Tewasnya seorang pelaku aksi mogok makan menghebohkan Venezuela. Franklin Brito, seorang pengusaha tani, memprotes pencabutan hak pemilikan lahan kepunyaannya oleh pemerintahan sosialis, Hugo Chávez.
Kematian pemilik lahan ini menjadi tema kampanye pemilu legislatif yang akan berlangsung akhir bulan ini.
Reformasi Agraria
Franklin Brito, pemilik lahan dan penentang pemerintahan Hugo Chávez, telah melakukan aksi mogok makan selama berbulan-bulan. Ia memprotes perampasan hak lahan miliknya. Pada tahun 2003, lahan miliknya seluas 290 hektare, dibagi-bagikan pada kelompok petani tanpa lahan, dalam rangka Revolusi Bolivarisme.
Sejak saat itu, Franklin Brito berusaha memperjuangkan lahan miliknya melalui jalur hukum. Namun sia-sia, menurut pemerintah sama sekali tidak ada perampasan hak milik. Karena putus asa, Franklin Brito pernah memotong jari manisnya, dan beberapa kali melakukan aksi mogok makan.
Akhir tahun lalu, Hugo Chávez bersedia mengakui adanya hak pemilikan. Tapi, Franklin Brito kembali melakukan aksi mogok makan karena pemerintah tidak bersedia, secara tertulis, membatalkan perampasan lahan miliknya. Franklin Brito juga menuntut ganti rugi.
Agar mendapat perhatian dunia internasional, ia berkemah di pinggir jalan, di muka kantor Organisasi Negara Negara Amerika. Selanjutnya, ia dipindahan secara paksa ke rumah sakit militer. Pekan lalu ia meninggal dunia, karena keracunan pendarahan. Berat badannya tidak sampai 40 kilogram.
Pembunuhan
Sejak itu Venezuela heboh. Menurut kalangan oposisi Franklin Brito 'dibunuh' oleh Hugo Chávez. "Ia korban kebijakan pertanian, yang dilaksanakan tanpa pandang bulu," kata aktivis hak azasi manusia merangkap tokoh oposisi Delsa Solorzano.
Teodoro Petkoff, pemilik koran oposisi menulis bahwa: "Orang-orang yang membiarkan Franklin Brito meninggal dunia, tidak mempunyai perasaan, karena mereka tidak mau bertanggung-jawab."
Pemerintah memang sama sekali tidak punya niat mengaku bertanggung-jawab. "Dia sendiri yang melakukan itu semua," kata seorang juru bicara pemerintah. Beberapa waktu lalu pemerintah sempat menyatakan bahwa Franklin Brito menderita gangguan kejiwaan.
Dalam pernyataan lain, pemerintah menuduh pihak oposisi sengaja mendorong kematian tersebut untuk menciptakan drama mengerikan.
"Mereka menyalah-gunakan tragedi seorang manusia dan keluarganya, demi memenangkan pemilu, untuk merongrong kewibaan pemerintah yang sah dan terpilih secara demokrastis," kata juru bicara pemerintah. "Bagaikan burung pemakan bangkai, mereka menunggu kematiannya."
Martir
Dengan demikian sang juru bicara mengacu pada pemilu mendatang. Menurut hasil berbagai jajak pendapat, dukungan terhadap partai-partai pendukung Hugo Chávez cukup kuat. Memang, masih menjadi tanda tanya besar, apakah kalangan oposisi akan berhasil meraih suara mayoritas.
Dengan demikian, kematian pengusaha tani ini memang akan berperan penting selama masa kampanye. Franklin Brito menjadi martir pihak oposisi. Upacara penguburannya akan menjadi ajang unjuk rasa politik.
Masih menjadi tanda tanya, apakah Franklin Brito akan menentang unjuk rasa seperti itu. Keluarganya sendiri malah setuju. Dengan demikian kematian Franklin Brito tidak sia-sia. Karena, protes Franklin Brito tidak hanya menyangkut lahan milik mereka.
Reformasi agraria juga merugikan sekian banyak pemilik lahan lainnya. Protes atas kebijakan bahwa di Venezuela, semua pemilikan pribadi, harus diabdikan demi revolusi.
Kematian Franklin Brito juga menujukkan keberpihakan hukum. Pada dasarnya, hakim selalu akan membenarkan pihak pemerintah. Menunjukkan makin merosotnya mutu demokrasi Revolusi Bolivarisme. Singkat kata, di Venezuela, berbagai persoalan sudah lama tidak lagi menjadi bahan diskusi serius. Semua pihak merasa mereka lah yang paling benar.
Kebenaran
"Rakyat Venezuela yang bijaksana mengetahui keadaan sebenarnya," kata juru bicara pemerintah. Yang jadi masalah, di Venezuela yang sudah terpecah dua ini, orang tidak lagi perduli, soal siapa benar atau salah.
Yang penting adalah memanfa'atkan kenyataan yang ada demi kepentingan sendiri. Dan untuk itu, orang bisa melakukan apa saja. Termasuk, mendapat manfa'at politik dengan tewasnya seorang pelaku aksi mogok makan. Atau dengan menganggap enteng peristiwa kematian tersebut.
Yang jelas, lahan milik Franklin Brito tidak dikembalikan kepada ahli warisnya. Lahan tersebut sudah dibagi-bagikan pada kelompok pendukung pemerintah. Dan sejak tahun 2003, mereka lah pemilik resmi lahan tersebut.
























Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.