Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Kiri: Verpalen, Kanan: Atema
Avatar Laurens Boven
Map
Berlin, Jerman
Berlin, Jerman

Mendadak Jadi Orang Asing di Berlin

Diterbitkan : 5 November 2009 - 5:11pm | Oleh Laurens Boven
Diarsip dalam:

Jerman merayakan 20 tahun lalu runtuhnya Tembok Berlin. Pada 9 November 1989 puluhan ribu massa Berlin Timur menerjang perbatasan yang membelah kota itu selama 28 tahun.

 

Dua penduduk Berlin asal Belanda mengingat kembali pemisahan Jerman dan segala perkembangannya. Jan Atema tinggal di Berlin Timur sejak 1976 dan bekerja di kamar dagang Belanda di Jerman Timur DDR. Herman Verpalen adalah seniman yang tinggal di Berlin Barat sejak 1986.

Friedrichstrasse
Lalu-lintas ramai di Friedrichstrasse jantung kota Berlin. Tidak jauh dari gerbang perbatasan lama Checkpoint Charlie terletak gedung Haus Friedrichstadt. Jan Atema mengendus pada pintu kaca. "Dulu ini sangat kusam, masih sama dengan sekarang. Tapi sudah sering dibersihkan. Barang-barangnya  dibersihkan. Banyak marmer kembali lagi ditata gaya Jugendstil."

Di lantai atas gedung ini digunakan sebagai kantor Kamar Dagang Belanda tahun 1990 di Jerman Timur. "Sebuah bisnis yang bagus. Banyak mesin pertanian dan bahan kimia separoh jadi. Berbeda dengan produk massal seperti kiju, tomat, bunga yang dikirim ke Jerman Barat."

Atema sudah keliling Jerman Timur. Dari pusat industri di Dresden dan Leipzig sampai dengan galangan kapal di Rostock. Dia belajar mengenal dari dekat situasi ekonomi. Beberapa tahun sebelumnya, ia pun sudah menduga akhir era DDR.


"Sebagai orang asing saya menganalisa lebih baik dibandingkan orang-orang biasa di negeri ini. Saya pernah bilang kepada kawan-kawan yang punya rencana untuk kabur: 'tunggu sebentar' dan 'lebih baik tunggu dulu sebentar, jangan buang tenaga!' "

Selain itu Atema juga menyaksikan perubahan pada masyarakat sudah sejak tahun 1985: "Masyarakat berbicara lebih terbuka soal DDR dan sudah tidak peduli dengan pemerintah."

Sombong
Oktober 1989, sebulan sebelum revolusi, DDR merayakan ulang tahun ke 40. Seakan tidak ada apa-apa. "Bentuk kesombongan, padahal kelihatan sekali: ada kejanggalan di sini". Tidak lama kemudian pemimpin DDR Erich Honecker dilengserkan dan proses berjalan sangat cepat. Bermula dengan demo-demo di Leipzig dan kemudian disusul di Berlin.

9 November, hari runtuhnya Tembok Berlin, Atema sedang di rumah: "Kejadiannya baru jam 11 malam, udara sangat dingin. Saya menyaksikan dari rumah saja." Dua puluh tahun kemudian, Atema tidak terlalu positif tentang kondisi di bekas DDR. "Ekonomi masih belum mapan, padahal perubahan sudah terjadi sejak 20 tahun lalu." 

Sekolah Belanda
Hanya beberapa kilometer dari sana Herman Verpalen mengajar Bahasa Belanda di sekolah dasar Berlin Barat. Verpalen mengelola kursus Bahasa Belanda di Berlin. 44 murid SD asal Belanda mendapatkan kursus tambahan bahasa. Kisah hidup Verpalen menggambarkan betapa dalam jurang pemisah antara
Timur dan Barat.

Selain guru bahasa Belanda, Verpalen juga aktif sebagai seniman. Ia datang ke Berlin Barat 1986 karena terpikat dengan suasana alternatif dan artistik: "Saya ke sini karena, berbeda  daripada lain."
Ia dan kawan-kawannya tidak punya kaitan dengan Belin Timur. "Kita ke Berlin Timur kalau tamasya, jangan sampai kena masalah di sana." Peningkatan rasa tidakpuas di Jerman bagian timur tidak menyentuh Verpalen dan kawan-kawannya. "Tembok runtuh karena keinginan orang dari seberang Timur. Bukan keingin dari Barat."

Orang Asing
Verpalen masih ingat betul tanggal 9 November malam. Ia pergi ke pesta rakyat yang muncul dadakan di Kurfurstendam. Orang Berlin Timur yang menyeberang ke barat, berkumpul di tempat itu: "Saya merasa seperti orang asing. Maksudnya, saya sebagai orang Belanda dan tinggal di kota multi nasional Berlin Barat. Saya tidak faham apa yang mereka rayakan di sana. Mendadak saya merasa seperti hidup di Jerman, dan bukan lagi di Berlin Barat yang berkarakter internasional."

Dua Jerman menyatu kembali, 11 bulan setelah Tembok runtuh. Dua puluh tahun kemudian pemisahan antara dua bagian kota itu masih terasa kental. Kalau mengingat kembali ke masa itu Verpalen, terutama terkejut dengan kecepatan pembangunan di tahun 1989 dan 1990: "Dalam waktu singkat Tembok hilang. Dan dalam hitungan bulan saja, jalan-jalan sudah diaspal. Sangat menakjubkan."

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET