Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 24 Mei  
Ketua PP Muhammadiyah di Yogyakarta
Avatar Agrar Sudrajat
Map
Yogyakarta, Indonesia
Yogyakarta, Indonesia

Muhammadiyah Hormati dan Jaga Pluralisme

Diterbitkan : 5 Juli 2010 - 12:55pm | Oleh Agrar Sudrajat (Foto O'ong Marjono/Agrar Sudrajat - RNW)
Diarsip dalam:

Hari-hari ini, di Yogyakarta berlangsung Muktamar Muhammadiyah. Menurut penghitungan kalender Hijriah, organisasi muslim besar ini didirikan pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330. Berarti, tahun ini, 1431 Hijriah, Muhammadiyah berusia genap satu abad.

Berikut penjelasan Muhammad Najib Azca, dosen Universitas Gadjah Mada yang sedang melakukan penelitian mengenai 'Gerakan Sosial Agama Paska Konflik Komunal' di Universiteit van Amsterdam, mengenai organisasi muslim besar di Indonesia tersebut:

Muhammad Najib Azca (MNA): Pertama kali saya mengucapkan selamat pada Muhammadiyah, karena kiprahnya sudah satu abad di Indonesia, sejak 1912 sebenarnya kalau menurut kalender Masehi, tapi 100 tahun dari sisi Hijriah. Saya kira, kontribusi Muhammadiyah dalam sejarah Republik Indonesia sangat besar. Bergerak di bidang pendidikan, dakwah, membangun jaringan yang sangat luas, tidak hanya di Indonesia saya kira, tapi juga bahkan di luar negeri. Saya kira ini menjadi suatu titik penting dalam pengembangan umat Islam di Indonesia, yang saya kira kemudian pada hari-hari ini kita dapat, paling tidak, memiliki dua pilar yang kuat dalam konteks masyarakat muslim yang santri, yang taat pada agama, tapi sekaligus menghormati dan menjaga pluralisme. Pilar penting dari civil society di Indonesia.

Radio Nederland Wereldomroep (RNW): Bung Najib, hubungan organisasi Muhammadiyah dengan penguasa, pada zaman kolonial Belanda, zaman Demokrasi Terpimpin, zaman Orde Baru, bagaimana?

MNA: Saya kira, ini menarik, karena kalau kita lihat pada masa kolonial, mungkin saya kira kita awali dengan kolonial, Muhammadiyah termasuk yang cukup adaptif menerima gagasan-gagasan baru di bidang pendidikan. Saya kira, Muhammadiyah termasuk yang awal mendirikan lembaga-lembaga pendidikan, yang mengadaptasi konsep-konsep pendidikan Barat. Meskipun dari satu sisi ia melakukan pemurnian dari sisi keagamaan, yang dari sisi itu kadang-kadang dia bergesekkan dengan NU. Tapi di sisi yang lain, dalam hal mengakomodasi pemikiran-pemikiran modern, saya kira Muhammadiyah bagus. Saya kira ini memang mengikuti trend pemikiran yang sedang berkembang waktu itu di dunia internasional, mengenai modernisme Islam, yang dikembangkan oleh Muhammad Abduh dan kawan-kawan.

Klik tanda panah di bawah untuk mengikuti wawancara lengkap:

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Ranesi Pamit di Indonesia
Dalam rangka acara perpisahan RNW Indonesia 14 Juni di Erasmus Huis,...
Lampu Lalulintas Terlalu Cepat bagi Lansia
Makin banyaknya jumlah kelompok lansia ada dampaknya bagi masyarakat...