Penyair Prancis Arthur Rimbaud (1854-1891) melawat ke Jawa pada tahun 1876 sebagai tentara bayaran Belanda. Inilah wujud pemberontakannya, tapi apakah itu juga termasuk menjadi kaki tangan tentara kolonial? Yang jelas, kehidupan Rimbaud selalu diwarnai dengan pemberontakan, termasuk hubungan sejenisnya dengan Paul Verlaine, penyair Prancis lain yang jauh lebih tua daripadanya.
Pada bagian pertama dulu kita telah berkenalan dengan Arthur Rimbaud, penyair revolusioner Prancis pada abad ke 19 yang ternyata sempat bertandang ke pulau Jawa. Berikut sebuah puisi Arthur Rimbaud, judulnya “Pesta Lapar.”
|
Laparku Anne, Anne, lari di atas keledaimu Hai lapar, balik kau! Makanlah batu leburan tangan si miskin Laparku sobekkan angin malam |
Pemberontakan puisi
Puisi tadi diterjemahkan oleh penyair Indonesia Sitor Situmorang. Berbeda dengan Sitor, Rimbaud menulis puisi karena harus bertindak. Demikian pendapat profesor Benedict Anderson dari Cornell University di Ithaca Amerika. Itu berarti dia tidak berpuisi untuk aktif dalam sastra.
Dari segi ini Ben melihat Rimbaud lebih cocok dengan Wiji Thukul. Penyair yang dihilangkan ini menulis pertama-tama untuk berbuat aktual.
Tapi Arthur Rimbaud tidak lama menulis puisi. belum lagi menginjak 21 tahun, dia sudah mengucapkan selamat tinggal pada dunia sastra. Profesor Okke Kusumasumatri Zaimar, guru besar sastra Prancis pada Universitas Indonesia di Depok melihat Rimbaud menggunakan puisi untuk melancarkan pemberontakan. Dan pemberontakkan itu berlanjut ketika dia berhenti menulis puisi.
Perlawatannya ke Jawa adalah pemberontakan berikutnya. Tapi belum lagi menjadi militer KNIL, Rimbaud sudah desersi. “Kembali kita lihat jiwa pemberontaknya,” kata Okke Zaimar. Gurubesar sastra Prancis ini lalu menunjuk bahwa sebenarnya jiwa pemberontakan Rimbaud juga terlihat pada kehidupannya.
Yang paling jelas adalah hubungannya dengan penyair Paul Verlaine yang 10 tahun lebih tua darinya. Di abad 19 itu mereka berdua sudah berani tampil sebagai pasangan, “Bayangkan abad 19 itu kan masih merupakan sesuatu yang tabu,” kata profesor Okke.
Karena itu Rimbaud juga menulis hal-hal yang tabu, termasuk, misalnya, sajak dubur.
Identitas modern
Profesor Benedict Anderson tidak setuju kalau disebut Paul Verlaine dan Arthur Rimbaud sebagai pasangan sejenis (pasangan gay) pertama Eropa. Di balik keterbukaan keduanya, menurut Anderson, “Zaman itu belum ada gay. Yang jelas Verlaine sangat cinta sama dia, sampai di mana dia cinta sama Verlaine itu masih nggak jelas.”
Gay itu adalah identitas modern dengan orientasi seksual sebagai sesuatu yang utama, lanjut Ben Anderson. Pada zaman itu identitas masih belum ada, yang perlu adalah tindakan. Dan memang sebagai pemberontak akhirnya Rimbaud juga meninggalkan Verlaine.
Ben menduga hubungan Rimbaud dengan pria yang lebih tua ini sebagai pemberontakan terhadap segala macam yang berbau kebudayaan borjuis di Eropa pada abad 19. “Semua kelakuannya itu anti borjuis,” tandas Ben Anderson.
Di sinilah menariknya karena ternyata terhadap Arthur Rimbaud sulit ditempelkan predikat tertentu, kecuali pemberontak itu. Walaupun menulis puisi dia menolak disebut sebagai penyair, walaupun punya hubungan dengan sesama pria dia tidak bisa disebut gay.
Jadi, bagaimana bisa memahami keputusan Rimbaud menjadi tentara bayaran yang dikirim ke Jawa.
Tidak punya uang
Ben Anderson melihat ada dua faktor. Pertama Rimbaud tidak punya uang, ayahnya sudah lama meninggal dan ibuya miskin. Maka dia harus cari jalan untuk hidup. Kedua, jiwa petulangan yang erat dengan jiwa pemberontaknya. Di sinilah dia menemukan jalan ketika ada tawaran KNIL ke Hindia Belanda.
Ada kemungkinan Rimbaud tidak pernah serius ingin menjadi serdadu, ia hanya ingin melawat keluar Eropa.
Graham Robb penulis biografi Arthur Rimbaud berpendapat hanya ada satu alasan mengapa penyair revolusioner Prancis ini berangkat ke Jawa. Itu adalah alasan sepele: ia tidak punya uang.
“Rimbaud memutuskan pergi ke Jawa karena ia lagi pengangguran,” demikian Graham Robb. Waktu itu Rimbaud memang sudah berhenti sebagai penyair dan hidup berpetualang. Jalan-jalan ke Brussel, ia melihat iklan yang mencari tentara bayaran.
Dicari pria muda pengangguran, tidak punya keluarga dan tidak punya uang, atau mereka yang ingin keliling dunia.
Begitu mendaftarkan diri pada tentara kolonial Belanda, seseorang akan menerima 300 gulden, dan harus ikut perang dalam tentara. Rimbaud memutuskan ingin ikut. Ia belum pernah ke bagian dunia lain. Ia gunakan karcis kereta api yang diterimanya untuk pergi ke Rotterdam dan ikut latihan dasar kemiliteran.
Menumpas pemberontakan rakyat
Tapi bagaimana mungkin Rimbaud yang dikenal revolusioner dan anti kemapanan ternyata bergabung dalam tentara kolonial? Menurut Graham Robb keputusan ini memang mengejutkan teman-teman Rimbaud. Tapi perlu diingat waktu itu, Rimbaud sudah tidak menulis lagi.
Ia juga sering meninggalkan rumah ibunya, walau pun kemudian kembali lagi.
Perlawatannya ke Jawa itu adalah perlawatan terbesarnya. Ini tampak luar biasa bagi para pengagumnya yang baru tahu ia pernah ke Jawa setelah Rimbaud meninggal dunia. Mereka melihat Rimbaud sebagai pahlawan budaya perlawanan, pemberontak yang anti kapitalis.
Kenyataan dia sempat membantu tentara kolonial menumpas pemberontakan rakyat terjajah sangat mengejutkan mereka.
Minggu depan, pada bagian terakhir, antara lain bisa diikuti pandangan orang Prancis waktu itu terhadap Jawa.














Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.