Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Selasa 18 Juni  
Hands Behind Prison Bars
Avatar Joss Wibisono
Map
Hilversum, Belanda
Hilversum, Belanda

Mereka Bukan Penjahat: Mengenang Tapol Orde Baru

Diterbitkan : 30 Maret 2012 - 11:06am | Oleh Joss Wibisono (Foto: Vectorportal)
Diarsip dalam:

Di zaman Orde Baru dulu, penjara Indonesia disarati tahanan politik, kalangan yang dipenjara karena keyakinan politik mereka. Banyak pula kalangan yang sering berkunjung untuk menengok, membantu bahkan merawat mereka seperti orang sakit saja. Mengapa demikian dan apa manfaat menjenguk tahanan politik ini?

Pada akhir kekuasaan Orde Baru, sekitar paruh kedua tahun 1990an, makin banyak saja tahanan politik di Indonesia. Mereka ditahan bukan karena perbuatan kriminal, melainkan karena keyakinan politik mereka.

Mereka percaya pemerintahan Soeharto, yang waktu itu sudah berkuasa selama tiga dekade, harus turun karena sudah tidak lagi mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia. Mereka memang anti pemerintah, jelas ini bukan tindakan kriminal.

Walaupun begitu anggapan Orde Baru, si penguasa otoriter, tidaklah demikian.

Terkait:

Cabut dari NKRI
Tahanan politik itu antara lain adalah para wartawan yang menghendaki kebebasan pers, mereka tergabung dalam AJI, Aliansi Jurnalis Independen yang terbentuk menyusul pembredelan Tempo, Detik dan Editor.

Kemudian aktivis politik yang ingin mendirikan partai politik baru, juga aktivis buruh yang bercita-cita mendirikan serikat buruh baru, dan tentunya seniman yang menginginkan kebebasan berkreasi.

Tidak boleh dilupakan mereka yang dipenjara karena peristiwa G30S, tahanan politik pertama Orde Baru. Kemudian kalangan yang disebut separatis, mulai dari Aceh, Papua dan, terutama, orang-orang Timor Timur. Mereka bercita-cita mendirikan negara sendiri, keluar dari NKRI.

Banyaknya jumlah tahanan politik ini mengundang kalangan yang rajin mengunjungi mereka di penjara. Pertama, karena kondisi penjara Indonesia memang tidak baik, sehingga para tahanan harus mencukupi sendiri kebutuhan sehari-hari mereka.

Kedua, karena memang tidak banyak organisasi yang khusus membantu para tahanan politik. Inilah yang mendorong antara lain Titi Supardi untuk menyibukkan diri dengan para tahanan politik itu, padahal dia adalah wartawan.

Dana memasak
"Saya dan Bimo bertugas mengunjungi, mengirim kebutuhan mereka, kemudian perlu apa, adakah informasi yang perlu disampaikan ke keluarga," Titi Supardi memulai paparannya. Atau kadang ada juga keluarga yang perlu diberitahu sesuatu, kondisinya begini, dan seterusnya. Tapi dia juga mengatur keluarga itu menengok para tapol.

Suatu ketika kakak Danang Kukuh Wardoyo, salah satu tapol aktivis Aliansi Jurnalis Independen AJI, tidak bisa berkunjung tiap minggu. Tapi Danang tetap ingin dikunjungi kakaknya. Titi Supardi, "Saya harus menghubungi kakaknya. Pada kunjungan berikut Danang saya beritahu, o kakakmu akan datang pada hari ini. Ibumu di Kediri baik-baik saja, misalnya seperti itu."

Titi menganggap kawan-kawannya yang tahanan politik ini menarik. "Misalnya Taufik," contohnya menyebut Ahmad Taufik, wartawan mingguan Tempo, salah seorang pendiri Aliansi Jurnalis Independen, AJI. "Disekap di Cipinang, pada bulan puasa Taufik memasak sendiri."

Maka harus disediakan dana khusus, dan Titi merasa untung karena waktu itu banyak kawan menyumbang. Taufik terus memasak untuk sahur dan buka bersama, untuk satu blok terdapat sekitar 19 orang. Untuk itu, dua hari sekali Titi harus membawa sayuran atau makanan lain.

"Karena hubungan baik dengan sipir, saya bisa memasukkan kebutuhan-kebutuhan untuk selama bulan puasa, lewat sipir," kenangnya.

Hubungan baik dengan sipir itu, menariknya, dimulai dengan tipu muslihat supaya bisa membawa pelbagai barang dan perlengkapan masuk penjara. Titi Supardi berterus terang, "Tipu muslihat artinya dengan bantuan kawan-kawan juga. Karena aku mengaku sebagai tantenya Danang, ketika Danang ditahan di penjara Pondok Bambu”.

Dalam tipu muslihat ini Titi konsisten, “Dari awal ke jaksa dan petugas lain aku mengaku tantenya Danang,” tuturnya.

Bukan penjahat
Cara seperti ini bukan tanpa resiko. Ketika Ahmad Taufik dan Item dipindah dari Salemba ke Cipinang bersamaan dengan hilangnya Edi Tanzil, seorang non-tapol yang disekap karena penggelapan.

"Waktu itu dengan mobil sendiri kami membawa barang-barang mereka untuk dimasukkan ke Cipinang. Ada komputer dan banyak buku. Karena penjara sedang sibuk mencari Edi Tanzil, semua komputer itu tidak diseleksi, bisa masuk semuanya," Titi bertutur dengan kegirangan.

Di Cipinang Titi mengaku saudara sepupu istri Taufik. "Kalau ada keperluan khusus aku bisa masuk khusus, menengok khusus misalnya".

Dia merasa beruntung bisa menjalin hubungan baik dengan kalangan sipir penjara. "Mereka seperti tahu kawan-kawan ini bukan penjahat. Bahkan, saking baiknya hubungan kami, sampai ketika sipirnya itu mantu, menikahkan anaknya, kami diundang," Titi makin berterus terang.

Alhasil hubungan itu makin membaik. "Kalau waktu kunjungan habis kami masih boleh di situ."

Titi juga ingat di Salemba ada pelajaran bahasa Inggris. Teman-teman ini bisa mengikuti kursus bahasa Inggris yang diberikan oleh seorang sarjana bahasa Inggris, Hari Ning. Dia mengajar bahasa Inggris, di luar jam kunjungan.

Revolusi 45
Berbeda dengan Titi yang membantu tapol di penjara, Nugroho Katjasungkana pertama-tama bergabung dulu dalam Joint Committee for the Defence of East Timor, sebuah LSM Indonesia yang beranggotakan para pendukung kemerdekaan bekas jajahan Portugal itu.

Di jaman Orde Baru, banyak pejuang Timor Timur yang dipenjara di berbagai rutan di Indonesia. Ia berpendapat perjuangan rakyat Timor Timur mencapai kemerdekaan tidak berbeda dari perjuangan orang Indonesia ketika ingin merdeka dari Belanda.

"Mereka memperjuangkan kemerdekaan negeri mereka dari kolonialisme Portugal. Ketika mereka memperjuangkan itu, tiba-tiba diinvasi Indonesia," tutur Nugroho. Sebelumnya, dari kakek atau pamannya dia mendengar perjuangan Indonesia dalam Revolusi 45, maklum mereka ikut bertempur memperjuangkan kemerdekaan.

“Lalu saya berpikir,” Nugroho berlanjut, “Lho kok yang mereka perjuangkan di Timor Timur sama dengan yang dulu diperjuangkan pemuda-pemuda tahun 45 itu?”

Di sini Nugroho sadar, perjuangan orang Timor Timur itu adalah sesuatu yang benar. Lebih lagi dia melihat perjuangan mereka justru sejalan dengan konstitusi Indonesia yang menegaskan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, oleh karena itu penjajahan harus dihapuskan dari muka bumi.

“Jadi perjuangan mereka sama saja dengan perjuangan kita,” Nugroho yakin. Dia juga tahu, masalahnya Indonesia menuntut wilayah itu dan memanipulasi semuanya.

“Dasar klaim itu manipulasi,” tegas Nugroho. Oleh karena itu, ketika merasa terbuka matanya, dia memutuskan untuk bersama-sama warga Timor Timur berjuang melawan orde baru. Tentu tidak dia tidak sendirian, karena beberapa kelompok lain juga berpendirian serupa, mereka memutuskan untuk bersama-sama membentuk perlawanan terhadap Orde Baru.

Minggu depan: Bagaimana mengusir kebosanan dalam penjara serta mengapa seorang Indonesia mendukung kemerdekaan Timor Timur.

Diskusi

Anonymous 1 April 2012 - 2:05am

Kalau sekarang para politikus Indonesia bukan mementingkan keyakinan idiologi, tetapi mencari ketenaran. Contohnya PDI Perjuangan menentang kenaikan harga BBM. BBM merupakan sumber energi yang habis dipakai alias tidak dapat diperbaharui, tetapi dipertahankan dengan harganya Rp4.500,-/liter sampai kapanpun. Seandainya BBM telah habis dan langka di Indonesia apa arti uang Rp4500. Itu kan hanya akal-akalan untuk cari populer supaya dapat terpilih di PEMILU yang akan datang dan bisa mengumpulkan uang dengan cara korupsi. Kondisi ini bertolak belakang dengan orang2 pejuang yang mempertahankan idiologinya mengorbankan segalanya bahkan rela masuk penjara.
Maka tolonglah para politisi jangan terus menjadi tikus yang selalu menggerogoti rakyat.

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Ranesi Pamit di Indonesia
Dalam rangka acara perpisahan RNW Indonesia 14 Juni di Erasmus Huis,...
Lampu Lalulintas Terlalu Cepat bagi Lansia
Makin banyaknya jumlah kelompok lansia ada dampaknya bagi masyarakat...