Historiografi Indonesia sarat pahlawan atau sosok yang berjasa bagi kemerdekaan. Dengan begitu mereka yang tidak berjasa, tidak masuk buku sejarah.
Apalagi kalangan yang salah pilih dalam sejarah, pasti tidak dijumpai di dalam historiografi Indonesia. Noto Soeroto adalah salah satunya. Ia tidak ingin Indonesia langsung merdeka dari Belanda. Sekarang di Belanda terbit biografi tokoh yang tidak diketahui orang ini.
Keduanya punya asal usul sama, maklum keduanya punya kakek yang sama. Tapi yang satu mendapat gelar pahlawan nasional sedangkan yang lainnya tidak dikenal orang di bumi kelahirannya. Yang jelas, sebagai cucu Pakoe Alam V yang berkuasa di Yogyakarta dari tahun 1878 sampai 1900, keduanya adalah bangsawan Jawa. Bukan itu saja, keduanya juga pernah menetap di Belanda, tapi keduanya tidak berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi, walaupun, sebagai keturunan ningrat di zaman kolonial, mereka berdua sudah memperoleh kesempatan untuk itu.
Gagasan latar belakang
Tapi persamaan di antara keduanya berhenti sampai di sini saja. Sesudah itu yang ada cuma perbedaan, bahkan perbedaan tajam laksana siang dengan malam. Dari awal, ketika masih mahasiswa Stovia, Soewardi Suryaningrat yang kemudian dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara sudah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ia termasuk pendiri Boedi Oetomo, organisasi pertama pribumi. Keluar dari Boedi Oetomo yang dianggapnya terlalu membèbèk penguasa kolonial, Soewardi bergabung dengan Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo untuk mendirikan de Indische Partij, partai politik pertama di Nusantara yang terang-terangan menyebut kemerdekaan Indonesia sebagai tujuannya. Soewardi memang ingin supaya Indonesia secepat mungkin merdeka dari penjajahan Belanda.
Tetapi Noto Soeroto justru tidak ingin Indonesia cepat-cepat dan benar-benar merdeka dari Belanda. Kalaupun sudah lepas dari penjajahan, maka menurut Soeroto masih dibutuhkan waktu lama, sebelum Indonesia bisa benar-benar sederajat dengan Belanda sebagai sebuah negara merdeka. Pendapat seperti ini jelas tidak dikenal dalam sejarah Indonesia. Mengapa demikian?
Menurut René Karels, penulis biografi Noto Soeroto, selama ini kita selalu mengikuti garis Soekarno-Hatta. Mereka adalah nasionalis nomer satu yang akhirnya berhasil mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Tetapi jangan dilupakan bahwa gagasan kemerdekaan yang diperjuangkan Soekarno-Hatta itu juga dilatarbelakangi oleh gagasan Noto Soeroto. Dia juga ikut serta dalam debat tentang kemerdekaan Indonesia.
Di sinilah duduk persoalannya. Yang dimaksud dengan ikut serta dalam pembahasan kemerdekaan Indonesia itu adalah pendapat lain Noto Soeroto. Noto Soeroto yang lahir di Yogyakarta pada tahun 1888 justru menghendaki supaya Indonesia sebanyak mungkin memanfaatkan kemajuan yang sudah dicapai Belanda, sebelum akhirnya merdeka, lepas dari Belanda.
Tak terbendung lagi
Baginya Indonesia tidak perlu harus langsung merdeka. Demikian lanjut René Karels. Kemerdekaan itu harus berlangsung lambat, harus benar-benar dipersiapkan. Misalnya Indonesia harus memanfaatkan semua kemajuan yang ada di Barat. Pendapatnya jelas berlawanan dengan keinginan kalangan nasionalis. Kita tahu keinginan para nasionalis itu laksana banjir bandang yang tidak terbendung lagi.
Noto Soeroto justru berkehendak menghalangi gagasan kemerdekaan langsung Indonesia. Dia memilih jalan tengah, apa yang disebutnya rijkseenheid, persatuan dua kerajaan, Belanda dan Indonesia di bawah pimpinan dinasti Oranje. Tapi waktu sudah tidak ada lagi, tidak ada lagi ruangan bagi gagasan semacam ini di kalangan para nasionalis yang menghendaki Indonesia merdeka secepatnya. Mereka juga tidak memperhatikan lagi gagasannya.
René Karels menambahkan, Noto Soeroto bisa berpegang teguh pada pendirian macam itu karena mungkin dia tidak sepenuhnya paham pemikiran politik pada zamannya. Atau bisa juga ia tidak menangkap tanda-tanda zaman. Mungkin juga karena dia begitu naif dalam berpolitik, dan inilah yang bagi René paling cocok dengan Noto Soeroto.
Bagaimana bisa begitu? Bagaimana Noto bisa naif pendirian politiknya? Inilah kesulitan yang dialami oleh René Karels, penulis biografi Noto Soeroto. Mungkin karena berdarah biru, Noto Soeroto berpendirian kalangan ningratlah yang bertugas mendidik bangsa Jawa supaya bisa menjadi bangsa merdeka. Bukankah Kartini juga berpendirian serupa? Tetapi ternyata, keponakan Noto, Soewardi justru berpendapat sebaliknya, merdeka dulu baru mendidik rakyat. Itu artinya latar belakang darah biru bukan merupakan alasan kenapa Noto Soeroto tidak menginginkan kemerdekaan Indonesia. Karena itu René Karels mengaku sangat berhati-hati dalam menulis biografi Noto Soeroto.
Harum konde ibunda
Ketika menetap di Belanda selama 25 tahun, dari tahun 1906 sampai 1931, antara lain untuk kuliah hukum dan ikut wajib militer Belanda pada Perang Dunia Pertama, selain menulis esei, Noto Soeroto juga menerbitkan tujuh kumpulan puisi. Kumpulan itu antara lain berjudul Melatiknoppen (kuntum melati), De geur van moeders haarwrong (harum konde ibunda) dan Wayang Liederen (Tembang Wayang), semuanya dalam bahasa Belanda. Inilah yang membuat Noto punya peran dalam sastra Belanda. Menurut René Karels, Noto adalah penyair Jawa pertama yang menulis puisi dalam bahasa Belanda. Dan bagi sastra Belanda jelas Noto Soeroto adalah penyair bukan penutur asli pertama yang bersajak dalam bahasa itu.
Puisi-puisi itu semula terbit dalam pelbagai majalah, René menjelaskan. Melatiknoppen, kuntum melati, terbit dalam majalah de Tijdspiegel. Pada tahun 1914 ia mulai menulis apa yang disebut prosa puisi. Ini bentuk baru, banyak orang menyukainya. Banyak unsur eksotisme di situ. Apa yang berasal dari jauh selalu menarik. Ada yang menyebut puisi Noto bernafaskan Jawa. Artinya, prosa puisi Noto yang tidak bersajak itu terdengar dan beriramakan seperti tutur kata seorang dalang. Itulah yang pada zamannya disebut sebagai unsur Jawa.
Estetis versus historis
Sebenarnya dalam menulis puisinya, Noto Soeroto tidak hanya dipengaruhi oleh tradisi Jawa, tetapi juga oleh Rabindranath Tagore, pujangga India pemenang hadiah Nobel Sastra. Dua pengaruh itulah yang melahirkan puisi-puisi tak bersajak, apa yang disebut prosa puisi. Ini hal baru dalam sastra Belanda pada waktu itu. Pada tahun 1920an sempat muncul aliran prosa puisi dalam sastra Belanda. Beberapa penyair menerbitkan karya-karya seperti itu. Ketika karyanya terbit, Noto Soeroto sendiri juga mendapat sambutan hangat para kritisi sastra. Sampai di sini bisa dikatakan Noto telah menancapkan perannya dalam sejarah sastra Belanda. Tetapi bukan itu saja.
Bagi René Karels, Noto telah memperkenalkan Jawa dan budaya Jawa di Belanda. Karena itu ia menulis puisi tentang Borobudur, tentang wayang, dan seterusnya. Dia memperkenalkan budaya Jawa pada publik Belanda dengan harapan publik Belanda menerimanya. Itu terjadi antara tahun 1915 sampai 1925. Lebih dari itu, dengan diperkenalkan pada dunia Barat, sejatinya Noto Soeroto juga ingin memanfaatkan kemajuan Barat bagi kemajuan Jawa, terutama kebudayaannya. Inilah gagasan utama Noto Soeroto: mencangkokkan budaya Barat ke dalam budaya Jawa.
Walaupun punya peran sejarah, tetapi menurut René Karels, Noto Soeroto juga sudah dilupakan oleh publik sastra Belanda. Salah satunya adalah karena sekarang puisi-puisi Noto sudah tidak dianggap indah lagi. Di sini René mengusulkan supaya Noto Soeroto tetap dipahami makna sejarahnya. Itu berarti walaupun puisi-puisi Noto Soeroto tidak lagi dihargai secara estetis, tetapi peran historis tetap diakui. Dan memang makna historis itulah yang paling tepat untuk Noto Soeroto. René menambahkan sampai sekarang masih ada saja kalangan yang mengagumi puisi-puisi Noto.
Masalah dan pergumulan
Setelah 25 tahun menetap di Belanda, Noto Soeroto kembali ke Indonesia pada tahun 1932. Ia tinggalkan tiga anak dan istrinya (bernama Jo Meijer, orang Belanda) di Belanda. Harapannya, kalau sudah punya uang, baru mereka bisa didatangkan ke Jawa. Harapan ini akhirnya tak terpenuhi. Hindia Belanda yang waktu itu dilanda resesi dunia, makin bangun dan bergerak menuju kemerdekaan. Tapi Noto Soeroto tetap berpegang teguh pada pendirian bahwa kemerdekaan Indonesia baru bisa terwujud kalau warganya sudah berpendidikan.
Ketika 10 tahun kemudian Jepang datang, Noto Soeroto yang menjabat sekretaris pribadi Mangkunegoro VII di Solo, ditahan oleh Kempetai karena dianggap terlalu dekat pada Belanda. Di Belanda, istrinya Jo Meijer juga ditangkap Nazi karena menyebarkan koran ilegal, ia dimasukkan ke Kamp Ravensbrück, khusus untuk kaum perempuan. Untunglah, berkat seorang bangsawan Swedia, Jo Meijer bisa selamat dari maut. Anak pertamanya, Rawi, sempat ikut perlawanan terhadap pendudukan Nazi. Tapi tertangkap dan harus menjalani kerja paksa di Jerman. Ketika Perang Dunia Kedua berakhir, dalam keadaan sakit parah, Rawi kembali ke Belanda. Tapi maut merenggutnya tahun 1945. Noto Soeroto sendiri meninggal dunia di Solo pada tahun 1951.
René Karels menyimpulkan kehidupan Noto Soeroto memang penuh drama dan penderitaan. Seperti bunyi salah satu larik pertama puisinya: "Kehidupan duniawiku penuh masalah dan pergumulan."






















kalo gak salah di buku Abdul Rivai, "Student Indonesia di Eropa" ada cerita sidang Noto Soeroto di depan perkumpulan mahasiswa di sana. Persoalannya mengenai tulisan Noto Soeroto yang mengkritik sikap non-kooperasi Perhimpunan Indonesia. (setelah cek di google ada juga cerita itu di P. Swantoro "Dari Buku ke Buku" dan Parakitri Simbolon, "Menjadi Indonesia")
Waktu itu ikut hadir Poerbatjaraka. Diceritakan, para mahasiswa tadinya mengira Poerbatjaraka akan membela Noto Soeroto karena sesama prijajinya (dalam buku P. Swantoro ditulis malah "Surakarta lawan Surakarta di Netherlands, padahal setau gue Noto Soeroto memang dari Paku Alaman). Namun ternyata Poerbatjarakan "menyindir" Noto Soeroto yang disebutnya tidak mengenal etik pergaulan dan kehormatan diri. Ia berdiri sambil memegang perutnya yang keroncongan karena tergantung pada "ondernemer kolonial". (dikutip Swantoro dari Memoir-nya Hatta).
Perspektif demikian terhadap Noto Soeroto bisa jadi tak lepas dari sudut pandang Hatta dan nasionalismenya. Gak tau juga sejauh mana ide kooperasi dan bentuk kemerdekaan bertahap memang sudah jadi "miring" di mata banyak pihak. Padahal Setja Boedi yang merupakan kolega dari Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat, pernah memperjuangkan peranan kelompok indo di hindia belanda. Ide ini bisa jadi serupa dengan ide kelompok indo yang kemudian memerdekakan diri dan menjadi tulang punggung di Afrika Selatan. Ide kelompok indo yang menjadi tulang punggung "de-kolonisasi" dan kemudian menjadi soko guru negara baru itu kalo gak salah pernah diusung sama Van Mook deh yah?
buat gue pribadi beragam ide kemerdekaan itu masih belum banyak diulas. Hal ini termsuk posisi kelompok BFO yang selama ini melulu dicitrakan negatif. Buku Doostood Naar Djokja sedikit mengupas hal itu yang bisa membuka pemahaman kenapa ada ide seperti itu. Seperti kita juga bisa menghargai ide federalisme yang pernah dicetuskan pasca-jatuhnya Soeharto
Saya jadi inget Pak Slamet Faiman (bapaknya Bagong, yg mengaku kurirnya Tan Malaka). Dia ini paling benci sama Noto Soeroto (Mungkin juga sebaliknya). Dia sebut (kerjanya cuma) 'Noto Serutu'. Plesetan ini konon zaman 1930an sudah populer.
Sangat bagus ulasannya. Sangat terkesan dengan perjuangannya meskipun tidak dikenal secara luas oleh masyarakat Indonesia. Terima aksih informasinya.
sewa mobil
sewa elf
rental elf
sewa mobil
INi mantap ini. Entah kalimat apa yang harus saya ucapkan selain mantap. Cuma mantap. Sekali mantap tetap mantap.
In retrospect, saya pikir Noto Soeroto (dan ‘teman-temannya’ seperti H. Th. Karsten dan (sampai batas tertentu) Mangkunagara VII) mungkin ada benarnya, dalam arti bangsa Indonesia perlu mendapatkan pendidikan sebagai persiapan untuk merdeka.
Yg menarik ialah ungkapan begini;
René Karels: selama ini kita selalu [ terlanjur terus terlanjur ] mengikuti garis Soekarno-Hatta. Yg adalah nasionalis nomer satu, yang akhirnya berhasil mewujudkan kemerdekaan Indonesia.
Tetapi jangan dilupakan bahwa gagasan kemerdekaan yang diperjuangkan itu juga dilatarbelakangi oleh gagasan [oposisi macam] Noto Soeroto. Alm. jelas juga ikut serta dalam debat tentang kemerdekaan Indonesia. /- artinya Noto Soeroto itu ikut serta memikirkan kemerdekaan Indonesia -/
Di sinilah duduk persoalannya. Yang dimaksud dengan ikut serta dalam pembahasan kemerdekaan Indonesia itu adalah pendapat lain [dari] Noto Soeroto [OPOSISI]. Karena Alm. masa itu justru menghendaki supaya Indonesia sebanyak mungkin memanfaatkan kemajuan yang sudah dicapai [Hindia]Belanda, sebelum akhirnya merdeka, lepas dari Belanda.
Kesan di masa sekarang, alm. pun bercita-cita bagi kemerdekaan koq; tetapi dlm tradisi penulisan sejarah (apa cuma Indonesia?) 'kan yg jadi pahlawan "mestilah" seseorang yg gagah perkosa. Yg kalah macam PKI, atau yg pro RIS doeloe, maupun riwayat macam mbah noto satu ini ... semuanya "mestilah" pecundang.
sejarah cuma bagi pemenang, perbedaan pendapat atawa konflik itu koq sama dengan perkelahian ya? hingga selalu ada yg menang dan kalah? ya jadi mirip dan niru pakem baratayudha dong si sejarah yg begituan
Salam sejahtera. ( Mogen alle levende wezens gelukkig zijn. ) Setalah berpuluh tahun aku mengkaji al Quran, maka ketahuanlah bahwa sesungguhnya Allah mengajrkan GLOBALISME dan INTERNASIOLIME>
Betapa tidak ( 1.) Tentang istilah KAFIR sangat jelas berawal dari al Baqarah Q.S. 2: 34. yaitu orang yang mewarisi watj Iblis ( pemberontak dalam arti seluasnya.) (2.) Manusia WAJIB menggunakan akal-budi-nurani kemanusiaan yang adil dan beradab. (3.) s. an Nahl Q.S. 16:90. adalah inti makna Deklarasi Hak Asasi Manusia. (4.) ASAS KEMITERAAN bagi seluruh bangsa-bangsa dimuka bumi. (5.) Larangan main kotor ( korrupsi.) (5.) Agama cinta-kasih kepada sesama , berupa Kabar Gembira dan Peringatan Allah wajib diteruskan oleh Nabi Muhammad s.a.w al Fathir Q.S. 35: 23. (6.) Orang mukmin ( nukan asal muslim!.) wajib menenteramkan dunia dari kekacauan yang dipicu oleh KEDENGKIAN. Belanda walau disebut penjajah Hindi Belanda tokh dekat sebelum meletusnya Perang Dunia ke II, MULAI menjalankan "politik etisnya" terhadap bangsa pribumi di Nusantara.... sayang setan-setan perang sudah meletuskan Perang Dunia II, dan kelanjutan politik etis Belanda gagal. Setelah Jepang kalah perang... Belanda ingin " menolong" bangsa ini dari penderitaan berat akibat pendudukan Jepang.
Semboyan Belanda yang datang keNusantara kembali dengan slogan " Voor Recht en Vrede." GAGAL.
Karena pemuda Indonesia sudah dilatih perang dan disuntik dengan semangat ANTI KOLONIAL. Pemberontakan diperpanas oleh ... tokoh-tokoh DEMAGOG. yang setelah berhasil menduduki singgasana dan kursi-kursi jabatan empuk , mereka pada melakukan KORUPSI.... sampai sekarang '
Bangsa Indonesia mayoritas muslim ... mereka membaca larangan korupsi di s. al Baqrah Q.S. 2: 188.
Semanag perang, main bunuh-bunuhan itu JELAS ilham SETAN. s az Zukhruf Q.S. 43: 37. s. Ibrahiim Q.S. al Hijr Q.S. 15: 30 - 41. Jadi rupanya Noto Soeroto sejalan dengan Firman Allah bahwa dengan bangsa apapun ia tetap MITERA mnusia, mereka bukan singa walaupun lambang kerajaannya SINGA.
Dunia akan lebih cepat DEWASA penduduknya jika mereka menggunakan asas KEMITERAAN, bukan asas " survival to the fittest." Jika bangasa atau RAS yang kurang cerdas dengan rela MAU dipimpin oleh bangsa yang lebih maju, itu namanya bukan PENJAJAHAN. Dan memang Allah tidak menganjurkan supaya manusia menindas manusia lainnya. Tetapi karena ada s. al A'raaf Q.S. 7: 179 yang menyatakan bahwa manusia yang tidak peduli kepada FirmanNYa ( dengan pengertian seluasnya.) maka manusia ituderajatnya lebih RENDAH dari hewan, dan sesuai FirmanNya di s. Kejadian Perjanjian Lama 1: 28. mereka wajib di "taklukkan" dalam arti di kondisifkan. Cara mengkondusifkan orang yang tidak peduli Firman Allah itulah yang bisa kebablasan menjadi GENOSIDA. Dan genosida itu tanpa KASIH.... jelas ilham SETAN. Kesimpulannya yang aku petik ialah bahwa Allah mendidik umat manusia secara evolusi berkembang menurut kemampuan akal-budi-nurani-rokhaninya, Jadi jika terjadi PERANG ya itulah prosesnya...Buktinya Belanda pada waktu tertentu sampai kepada pengakuan perlunya menjalankan POLITIK ETIS, karena bangsa ini bukan bangsa binatang melainkan manusia daging dan tulang yang mempunyai rasa kenusiaan juga. Bukan bangsa ikan-besar mencaplok ikan-ikan kecil tampa pertimbangan nurani kemanusiaa. Jadi kalai alm Noto Soeroto memilih kerja sama dengan Belanda ( mee lopen.) sampai siap untuk merdeka dengan tenang dan damai ya benar juga.
Konon ada orang tua Jawa yang sudah menasehati Bung Karno supaya jangan main bedil-bedilan dengan sinyo-sinyo Londo, tetapi dasar DARAH MUDA... suka main perang-perangan dan suka pada seragam tentara dan bintang jasa ini dan itu, lalu disebut sebagai PAHLAWAN KUSUMA BANGSA, yaa beginilah jadinya " thats the way it has to be." Dan karena semua orang adalah sebyek perubahan... ya mari terus saja sampai entah bagaimana jadinya, kalau belum terlanjur KIAMAT. Pokoknya orang yang mengiobarkan semanagt BERONTAK adalah pengiku IBLIS dan pengikut langkah IBlis itu jelas-jelas KAFIR. s. al Baqarah Q.S. 2: 34. Aku sendiri tidak suka main perang-perangan yang jelas KASAR, brutaal, vulgar dan diilhami setan-setan yang haus darah. Jelas kaum industrialis perlenkapan perang selalu menghendaki timbulnya PERANG supaya daganagnnya laku, lalu untung besar, walau banyak orang mati bergelimpangan dan bangunan-bangunan yang membangunnya makan waktu, bisa hancur dalam sedetik saja. Mengapa orang tidak memikirkan dan membuat alat-alat pertanian dan pembangunan saja, seperti dilambangkan di PTUNG di kantor PBB, orang yang menempa pedang untuk dijdikan alat pertanian. Itu kan sudah JELAS...idenya manusia santun dan susila bukan ilham SETAN. Ya sudah begitu saja dulu, barangkali lain kali ada kesempatan menulis lebih lanjut Daaaaaag.
Pahlawan asli berjuang utk kemerdekaan bangsanya dari penindasan penguasa asing dan bukan berjuang utk mendapatkan tanda jasa kelak. Pahlawan yg telah mengorbankan jiwa raganya karena merasa bangsanya tertindas dan mereka tidak menantikan tanda jasa.
Bapak Noto Soeroto ini apanya sejarawan Soeri Soeroto yach?
Trims atas komentarnya Prima. Tampaknya mereka tak ada hubungan keluarga. Keturunan Noto Soeroto ada di Belanda semua. Lagi pula Soeroto itu bukan nama marga. Mana ada orang Jawa bermarga?
Lewat media atau organisasi apa Soeroto mengekspresikan gagasan2nya yang Anti Kemerdekaan?
Noto Soeroto adalah penulis produktif. Banyak media massa Belanda memuat tulisannya. Dia adalah orang Indonesia/Jawa pertama yang menulis pada harian bergengsi NRC (sekarang NRC Handelsblad). Selain itu juga banyak media massa terbitan orang Indonesia di Belanda. Menurut René Karels Noto Soeroto menulis sekitar 250 artikel. Jangan lupa dia juga menulis buku. Dan tujuh kumpulan puisi. Terus, dalam urusan organisasi, dia sempat beberapa tahun menjabat ketua IV (Indische Vereeniging yaitu Perhimpunan Hindia). Terus dia tampil dalam pelbagai Indische Avonden, malam budaya Hindia. Bukan hanya untuk menari (antara lain bersama Soewardi) tetapi juga untuk mengumumkan gagasannnya. Gitu ja Kun. Trims atas komentarmu dan, sekali lagi, trims sudah mengambiil foto waktu aku wawancara René Karels.
Aku paling suka kalimat ini: "keduanya tidak berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi, walaupun, sebagai keturunan ningrat di zaman kolonial, mereka berdua sudah memperoleh kesempatan untuk itu."
Buwat Jafar, syukurlah kalimat itu yang Anda suka. Ternyata bangsawan bukan segalanya yach. Bagiku yang menarik adalah perbedaan dan persamaan antara Noto Soeroto dengan saudara sepupunya, Soewardi. Kok bisa begitu ya, aku terus-teruan bertanya.
Sayang polemik Noto di PI sama sekali ga disinggung. Itu menurut saya salah satu faset penting dlm kehidupan Noto, salah satu persinggungan paling kuat Noto dg pergerakan nasional berikut para protagonisnya.
Makasih komentar Anda Bung Zen. Terus terang saja, waktu bikin tulisan ini aku harus melakukan banjak apa yang disebut "pembunuhan kekasih" (to kill the darlings). Soalnya banyak topik yang ingin aku sertakan, tapi harus digugurkan, kerna maximal hanja boleh bikin 10 menit. Jadi yach soal konflik dengan PI itu termasuk korban pembunuhan. Bukunya menarik dan tebal. Entah kapan akan diterdjemahkan ke bahasa Indonesia.
Terima kasih, ini sisi-sisi sejarah yg perlu terus dimunculkan. Lalu bagaimana Noto Soeroto memadu kasih dengan Reiniera Roghair cewek Belanda di tanah londo itu juga menarik sekali, bung Joss..he he..saya masih penasaran dengan keturunan mereka apakah juga disebut sebagai "Indo" sebagaimana definisi dari Mauldin (1961) yg menyebutkan bahwa keturunan Indo adalah mix dari ayah Belanda dan ibu Hindia Belanda yg lahir di Indonesia (lalu sebagian besar kembali ke Belanda dan mengalami masa penyesuaian kultural yang tidak mudah), sementara utk kasus keturunan dari Noto Soeroto dan Reiniera Roghair agak terbalik, ayah Hindia Belanda dan ibu Belanda lalu lahir di Belanda, berarti "Indo" dengan varian yg berbeda nih... :=)
Hallo Bung Alpha, mungkin lebih baik menyebut mereka yang berdarah campuran sebagai orang Indo. Tanpa perduli di mana mereka bermukim. Sayang sekarang istilah Indo digunakan untuk menyingkat Indonesia. Padahal dulu artinya lain. Sebaiknya mereka yang berdarah campur, kalangan Indo itu, memprotes penggunaan kata ini untuk makna yang lain. Terima kasih atas komentar Anda. Salam.
Sebuah ulasan yang menarik, di tengah hingar-bingar tema dan tokoh 'sejarah' yang maha besar dan hebat.
Sebuah catatan: rasanya Rene belum menguraikan secara jelas ‘kenaipan Noto’ ketika menyikapi pekik ‘Indonesia Merdeka’. Saya sendiri lebih melihat ‘kejawaan’ yang amat pekat dalam manifestasi Noto, sedemikian ketika dia bergesekan dengan gerakan politik KHD, bak cerminan posisi pandang yang tidak nyambung: tempurung ‘Jawa’ membuatnya ‘keder’ untuk mewadahi nusantara…
Heel interessant, Joss! Terima kasih. Noto Soeroto memang terlalu Belanda untuk Indonesia, terlalu Indonesia untuk Belanda. Saya jadi berpikir, begitu sedikit yang kita tahu tentang sejarah bangsa kita sendiri dan betapa perlunya peneliti2 seperti Joss Wibisono dan René Karels. Saya rasa, sejarah sepatutnya diungkapkan seperti itu: focus on the person, karena pada akhirnya sejarah dilakukan oleh manusia.
Bagi teman yang tertarik membaca tentang puisinya: seorang rekan dari UI, Christina Suprihatin, sedang menulis disertasi mengenai puisi Noto Soeroto, silakan a.l. baca tulisannya di http://journal.ui.ac.id/?hal=detailArtikelWacana&q=2
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.