Pengamat politik internasional Andi Yusran di Universitas Riau menjelaskan mengapa negara-negara asing, baik besar maupun kecil, cuek dengan protes pemerintah Indonesia.
RNW bertanya masalah ini menyusul berita tentang, perusahaan asal Thailand menolak klaim Indonesia mengenai ganti rugi atas pencemaran di lepas pantai Timor Barat.
Ini bukan kali pertama sebuah institusi atau negara asing menganggap sepi keberatan Indonesia: kasus rokok kretek Indonesia di AS, pembunuhan warga Indonesia di Singapura -juga di Thailand-, dan tak lupa soal ricuh perbatasan Indonesia-Malaysia.
"National power kita itu sangat rendah," ujar Andi Yusran. Ini kemudian diperparah dengan kepemimpinan presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang sangat akomodatif. "Kurang bernyali!"
Diplomat pelayan
Andi Yusran juga melihat kesalahan faktor penempatan diplomat. Contohnya, seorang mantan pejabat atau tokoh yang sebenarnya sudah masuk usia pensiun, dijadikan sebagai duta besar. Padahal fungsi para diplomat di luar negeri harusnya melakukan berbagai kajian tentang negara penugasan.
"Tapi kini malah jadi pelayan entertain. Tugas mereka hanya mengantar tamu-tamu ke tempat tertentu."
Sekalipun tak puas dengan cara diplomasi pemerintah Indonesia, dosen Universitas Riau ini, menolak kalau pola pendekatan diplomasi halus diubah. Semua sangat tergantung situasi dan negara penugasan. Ia menolak usulan agar Indonesia memakai strategi 'keras'.
"Banyak negara di dunia ini national power meningkat tapi kemampuan militer biasa-biasa saja."
Andi Yusran menutup wawancara dengan pertanyaan retorik.
"Apakah orang-orang Indonesia sekarang ini memiliki kebanggaan, ketika identitas nasionalisme itu diangkat."






















Karena para penyelenggara negara Republik Indonesia tidak berkwalitas, termasuk andi yusran.
andi yusran ini org bugis ya? jgn tinggal di riau deh, baiknya ada kembali ke kampung halaman dan bikin negara sendiri di makasar....
kalau buat negara sendiri bertentangan dgn uud 1945 bung
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.