Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Selasa 21 Mei  
Avatar Yunita Rovroy
Map
Semarang, Indonesia
Semarang, Indonesia

Membantu Orang Lain Selalu Baik

Diterbitkan : 19 Agustus 2010 - 11:51am | Oleh yunita rovroy (Foto©Flickr, Picture Taker 2)
Diarsip dalam:

Sosoknya yang bule, dua perempuan ini jelas menarik perhatian penduduk lokal. Entah itu di pasar atau di toko. Memborong sedemikian banyak belanjaan, orang mulai bertanya-tanya. Apakah dua perempuan ini memiliki restoran?

Karena panggilan Tuhan, dua perempuan Belanda mendirikan panti asuhan, membantu anak-anak yatim piatu di Indonesia. Els de la Croix, 68 tahun, orang Belanda kelahiran Indonesia dan Kity Abbema, 56 tahun, Belanda tulen, tidak kehabisan semangat mengelola Yayasan Tunas Rajawali di Semarang, Jawa Tengah.

Anak yatim piatu, tanpa ayah atau ibu, terlantar, berasal dari keluarga sangat miskin, korban tsunami atau bencana alam lain. Semua disambut penuh kasih sayang. Anak-anak ini berasal dari seluruh penjuru Indonesia, misalnya Timor, Ambon, Nias, Sumatra, juga Semarang, cerita Els.

24 jam sehari
Anak-anak tinggal di panti asuhan, 24 jam sehari kecuali kalau ke sekolah. Makan, minum, tidur, seolah-olah mereka di rumah sendiri. Setiap pagi jam 6.15 Els dan Kitty mengantar anak-anak ke sekolah. Mustahil melakukan semua itu sendiri. Jadi dua perempuan Belanda ini memiliki staf untuk membantu.

Anak-anak makan nasi tiga kali per hari. Setiap hari staf Tunas Rajawali memasak 25 kilogram nasi untuk sekitar 64 anak-anak. Di Belanda, kami makan roti. Tapi di sini, kalau makan roti, anak-anak pasti lapar, kata Els sambil tertawa.

Tunas Rajawali seluruhnya bergantung dari sumbangan sukarela pendonor. Kadang-kadang masukannya banyak, namun ada juga masa-masa ketika sumbangan cuma sedikit. Dalam keadaan sulit seperti itu, tidak ada cara lain daripada berdoa kepada Yang Maha Kuasa.

Sumbangan
Panti asuhan di Semarang masih membutuhkan banyak sumbangan dana. Kami tidak mau memperkaya diri sendiri, melainkan membantu anak-anak, sehingga mendapat pendidikan dan masa depan yang baik.
Jika sudah tidak percaya lagi bahwa kami mampu memberi anak-anak ini pendidikan yang baik, maka bangsa ini tidak akan pernah bisa berubah, cerita Kitty Abbema sedih. Anak-anak ini berhak mendapatkan masa depan baik.

Itu hanya mungkin jika orang terus menyumbang. Apalagi melihat kondisi sangat buruk bangunan panti asuhan.

Lima tahun silam tembok pagar yang mengelilingi gedung panti asuhan rubuh. Sementara gedung pertama (peninggalan Belanda) di kompleks panti asuhan, tempat khusus untuk anak perempuan, sudah berusia lebih dari seratus tahun. Gedung kedua dan ketiga, tempat kantor, dibangun tanpa dipasang pondasi.

Lembab dan rapuh
Karena tidak ada pondasi, air hujan yang turun ke bawah, menyerap ke dinding sehingga lembab dan rapuh. Ini juga berdampak terhadap kesehatan anak-anak, terutama saluran pernapasan. Setiap tiga sampai empat bulan dinding bangunan harus dibersihkan dan dicat ulang sehingga lebih layak dihuni. Situasi makin parah, karena atap pun mulai rusak.

Satu-satunya jalan keluar, kata Els, membongkar dan meratakan bangunan dan membangun dari awal. Sayangnya, bangunan bukan milik Tunas Rajawali, melainkan disewa.

Kendati demikian, Els dan Kitty tetap semangat dan penuh harapan mengelola sebaik mungkin panti asuhan. Membantu orang lain selalu baik.

Dua perempuan ini berusaha membangun sebuah keluarga dan membesarkan anak-anak sehingga menjadi makhluk sosial. Dan semua upaya keras ini diterima positif oleh anak itu sendiri. Mereka haus belajar dan melanjutkan studi. Saat ini 20 anak melanjutkan studi ke universitas atau sekolah tinggi.

Ini luar biasa dan sebuah mukjizat, kata Kitty.

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Ranesi Pamit di Indonesia
Dalam rangka acara perpisahan RNW Indonesia 14 Juni di Erasmus Huis,...
Lampu Lalulintas Terlalu Cepat bagi Lansia
Makin banyaknya jumlah kelompok lansia ada dampaknya bagi masyarakat...