Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Kamis 23 Mei  
Vicente Faria
Avatar Prita Riadhini
Map
Dili, Timor Leste
Dili, Timor Leste

Mendorong Anggota Clandestine Mendengar Ranesi

Diterbitkan : 25 Juni 2012 - 9:12am | Oleh Prita Riadhini (Foto: Ranesi)
Diarsip dalam:

Akhirnya, sesudah 65 tahun setia menemani pendengar dan pembaca, Radio Nederland Siaran Indonesia dengan berat hati mohon diri. Kali ini untuk waktu tak terbatas. Menandai berakhirnya era Ranesi, kami siapkan berbagai artikel khusus tentang Ranesi, mitra, dan tentu saja pendengar. Kali ini Vicente Faria, mantan aktivis kemerdekaan di Dili, Timor Leste.

Sebelum menjadi pencetus konstitusi, Vicente Faria adalah seorang pejuang kemerdekaan ketika Timor Leste masih berada di bawah Indonesia. Usianya 14 tahun kala itu, ketika ia diangkat menjadi kepala kampung gerilyawan.

Maklumlah, waktu itu, Vicente remaja tidak bersekolah, jadi pekerjaan apapun diterimanya termasuk berperang.

Ketika ditemui di Dili, Timor Leste, Vicente menceritakan pengalamannya. Dosen di Universitas Nasional tersebut mengenang, kendati baru berusia 14 tahun, ia sudah menerima komando dari salah satu pemimpin komite sentral, Nicolaou Lobato.

Bahkan ada anak yang lebih muda darinya yang sudah direkrut menjadi anggota perlawanan.

Kemerdekaan
Ia tidak menyesal saat ini. "Itu adalah kemerdekaan. Segala upaya harus dilakukan karena waktu itu kami tidak sekolah. Yang ada di benak kami cuma satu prinsip yaitu merdeka atau tidak. Untuk merdeka harus berjuang. Saat itu kami sadar ada invasi. Jadi saya tiga tahun ada di hutan. Setelah Nicolau Lobato tewas kami ditangkap oleh pasukan Indonesia, ditahan, disiksa bahkan ada yang dibunuh. Saya bersyukur masih hidup."

Vicente yang juga pencetus konstitusi Timor Leste mengatakan tertarik dengan Ranesi karena bahasanya sederhana, faktual dan obyektif. Jadi, tambahnya, saat perang kemerdekaan jika ada sesuatu yang diberitakan oleh radio BBC maka ia akan mencari konfirmasi tersebut ke Ranesi.

Saat itu Ranesi menjad insipriasi untuk perjuangan kemerdekaan.

Mengarahkan anggota clandestine
Informasi yang disebarkan melalui radio, langsung disebarkan ke anggota gerakan bawah tanah clandestine. Tidak itu saja, tutur Vicente, "kami juga mengarahkan mereka untuk membeli radio kecil yang mudah dibawa 12 band dan 7 band. Dari situ mereka harus mencoba mendengar Ranesi.

Respon siaran Ranesi di Timor Leste, tambahnya tinggi sekali karena rakyat Timor Leste waktu itu ingin merdeka. Jadi, mereka merasa puas, jika ada radio asing yang memberitakan kejadian di Timor Leste kepada dunia selain dengan Ranesi, rakyat belajar bahasa Indonesia.

"Ketika saya berada di Amsterdam dan Leiden saya kepingin sekali bertemu dengan kru Ranesi, tapi tidak sempat. Hanya kami bertemu dengan orang-orang Indonesia yang tinggal di Belanda dan tak bisa pulang terutama RMS. Mereka waktu itu bertanya mengapa Timor Leste yang belakangan dari RMS sudah bisa menggelar referendum."

Bakal diberitakan
Vicente mendengar Ranesi secara intensif setelah tahun 1980an. Saat itu di Timor Leste merupakan era yang penuh dengan ketidakpastian. Setelah dibebaskan ia sampai di kota Dili. Di mana-mana terlihat militer, penyiksaan dan anggota intel. Tapi waktu itu, tambahnya, rakyat Timor Leste tetap berharap kondisi itu bakal diberitakan oleh radio asing salah satunya adalah Ranesi.

"Radio Nederland, tetap menyisakan ruang untuk berita-berita dari Timor Leste kendati setelah merdeka."

Kontrol sosial
Vicente juga setengah tidak percaya ketika diberitahu Ranesi bakal menghentikan siaran bahasa Indonesia. Ia berharap hal itu tidak bakal terjadi. Karena sebelumnya, ketika Timor Leste belum merdeka, ia sempat juga mendengar kabar tersebut.

"Kami tidak setuju Radio Nederland ditutup, walau tak ada hubungan langsung tapi kami punya ikatan emosional, Berita pelanggaran HAM di Indonesia dan Timor Leste ada di Radio Nederland.

Ia mengatakan seharusnya ada jajak pendapat sebelum ditutup. Sebagai media, tambahnya peran Ranesi itu penting, Karena Ranesi independen dan objektif. Dan hal itu dibutuhkan untuk mengisi kemerdekaan.

"Mengisi itu lebih berat dibanding merdeka. Buat apa merdeka, tapi rakyat tidak sejahtera. Ada isu-isu baru yang harus disiarkan radio asing. Misalnya soal korupsi, tak adanya demokrasi. Media yang sudah dikenal seperti Ranesi, sebenarnya dibutuhkan untuk kontrol sosial."

  • © Foto: Ranesi - http://www.rnw.nl

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Ranesi Pamit di Indonesia
Dalam rangka acara perpisahan RNW Indonesia 14 Juni di Erasmus Huis,...
Lampu Lalulintas Terlalu Cepat bagi Lansia
Makin banyaknya jumlah kelompok lansia ada dampaknya bagi masyarakat...