Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Avatar Ellen van de Bovenkamp
Map
Casablanca, Maroko
Casablanca, Maroko

Membuka Sekolah Belanda di Maroko

Diterbitkan : 11 April 2011 - 2:05pm | Oleh Ellen van de Bovenkamp (Ranesi)
Diarsip dalam:

Di Maroko, anak-anak Belanda sering tidak punya semangat lagi untuk mengikuti les tambahan karena hari-hari sekolah sudah begitu panjang. Itulah alasannya kenapa tidak dibuka sekolah khusus untuk anak-anak Belanda.

Walau begitu, sekolah Belanda ini mungkin akan dibuka September mendatang karena upaya ibu-ibu Belanda-Maroko. Apalagi karena minat masuk sekolah Belanda ternyata besar.

"Pada pelbagai sekolah atau tempat kursus bahasa Belanda di seluruh dunia, anak-anak bisa memperoleh pelajaran bahasa Belanda di luar jam sekolah. Di Turki ada empat sekolah seperti itu, di Mesir satu. Bagaimana mungkin sekolah seperti ini sampai tidak ada di Maroko? Bukankah banyak orang Belanda keturunan Maroko?"

Tidak ada waktu
Ketika, satu setengah tahun silam, Farah Azmani pindah dari Almere di Belanda tengah ke Casablanca di Maroko, itulah yang sangat mengejutkannya. Di tempat tinggal baru itu dia bisa memilih pendidikan berbahasa Arab, Prancis, Spanyol atau bahasa Inggris bagi Rayyan, putranya yang berusia tiga setengah tahun. Tapi tidak ada sekolah yang menawarkan bahasa serta budaya Belanda. Padahal, sekitar 3000 orang berwarga negara Belanda menetap di Maroko. Di rumah, Farah memang sudah bicara bahasa Belanda dengan anaknya, tapi itu masih dirasanya kurang. "Apa saja yang bisa memperbaiki kemampuan anak saya berbahasa Belanda akan saya terima."

Farah Azmani adalah seorang guru SD. Ia menghubungi Yayasan Nederlands Oderwijs in het Buiteland, NOB, yang mengurus pelbagai sekolah dalam bahasa Belanda di luar negeri. Dia diberitahu bahwa beberapa tahun sebelumnya sudah ada gagasan mendirikan sekolah Belanda di Maroko. "Rencana ini gagal karena jam pelajaran sekolah-sekolah Maroko begitu lama dan sampai di rumah anak-anak masih disibukkan dengan PR. Tidak ada waktu lagi untuk ikut pelajaran tambahan Bahasa Belanda."

Di Kedutaan Besar Belanda, Farah Azmani bertemu Jan Hoogland, atase pendidikan. Bersama-sama mereka menyelengarakan angket untuk mengetahui minat para orang tua. Dari situ terbukti bahwa memang panjangnya jam sekolah di Maroko merupakan hambatan utama. Sekolah biasanya baru selesai jam setengah lima sore.

Besarnya minat
Lebih dari itu, di kota besar seperti Casablanca, kemacetan lalu lintas juga menghambat mobilitas orang. Itulah alasannya mengapa gagal rencana mendirikan sekolah di Mahammedia, kota antara Rabat dan Casablanca. Tapi sekarang akan dibuka satu sekolah di Rabat dan satu lagi di Casablanca. Itu dimungkinkan karena besarnya minat. Jumlah minimun untuk bisa membuka sekolah Belanda adalah 10 murid. Sekarang sudah 40 murid mendaftar.

Marcel Kuiper punya empat anak usia sekolah, dia sangat senang dengan inisiatif Farah. Anak-anak Marcel fasih bahasa-bahasa Arab dan Prancis, tetapi tidak lancar berbahasa Belanda. Ia setuju dengan keluhan jam sekolah yang terlalu panjang. "Angket saya isi dengan pernyataan saya senang kalau ada sekolah Belanda yang mengadakan aktivitas bermain. Anak-anak sudah disibukkan dengan PR, dan setelah pelajaran yang begitu panjang, mereka tidak punya semangat belajar lagi pada hari itu. Oleh karena itu les tambahan bahasa Belanda harus dibuat menarik untuk anak-anak, sehingga mereka bersemangat menghadirinya."

Salah satu hambatannya adalah syarat sekolah Belanda, bahwa paling sedikit anak-anak harus memperoleh pelajaran tiga jam perminggu. Itu berarti terlalu banyak bagi anak-anak yang tiap harinya baru selesai sekolah jam setengah lima sore. Lama dicari jalan keluarnya. Mungkinkan dicari akhir pekan sebulan atau dua bulan sekali untuk mengikuti pelajaran bahasa Belanda? Akhirnya pelajaran tambahan bahasa Belanda itu dibagi dalam dua blok, masing-masing satu setengah jam.

Merogoh kocek
Masih harus ditunggu apakah upaya ini benar-benar berhasil. Sekarang sedang dibentuk pengurus sekolah. Setelah itu dicari tempat yang paling cocok, sehingga jelas berapa besar biaya yang dibutuhkan. Yayasan NOB yang mengurus pelbagai sekolah dalam bahasa Belanda di luar negeri akan memberi subsidi 389 euro bagi tiap murid. Tapi tampaknya itu masih kurang. Jadi harus dicari sponsor. "Orang tua pasti bersedia merogok kocek sendiri. Ini juga terbukti dalam angket. Sebagian besar orang tua tidak keberatan untuk membayar beberapa ratus euro per tahunnya."

Metoda belajar/mengajar masih harus dicari. Setelah terbentuk pengurus, bersama NOB akan ditentukan metoda mana yang akan digunakan. Kalau semuanya lancar, sekolah pertama bahasa Belanda di Maroko akan dibuka tanggal 1 September mendatang.

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET