:34pm / amerika serikat

makanya kurikulum disekolah-sekolah harus dirubah untuk menaikkan jumlah wirausaha di indonesia...konon jumlah wirausahawan di indonesia 0,24% dari jumlah penduduknya...dibandikan di amerika serikat sekitar 7% lebih,,, SDM indonesia harus kita akui lemah dalam berbisnis. ingat hadis rasullah " 99% rezeki ummat adalah dari berdagang" mengapa kita tidak menjadi pedagang? lihat singapura dan belanda.

VOC 7 Februari 2011 - 6:31am / Nederlands Indie

Saya setuju! Anda benar .... Lihat saja itu dulu VOC ...!
Negara londo yang secuwil bisa menundukkan Indonesia yang ratusan kali besarnya sampe 300 tahun lebih ....

wonglondo 3 Februari 2011 - 11:53pm / londo

La sampeyan ini gimana sih. Omongan sampeyan rasis. Jangan begitu dong. Pis Pis

Anonymous 3 Februari 2011 - 9:32pm

Cina tetep aja cina. Gara2 cina, indon jd rugi 5,6 milyar dolar krn AC-FTA. Cuih..

Solider 4 Februari 2011 - 1:29pm

Jangan berpikiran sempit donk. Ngapain nyalah-nyalahin etnis sendiri, kalau kita sendiri ternyata emang pemalas? Udah waktunya bangun dari mimpi bung!

Andi 4 Februari 2011 - 11:34am

yang membuat negara kita hancur secara ekonomi dan terjajah finansial adalah karena sikap kita sendiri yang sering menyalahkan orang lain dan seringkali kaum minoritas seperti tionghoa jadi korban. padahal meski minoritas, hampir 80% perekonomian kita digerakan mereka. Kita harus intropeksi apa peran kita dalam membangun negara. Mengenai tionghoa muslim, itu adalah bagus. Karena semakin mendekatkan hubungan Muslim-non muslim, apalagi seringkali terdengar tionghoa identik dengan non muslim. Sudah sepantasnya kita sebagai muslim menerima mereka. Kepada anonimus, agamamu itu apa? Jika muslim, anda akan kualat terhadap Allah Swt dan Nabi besar Muhamad karena menolak kaum mualaf. Semoga kamu tersadarkan, Terimakasih Ranesi,

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Ranesi Pamit di Indonesia
Dalam rangka acara perpisahan RNW Indonesia 14 Juni di Erasmus Huis,...
Lampu Lalulintas Terlalu Cepat bagi Lansia
Makin banyaknya jumlah kelompok lansia ada dampaknya bagi masyarakat...