Apa yang anda lakukan jika tidak ada yang mengindahkan anda setelah sembilan tahun memperjuangkan larangan perdagangan bebas di sektor pertanian? Seorang Belanda bernama Guus Geurts akhirnya merasa muak dan melancarkan aksi mogok makan yang telah berlangsung selama 44 hari. 'Ini adalah jalan terakhir yang bisa anda lakukan sebagai aktivis perdamaian,' tukas Geurts.
Di bawah pengawasan seorang dokter, Geurts yang berusia 46 tahun memulai aksinya. Ia melakukannya karena tidak digubris oleh kalangan politik dan demi solidaritasnya terhadap para korban pelanggaran HAM akibat kebijakan yang dikeluarkan di Eropa. Berat badannya pun turun 17 kilo. Ia masih kuat bertahan berkat asupan garam-garaman khusus.
Aksi mogok makan ini merupakan bentuk penolakan atas kebijakan sektor pertanian.
"Barat telah mempererat cengkeramannya di negara-negara berkembang dengan impor kedelai, minyak sawit dan kini dengan impor bahan bakar biologis. Di samping itu, Eropa terus menghasilkan produk olahan susu serta daging babi dan ayam yang 'dibuang' ke negara-negara berkembang. Hal ini benar-benar menciptakan permasalahan besar bagi petani dan penduduk asli di negara-negara tersebut," papar Geurts.
Daging ayam
Karena itu, menurut Geurts, para petani kecil di negara-negara berkembang menghadapi dilema. Di satu sisi, mereka dipaksa mengekspor sebagian hasil panen mereka oleh Bank Dunia dan perjanjian internasional. Sedangkan di sisi lain, ada petani kecil yang tidak bisa menjual produknya di negara sendiri akibat luapan produk luar negeri seperti daging ayam dari Eropa. Seorang peternak ayam di Afrika contohnya, melihat kesempatan di pasar lokal berkurang akibat arus produk luar negeri. Perdagangan bebas bisa menjadi penyebab situasi sulit di negara-negara berkembang, tukas Geurts.
Geurts telah mencoba bermacam cara demi menarik perhatian dunia politik. Ia ikut serta dalam berbagai demonstrasi dan debat. Di samping itu, ia juga mengadakan kerja sama dengan organisasi-organisasi petani dan menulis buku. Berbagai macam aksi amal rupanya belum cukup. Aksi mogok makan menjadi satu-satunya pilihan untuk menyuarakan pendapatnya ke hadapan publik.
Pesan yang disampaikan Geurts sangat jelas. Menurutnya, perdagangan bebas harus diawasi dan pajak harus diberlakukan kembali. "Kalau anda mau memberikan kesempatan kepada pasar lokal, maka pajak harus diberlakukan supaya harga produk dari luar Afrika menjadi lebih mahal. Dengan begitu, anda bisa mengatur supaya para petani dapat memenuhi permintaan pasar lokal."
Korban
Kini sehari-harinya Geurts hanya minum secangkir kaldu dan sebutir vitamin. Namun ia tidak sendirian. Olivier de Schutter, analis pangan PBB, juga menuntut sebuah sistem pangan yang tidak mengorbankan petani kecil. Namun hal ini tidaklah mudah. Itu terbukti sewaktu pertemuan WTO, organisasi perdagangan internasional, di Jenewa.
WTO justru merangsang perjanjian internasional perdangangan bebas. Hal ini sungguh mencemaskan Schutter. "Satu dari tujuh orang di dunia mengalami kelaparan, dua milyar orang kekurangan asupan gizi dan rentan terhadap penyakit. Ini sungguh memalukan dan harus segera diakhiri,' sambung Schutter.
Bukankah ada banyak kepentingan dalam menerapkan kebijakan baru untuk perdagangan internasional? Geurts menjelaskan, "kepentingan perusahaan ekspor-impor tentu saja sangat besar sampai-sampai mereka melakukan lobi politik demi sistem semacam ini. Saya menuntut supaya negara-negara berkembang kembali mendapat kesempatan untuk membenahi produksi pangan mereka terlebih dahulu. Kalau mereka sudah mendapat kesempatan, baru mereka bisa ekspor."
Aksi yang salah kaprah
Robert Inklaar, kepala dosen ekonomi Rijksuniversiteit Groningen, menyatakan bahwa perdagangan bebas baik bagi suatu negara. 'Melalui perdagangan bebas, suatu negara dapat menentukan spesialisasi mereka. Belakangan ini Cina dan India justru semakin maju berkat fokus mereka kepada pasar internasional.
Inklaar menambahkan, urusan pangan memang sedikit lebih rumit. Perdagangan bebas memang disarankan, namun campur tangan pemerintah juga diharapkan. Tidak ada solusi yang sederhana. Hal yang sama diutarakan oleh Keith Rockwell dari WTO. "Negara-negara berkembang membutuhkan perdagangan bebas, tapi kami juga tidak punya solusi yang tepat untuk mengurangi kemiskinan." Hal tersebut menjadi alasan kenapa Deklarasi Doha mengenai perdagangan bebas di sektor pertanian belum selesai juga setelah 10 tahun.
Inklaar menganggap aksi mogok makan Geurts salah kaprah. "Semua orang tentu ingin menekan angka kemiskinan. Namun hal tersebut tidak dapat dilakukan dengan aksi-aksi semacam ini."
Barangkali Geurts akan menghentikan aksi mogok makannya bersamaan dengan pertemuan para pejabat WTO. "Menurut dokter saya harus segera menghentikan aksi ini. Tekanan darah saya terlalu rendah dan mendekati garis kritis." Geurts juga tidak ingin hidupnya berakhir konyol. "Saya mendapat surat-surat dari banyak orang yang simpatik. Mereka mengatakan membutuhkan saya dalam perjuangan ini."





















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.