Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Avatar Fediya Andina
Map
Utrecht, Belanda
Utrecht, Belanda

Museum Maluku Hampir Bangkrut

Diterbitkan : 10 Agustus 2011 - 4:08pm | Oleh Fediya Andina (Foto: koleksi Museum Maluku)
Diarsip dalam:

Pengurus Museum Maluku atau MuMa di kota Utrecht, Belanda Tengah, mengumumkan, mereka mungkin  harus menutup museum tahun 2013, karena tidak punya cukup dana. Tiap tahunnya dibutuhkan paling sedikit 400 ribu euro, dan itu tidak bisa diperoleh dari hasil penjualan tiket masuk saja.

Ketua dewan pengurus, Dita Vermeulen, menjelaskan kepada Radio Nederland Wereldomroep. Tahun 1995 masyarakat Maluku di Belanda mendapat dana dari pemerintah sebesar 3,6 juta euro untuk mendirikan Museum Maluku. Dengan dana itu mereka antara lain membeli gedung yang saat ini masih ditempati, mengumpulkan koleksi dan kalau dibutuhkan membeli barang-barang bersejarah yang dipamerkan di museum lain. Muma terutama mengisahkan sejarah orang Maluku di Belanda, yang jarang disorot pihak lain.

Kehabisan dana
Selain suntikan dana tahun 1995, Museum Maluku tidak pernah menerima dana lain dari pemerintah Belanda. Selama 16 tahun, dari hasil penjualan tiket masuk, sponsor dan lain-lain, museum masih bisa bertahan. Tapi penghasilan mereka sangat berkurang. "Kami tidak berhasil mengumpulkan uang dalam jumlah yang sama, sehingga kami hanya bisa buka beberapa tahun ke depan. Kami sudah hampir kehabisan dana."

Museum Maluku sengaja didirikan terpisah dari museum Belanda lainnya. "Apabila kami menjadi bagian dari Rijksmuseum (museum nasional) di Amsterdam, ribuan orang dari seluruh penjuru dunia akan datang. Tapi koleksi Maluku hanya ada di satu ruangan kecil saja." Sedangkan sekarang semua orang yang tertarik akan sejarah Maluku harus datang khusus ke kota Utrecht.

Kurang Pengunjung
Museum Maluku tergolong museum kecil. Pengunjung yang datang ke museum ini juga tidak banyak. "Hanya orang-orang khusus saja. Orang-orang Maluku yang tinggal di Belanda atau dari negara lain di dunia, juga dari Indonesia. Para ilmuwan yang ingin tahu tentang Maluku dan orang-orang non-Maluku yang sangat tertarik akan sejarah orang Maluku." Dita Vermeulen sadar jumlah itu tidak banyak. Karena itu mereka tidak bisa bergantung dari hasil penjualan karcis masuk.

Pihak museum telah memeras otak untuk menarik lebih banyak pengunjung. Mereka tidak mau menaikkan harga tiket masuk. Usaha mereka, misalnya, dengan membuka restoran khusus berhidangan khas Maluku dan Indonesia. Ini bisa menarik pengunjung lebih banyak. Tapi ide itu tidak bisa direalisasi karena gedung museum mereka adalah bagian dari monumen kota Utrecht yang dilindungi.

"Kami tidak boleh memperluas bangunan. Tidak boleh mengubah arsitektur taman, tidak boleh menebang pohon begitu saja. Karena itu kami hanya bisa 'bermain' dengan ruangan yang ada," jelas Dita Vermeulen. Museum juga punya satu bangsal kecil, yang disewakan untuk berbagai kegiatan, tapi uang yang masuk tidak banyak.

Subsidi pemerintah
Dari 1990 hingga 1995 masyarakat Maluku di Belanda tiap tahunnya menerima subsidi dari Den Haag, termasuk untuk museum. Tahun 1995 subsidi dihentikan dan sejak saat itu mereka tidak pernah lagi dimasukkan ke dalam daftar penerima subsidi. Untuk meminta lagi sangat sulit. Selain itu pemerintah Belanda saat ini berencana mengurangi anggaran di bidang kebudayaan, dan tidak mengutamakan kepentingan kaum minoritas. Museum Maluku memang pernah menerima subsidi dari sejumlah departemen, tapi itu hanya sumbangan satu kali saja.

Pemerintah kota Utrecht tidak pernah menawarkan subsidi kepada Museum Maluku, karena MuMa tidak mengkhususkan diri tentang Utrecht atau penduduk Utrecht. Belakangan ini mereka mendapat sumbangan dari pemkot karena masuk bagian proyek pendidikan anak-anak sekolah. Banyak anak sekolah Utrecht yang datang untuk mempelajari sejarah orang Maluku di Belanda.

Tidak Beken
Satu hal penting yang harus dilakukan pengurus: mempopulerkan Museum Maluku di kalangan penduduk Belanda. Tapi untuk itu mereka harus menawarkan sesuatu yang istimewa. "Secangkir kopi dengan pastel atau makanan khas lainnya. Atau nasi rames yang enak. Itu bisa menarik pengunjung untuk datang ke museum." Dita Vermeulen mengakui, mereka juga tidak pernah mempromosikan museum kepada bangsa Asia lainnya.

Di Belanda banyak tinggal warga keturunan Indonesia, tapi kebanyakan tidak berminat datang mengunjungi museum. "Itu karena latar belakang sejarah. Seharusnya kami juga mempopulerkan Maluku kepada semua orang, termasuk orang Indonesia." Ingat saja pepatah "Tak kenal maka tak sayang."

Terkait:

Masa depan
Untuk dapat bertahan, pengurus Museum Maluku harus menghitung berapa banyak dana yang dibutuhkan agar bisa menjalankan tugas utama mereka. Mereka juga memikirkan kemungkinan bekerja sama dengan museum lain. Atau mendekati sejumlah perusahaan besar yang mungkin berminat. Tetapi yang pertama dan terpenting adalah meminta petunjuk dan bantuan dari masyarakat Maluku di Belanda.

Menurut Dita Vermeulen, rata-rata orang Maluku di Belanda punya penghasilan tidak besar. Selain itu orang Maluku juga banyak mengirim uang untuk keluarga di Maluku atau membantu lingkungan tempat mereka tinggal. Jadi MuMa tidak bisa berharap banyak. "Kami tidak bisa meminta sumbangan dalam jumlah besar. Tapi tiap euro yang masuk, kami sambut dengan tangan terbuka."

Diskusi

Erick xtrada 20 September 2011 - 8:46am / Indonesia

Sedangkan anak cucu orang-orang maluku di belanda aja hampir tidak memperdulikan musim maluku.kenapa demikian ? Karana mereka sebagian besar sudah tidak mau belajar adat maluku asli..mulai dari bahasa,tata krama sudah hampir mereka lupa..lebih bagus harata benda MUMA di pulangkan aja ke tua-tua adat/raja-raja di maluku..
nusa ina punya orang..SALOOM..

Saparua' Boy 19 Agustus 2011 - 3:45am / Maluku adalah NKRI tapi anti Orba (golkar,Suharto) dan KKN

Wajar saja museum Maluku itu bangkrut, iyalah..karena dana2 sumbangan yang mereka terima dari warga Belanda hasil jerih payah bayar pajak dikorupsi dan malah digunakan oleh orang2 RMS macam John Wattilete yang mengaku-ngaku orang Maluku untuk jadi provokator,bikin rusuh,jadi preman yang sungguh bikin malu kami sebagai orang Maluku NKRI( tapi anti Orba &Suharto KKN),rakyatdan pemerintah Belanda aja yg bodoh,kenapa masih saja mereka diberi dana,biarkan saja mereka cari makan sendiri,wahai Pemerintah Belanda dari pada anda sekalian kasih dana yg sia2 utk RMS yg ngaku2 Maluku lebih baik berikan pada kami sajalah orang Ambon Manise yg tinggal di propinsi Maluku,supaya berguna buat kami untuk berjuang memberantas kemiskinan dan KKN yang masih dilakukan sisa2 ORBA (keluarga Suharto,Golkar,Hanura,Gerindra, dan partai2 Neo Orba lainnya)

Marunda pagi 16 Agustus 2011 - 6:47pm

Di Indonesia jumlah penduduknya berjumlah 230 000 000 jiwa. 110 000 000 jiwa berada dibawa garis kemiskinan total. Apalagi yang mencari nafkahnya diperbukitan sampah, amatlah memprihatinkan. Untuk itu, buat apa kita pikirkan gedung mati itu, kalau memangnya KBRI mempunyai banyak duit, bantulah jutaan rakyat miskin yang kini terlampar dan terlantar tungggu mati diseluruh pulau Jawa itu. janganlah membiarkan mereka lapar sampai mati sedangkan KBRI mau menghaburkan uangnya membantu benda mati. Dimanakah prikemanusiaanmu? Masakan membantu gedung mati saja, kalain bisa menaruh jiwa, lalu bagaimana dengan jutaan jiwa yang terlampar dan terlantar tanpa makan diabaikan? Dimanakah logikamu?

Saparua' Boy 19 Agustus 2011 - 3:42am / Maluku adalah NKRI, tapi anti Orba (golkar,Suharto) dan KKN

Wajar saja museum Maluku itu bangkrut, iyalah..karena dana2 sumbangan yang mereka terima dari warga Belanda hasil jerih payah bayar pajak dikorupsi dan malah digunakan oleh orang2 RMS macam John Wattilete yang mengaku-ngaku orang Maluku untuk jadi provokator,bikin rusuh,jadi preman yang sungguh bikin malu kami sebagai orang Maluku NKRI( tapi anti Orba &Suharto KKN),rakyatdan pemerintah Belanda aja yg bodoh,kenapa masih saja mereka diberi dana,biarkan saja mereka cari makan sendiri,wahai Pemerintah Belanda dari pada anda sekalian kasih dana yg sia2 utk RMS yg ngaku2 Maluku lebih baik berikan pada kami sajalah orang Ambon Manise yg tinggal di propinsi Maluku,supaya berguna buat kami untuk berjuang memberantas kemiskinan dan KKN yang masih dilakukan sisa2 ORBA (keluarga Suharto,Golkar,Hanura,Gerindra, dan partai2 Neo Orba lainnya)

Marunda pagi 16 Agustus 2011 - 6:47pm

Di Indonesia jumlah penduduknya berjumlah 230 000 000 jiwa. 110 000 000 jiwa berada dibawa garis kemiskinan total. Apalagi yang mencari nafkahnya diperbukitan sampah, amatlah memprihatinkan. Untuk itu, buat apa kita pikirkan gedung mati itu, kalau memangnya KBRI mempunyai banyak duit, bantulah jutaan rakyat miskin yang kini terlampar dan terlantar tungggu mati diseluruh pulau Jawa itu. janganlah membiarkan mereka lapar sampai mati sedangkan KBRI mau menghaburkan uangnya membantu benda mati. Dimanakah prikemanusiaanmu? Masakan membantu gedung mati saja, kalain bisa menaruh jiwa, lalu bagaimana dengan jutaan jiwa yang terlampar dan terlantar tanpa makan diabaikan? Dimanakah logikamu?

Jagoan 15 Agustus 2011 - 5:50pm

Pendapat anda untuk sementara dikulkaskan dululah, karena selama puluhan tahun kami berada di Bumi Eropa ini, tidak pernah ada kesulitan seperti yang anda pikirkan dan yang biasanya terjadi dinegara morat maritmu itu mas. hal hal yang anda pikirkan itu memang terdapat dinegaramu itu, tapi dibumi Eropa, itu amat sulit. Pernahkah anda lihat dipasaran manapun di Eropa, ada jualan buah mangga, nangka dan durian, sementara itu tidak ada di bumi Eropa, jadi biarkanlah persangkaanmu itu dikulkaskan dululah. Karena nasehatmu itu, hanyala berujung nyolong. Percaya pemerintah Indonesia berarti percaya setan dari Arab saudi. Wasalam dan telan.

Ajinomoto 15 Agustus 2011 - 12:20am / Indonesia Raya

anda kalau mengaku sebagai orang maluku haruslah prihatin dengan berita diatas ajaklah rekan,sahabat,orang tua,sadara, untuk berbuat bagi lestarinya kebudayaan maluku dibelanda, saya sebagai orang indonesia saja merasa prihatin dan khawatir kalau sampai musium maluku ditutup karna itu juga adalah bagian kebudayaan indonesia, ingat bung! ini jaman modern bantuan itu bukan hanya uang atau materi semata itu sudah kuno, yang dimaksud diatas adalah mendorong KBRI untuk mengajak secara moril masyarakat maluku/indonesia yang ada belanda untuk sama sama perduli akan warisan budayanya, (penggalangan dana) kalau sudah ada gerakan sosial untuk perduli tersebut, maka dengan sendirinya bantuan materi akan datang, bangsa yang besar adalah bangsa yang mengargai kebuadayaannya, lalu apa solusi anda sebagai manusia yang beradab?, apakah anda perduli? sekali kali dana bantuan dari pemerintah Belanda atau NGO/LSM yang jumlahnya besar itu untuk organisasi kalian disumbangkan untuk musium maluku jangan masuk kantong sendiri donk! kita saja perduli masa RMS cuek aja,, jangan pelit bung, kata orang dulu nanti kuburannya sempit luh!!

SatuNanah 15 Agustus 2011 - 12:06am / Belanda

ekonomi Belanda rusak, kacau, eropa mauh hancur. ajak sahaja sodara-sodara maluku ini pulang kampung. di sini katong tidak bisa hidup, monoton, naik motor pusing-pusing dikejar toean-toean belanda.

Anonymous 14 Agustus 2011 - 4:17am

katanya banyak orang maluku dibelanda bahkan ribuan orang kok tega teganya salah satu peninggalan sejarah bangsa maluku dibelanda dibiarkan mati perlahan lahan, coba saja ada warga maluku/indonesia yang berinisiatif untuk penggalangan dana mudah mudahan agak sedikit terbantu, ayo KBRI dibelanda ikut bantu dong! itu juga salah satu warisan budaya indonesia maluku dibelanda

Malik 14 Agustus 2011 - 12:45pm / Indonesia

Kalau KBRI ikut membantu, maka dana itu asalnya dari KKN goblok. Darimana ada uang sebanyak itu untuk KBRI? Nyolong ya? Kalau di Indonesia itu bisa nyong kiri dan kanan, maka di Belanda janganlah karena nati ketahuan belangnya. Lebih repot lagi nama Indonesia didunia maya pada ini deh. Bukan ketolong, malah menyolong. Kenapa anda berani berani memasukan pendapat kotormu pada milis ini lagi mas? Rupanya mas ini juga tukang nyolong ya? Nah bantulah dengan nyolongmu itulah.

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET