Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Sabtu 25 Mei  
Bersembunyi dari Pasukan Nazi Jerman
Avatar Joss Wibisono
Map
Hilversum, Belanda
Hilversum, Belanda

Menunda Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Diterbitkan : 4 Mei 2012 - 3:30pm | Oleh Joss Wibisono (Foto: Ondergedokenalsannefrank)
Diarsip dalam:

Bagi orang Belanda 4 Mei adalah Dodenherdenking. Itulah saat Belanda mengenang mereka yang berkorban bagi pembebasan negeri kincir angin dari pendudukan Nazi Jerman selama Perang Dunia Kedua.

Di antara mereka yang tewas akibat ulah Nazi ada nama-nama seperti Irawan Soejono, Sidartawan atau Moen Soendaroe. Jelas bukan nama-nama Belanda. Adakah orang-orang Indonesia ini berkorban bagi pembebasan Belanda? Bagaimana dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia?
 

Terkait:


 
Organisasi kerukunan
Ketika pada tanggal 10 Mei 1940 Belanda diduduki Jerman dan Ratu Wilhelmina serta pemerintahan Perdana Menteri Dirk Jan de Geer mengungsi ke London, Belanda memasuki apa yang disebut bezettingsjaren, alias tahun-tahun pendudukan Nazi Jerman. Rakyat Belanda hidup dalam penjajahan yang berlangsung selama lima tahun.

Waktu itu juga banyak orang Indonesia, resminya warga Hindia, yang menetap di Belanda. Mereka bisa bergabung pada dua organisasi Indonesia di Belanda, Roepi singkatan Roekoen Peladjar Indonesia dan PI Perhimpoenan Indonesia. Yang pertama lebih merupakan organisasi kerukunan, sedangkan Perhimpoenan Indonesia adalah organisasi politik. Sebelum Perang Dunia Kedua PI dekat dengan partai komunis Belanda, mereka juga tidak terlalu menonjol karena itu tidak menarik banyak orang.
 
Sejarawan Belanda Harry Poeze menunjuk bahwa pada akhirya Perhimpoenan Indonesia membuka diri dan lebih bergeser pada kalangan sosial demokrat, SDAP. Ini menyusul terbentuknya volksfront atau front rakyat yaitu persekutuan kalangan kiri untuk menghadapi fasisme yang mulai bercokol di Jerman. Ketika merayakan 30 tahun berdirinya, PI mengundang pembicara utama seorang tokoh partai buruh Belanda.
 
Herman Keppy yang meneliti perlawanan warga asal Hindia di Belanda menegaskan bahwa para mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di Belanda sangat sadar atas perkembangan dunia. Dalam penerbitan PI tertera bahwa mereka tetap memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Tetapi fasisme mengancam, jadi diputuskan untuk memihak sekutu melawan fasisme. Jadi terlebih dahulu mengalahkan fasisme, setelah itu baru memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
 
Dengan luapan emosi Herman Keppy menjelaskan betapa tajam analisa orang Indonesia waktu itu. Banyak orang Belanda yang tidak sadar ancaman fasisme. Tapi orang Indonesia lain. Mereka sudah tahu dari awal, bahkan ikut dalam perang saudara di Spanyol yang bergejolak dari tahun 1936-1939.

Tidak berhak
PI sempat mengeluarkan pernyataan yang mengecam keputusan pemerintah Belanda dan Ratu Wilhelmina hengkang ke London. Dalam pernyataan yang ditandatangani oleh Setiadjit, salah satu pengurus PI, tertera bahwa dengan kaburnya pemerintah Belanda, maka Indonesia memperoleh status baru. Indonesia harus diperintah oleh bangsa Indonesia sendiri. Belanda sudah tidak berhak lagi memerintah Indonesia.
 
Bagaimanapun pendudukan Jerman pada akhirnya juga berdampak bagi orang-orang Indonesia yang waktu itu bermukim di Belanda. Hubungan dengan Indonesia terputus, sehingga kiriman uang terhenti. Kuliah juga terhenti, karena pemogokan tenaga pengajar. Cepat atau lambat, orang Indonesia di Belanda akhirnya terlibat juga dalam perlawanan terhadap pendudukan Jerman yang mereka alami sendiri.

Perlawanan yang paling sederhana adalah ikut menyebarkan pamflet-pamflet gelap, berisi berita-berita perang, misalnya bagaimana dari hari ke hari Jerman makin terdesak. Dalam pamflet itu juga tertera kabar berita yang diperoleh dari tanah air. Di Amsterdam misalnya ada keluarga Indonesia yang memiliki mesin stensil, mesin cetak sederhana yang digunakan untuk menggandakan pamflet-pamflet itu.

Kerja paksa
Kemudian banyak pula orang Indonesia yang membantu kalangan yang bersembunyi. Bukan hanya menyediakan tempat persembunyian, tapi juga menyediakan makanan bagi mereka yang bersembunyi.
Banyak kalangan bersembunyi untuk menghindari panggilan kerja paksa di Jerman, apa yang dalam bahasa Jerman disebut sebagai Arbeiteinsatz. Yang paling menonjol adalah orang-orang Indonesia yang mengangkat senjata, menjadi militer sukarelawan dan melancarkan aksi sabotase terhadap Nazi Jerman.

Alhasil, dalam kesibukan perlawanan terhadap pendudukan Jerman ini, perjuangan bagi kemerdekaan Indonesia mereka tunda dulu. Ini semacam kesepakatan tak terucap di kalangan orang Indonesia di Belanda. Perjuangan kemerdekaan Indonesia baru akan dilanjutkan kalau Belanda terbebas dari pendudukan Jerman.

Tapi tidak sedikit yang harus membayar mahal kegiatan bawah tanah mereka. Irawan Soejono misalnya tewas ditembak Nazi ketika mengangkut mesin stensil di Stasiun Leiden. Moen Soendaroe dan Sidartawan tewas di kamp konsentrasi Nazi. Sejarawan Belanda Harry Poeze menyebut semasa Perang Dunia Kedua itu, paling sedikit delapan orang Indonesia tewas.

Tidaklah mengherankan kalau Belanda menghargai langkah berani orang Indonesia ini dengan, misalnya, memberi nama jalan Irawan Soejonostraat di kawasan Osdorp, Amsterdam barat.

Ketika akhirnya Nazi Jerman bertekuk lutut, bagaimana perjuangan kemerdekaan Indonesia dilanjutkan? Ikuti bagian kedua, pekan depan.

  • Buku kenang-kenangan 30 tahun Perhimpunan Indonesia<br>&copy; http://www.hermankeppy.com/index.php?id=nederlands-indie-tegen-duits-nederland
  • Irawan Soejonostraat di Osdorp, Amsterdam barat<br>&copy; Ranesi

Diskusi

ibing 15 Mei 2012 - 12:16pm / Indonesia

Salam untuk RANESI, saya baca di ketentuan komentar, tertulis disitu : " RNW berhak menghapus komentar diluar topik atau mengandung unsur penghinaan ".
Saya membaca komentar-komentar untuk ratikel: " Menunda Perjuangan kemerdekaan Indonesia ", sangat tidak kontekstual dan ada unsur menghinanya.
Apakah RNW tetap konsisten dgn sikapnya>

Thanks.

Anonymous 9 Mei 2012 - 4:25pm

kikikikik......., bualan babi2 rms tetap sama sejak 60 tahun silam. mereka belum pernah buka mata kalau dunia sudah berubah. babi2 rms masih terbuai mimpi kalau tidak ada indonesia, yg ada (menurut khayalan mereka) adalah hindia belanda. hahahahahahahaha.....
bangun bung !!!! bangun !!!! jangan kau tiru ketololan kakek2 kalian yang bodoh dan pengecut lari terbirit2 ke belanda

Anonymous 9 Mei 2012 - 9:47pm

Mantap juga amarahmu membuatku terkentut kentut di Gajah mada Plasa. Kalau kakek2ku bodoh, kenapa SBY takut datang di Belanda 6 Oktober 2010? SBY itukan president Indonesia yang diundang langsung oleh Ratu Belanda. Rombongan yang datang itu terdiri dari para anggota kementrian Indonesia di Jakarta, pintar semuanya, tapi kenapa takut datang? Konyol juga presidentmu, bodoh ataukah pintar? Pasti bodoh dan pengecut lagoa. Betul ataukah tidak?

Ibrahim Isa 5 Mei 2012 - 11:40am / ORANG INDONESIA YANG BERWARGAKENGARAAN BELANDA

Cerita di atas sesuai dengan catatan sejarah di banyak dokumentasi perjuangan melawan pendudukan Jerman Hitler atas Belanda.

Harus dikemukakan bahwa gerakan Komunis Internasional melaksanakan strategi, front bersama Komunis, TEngah, Kiri dan Kanan menghadapi menghadapi musuh bersama dunia yang lebih berbahaya dan lebih besar: FASISME JERMAN, JEPANG DAN ITALI. Maka ada kerjasama golongan Komunis, Kiri, Tengah dan Kanan di mancanegara, bahkan dengan pemerintahan burjuasi dan kolonial untuk bersama-sama menghadapi bahaya yang lebih besar :
FASISME.

Jammes Remase 7 Mei 2012 - 9:06am

Namanya saja asalnya dari Jawa tapi bukan Indonesia toch. Ini kalaian mau tipu siapa dizaman kebenaran dan modern ini? Sekarang sudah bilang lagi bahwa orang Indonesia berwarga belanda. Kapan Belanda jajah Indonesia? Kapan? Jangan suka tipu dan mutar kiri dan kanan, itu tidak baik. Kakaku yang lahir tahun 35, dalam surat lahirnya dibilang Hindia Belanda. Oke?

james bonn 8 Mei 2012 - 10:13pm

sejak kapan maluku itu adalah RMS? jangan asal klaim orang maluku gak suka RMS, penghianat dan pengecut mereka itu gerombolan semerlap/penjahat pembunuh dan penganiaya saudara sendiri maka itu mereka bergerombol ketakutan kabur dari tanah nusantara karna ketakutan di hukum masyarakat,, itulah penghianat maka jangan heran generasi selajutnya turunkan sifat opa opanya, jauh ketingalan sama pendatang dari turki dan maroko yang jauh lebih maju dan berpendidikan generasi RMS itu levelnya surinam dan antilian,, benar apa benar?

Anonymous 9 Mei 2012 - 9:40pm

Ceritranya James bonn membuatku ke wc untuk berak. Dimatamu, Suharto yang president kalian, nyata nyata, adalah pembunuh lebih dari 5 juta manusia Indonesiamu alias Jawa, itu ditahun 1965 sampai 1988 di Jakarta. Kalaian tidak menghukumnya, malah membiarkan hidup dalam pesta pora sampai matai. Apakah itu Indonesia dengan rakyatnya yang mau membela Indonesianya? Itu namanya KUCING TAI atau tai kucing merasa coklat. Dasar manusia manusia penipu dan KKN tak punya malu, omongnya seperti KUCING TAI.

james bonn 10 Mei 2012 - 12:28am

@james ramesae komentar anda gak beda seperti tentara knil rms yang menghujat dan bembunuhi orang yang gak berdosa gak usah heran buah gak akan jatuh jauh dari pohonnya dasar mental anjing penjaga bisanya cuma menggong gong, giliran di plototin kabur terbirit birit itulah RMS pengecut mu itu,,,

Agustadi 12 Mei 2012 - 8:14pm

Suharto dengan sejumlah jenderal TNI sezamanya, adalah KNIL yang asalnya sekitar 75% dari Jawa. Akhirnya Rakyat di Rawagede yang menjadi korban berhadapan dengan Tentara KNIL BELANDA, setelah merdeka, Suharto malah jadi Jenderal dan president. Jadi kalian di Jawa itu mudah saja ditipu oleh Suharto dengan sejarah Jogjakartanya. Suharto ini KNIL asli Jawa dan jauh lebih banyak dari diluar Jawa. Suharto, Panggabean, Sudomo dan banyak sekali, semuanya adalah KNIL asal jawa lalu mau bilang siapa KNIL? Kakekamu sendiri adalah KNIL. Aku kenal kakakmu dulu di Surabaya.

Jammes Remase 5 Mei 2012 - 9:05am

Ceritra diatas ini, agak sedikit omongkosong. Tidak masuk akal sehat. Bagaimana mungkin, Pemerintah Kerajaan belanda menyekolahkan dan membayar harga mahal bagi mahasiswa Indonesia di Belanda pada tahun 1940an? Ini ceritra tidak masuk akal. Ini namanya ceritra bohong. Sukarno sendiri di Bandung berstatus Hindia Belanda, lalu bagaimana mahasiswa di Belanda disebut Indonesia, kalau Jawa itu benar tapi Indonesia itu tidak benar. Ini namanya ceritra penipuan dan kepalsuan nyata. Omongkosong dan bohong2.

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Ranesi Pamit di Indonesia
Dalam rangka acara perpisahan RNW Indonesia 14 Juni di Erasmus Huis,...
Lampu Lalulintas Terlalu Cepat bagi Lansia
Makin banyaknya jumlah kelompok lansia ada dampaknya bagi masyarakat...