Pindah dan menetap di daerah yang sama sekali baru membuat hati berdebar-debar. Harapan dan kenyataan apa yang diterima nantinya dalam suasana baru? "Ternyata orang Belanda itu tidak berlebihan. Apapun sesuai dengan porsinya," demikian kesan Lilik Kristadi ketika tiga belas tahun lalu menginjakkan kakinya di negeri kincir angin ini.
Lilik mengatakan itu bukan tanpa alasan. Hal itu dialaminya ketika bertamu ke salah seorang kenalan orang Belanda bersama suaminya. Semua hidangan yang disediakan sesuai jumlah orangnya. “Pokoknya ngitungnya pas, lain dengan di Indonesia, sediakan saja yang lebih, liat gimana nanti.”
Kebalikannya yang dialami Femke den Haas. Perempuan Belanda ini baru saja melahirkan anak pertamanya. Ia sudah 14 tahun tinggal di Indonesia. Semula Femke belum mengenal “lebih jauh” Indonesia. Baru setelah tinggal lama di Indonesia, ada sisi negatif yang terungkap.
Ramah
Waktu baru pertama tinggal, Femke mengira orang Indonesia baik-baik dan ramah semua. Tapi lama kelamaan, ia menemukan tidak semua begitu. Ada banyak juga orang Indonesia yang ngomong di belakangnya lalu bercerita hal-hal negatif tentang dirinya.
“Lain dengan di Belanda, semua orang ngomong langsung. Makanya ketika saya balik beberapa waktu lalu untuk melahirkan saya merasa lega. Nikmatnya, di sini (Belanda--red) orang ngomong terus terang,” ujar Femke den Haas aktivis penyelamat binatang sekaligus pendiri Jakarta Animal Aid Network tersebut.
Kebalikan dengan Lilik yang bekerja sebagai asisten dokter gigi. Di awal-awal tinggal di Belanda, ia malah sempat terkejut ketika orang Belanda terang-terangan menyatakan ketidak sukaan mereka di hadapannya.
Wajar
Yang dialami Lilik maupun Femke itu wajar-wajar saja jika seseorang pindah ke daerah baru. Masalah gegar budaya itu menurut pengamat kawin campur dan komunikasi antar budaya, Leila Mona Ganim, terjadi karena bahasa dan budaya yang biasa dipakai ternyata tidak dialami lagi di daerah baru.
“Jika dilihat maka grafiknya itu seperti huruf U. Di awal, ketika sampai di daerah yang dituju, menemukan kesenangan-kesenangan. Semuanya serba baru, bahagia, melihat sesuatu yang beda dengan daerah asal. Lalu setelahnya merosot, ketika menemukan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan atau tidak mendukung apa yang pertama kali dialami,” tutur Leila, pengarang buku Beda Itu Berkah, yang mengulas masalah gegar budaya.
Kemudian, lanjut Leila, perasaan itu naik ke atas lagi berganti menjadi rasa nyaman. Karena sudah bisa menerima dan beradaptasi dengan tempat tinggal baru. Menurutnya kebanyakan orang mengalami grafik huruf U tersebut.
Tak bisa terima
“Tetapi ada pula yang tidak tahan, dan akibatnya mengalami stres, baik psikologis, emosional atau fisik, karena ketidaksiapan atau tidak cukup pengetahuan, pemahaman serta tidak membuka diri.”
Pengalaman Hasti Tarekat lain lagi. Sampai saat ini ia masih sulit untuk bersahabat dengan orang Belanda, meskipun sudah selama sepuluh tahun tinggal di negeri kincir angin ini.
“Pernah pula saya tidak tahu harus berbuat apa ketika dikirimi kartu kematian ayah teman saya. Saya tidak mengontak, dan akhirnya saya merasa tidak enak sendiri. Untung saja teman saya itu memahami perbedaan budaya yang saya alami.”
Menurut Hasti yang menjadi perwakilan Badan Pelestarian Pusaka Indonesia BPPI di Belanda, sampai sekarang pun, teman Indonesianya lebih banyak dibanding teman orang Belanda.
Sementara Leila Mona Ganiem melanjutkan, gegar budaya, besar atau kecil, akan dilalui. Mengetahui budaya daerah atau negara yang ditinggali bukan berarti langsung menghapus potensi gegar budaya. Itu sekurang-kurangnya bakal mengurangi dampak psikologisnya.
Pola pendidikan
Contohnya tambah Leila, seorang temannya menikah dengan duda satu anak, dari Australia. "'Bagaimana sang suami memperlakukan anaknya membuat sang istri syok. Anak gadisnya itu tinggal sendiri dan menafkahi dirinya sendiri karena sudah berusia 18 tahun. Sementara pacarnya ganti-ganti dan kerap menginap di apartemennya. Sang ayah hanya sekali mengingatkan untuk berhati-hati memilih teman," tutur Leila.
Masalah yang membuat gegar budaya dalam konteks tersebut, karena teman Leila itu melihat banyak ketidaksesuaian norma, dan pola yang dianggap salah di Indonesia.
Makanya sebelum pindah ke negara atau tempat baru akan lebih baik kalau mempelajari dan berkumpul bersama komunitas orang-orang wilayah yang akan kita tinggali terlebih dahulu untuk mengurangi dampak dari gegar budaya.






















Saya pernah beberapa bulan tinggal di Australia dan berteman dengan orang-orang beda budaya. Semuanya bisa diatasi dengan mudah karena kita akhirnya saling menghargai perbedaan budaya tersebut. Gegar budaya sempat terasakan, tapi sekali lagi, tergantung kita menerima atau tidak kebudayaan tersebut. JAdi asyik-asyik saja, saya betah kook dan bahkan tinggal di apartemen bersebelahan dengan orang India, Italia dan Prancis yang karakternya manusianya beda-beda.
Sebagai sesama yang tinggal di luar negeri, awalnya memang banyak problem. Tapi jika kita bisa cepat beradaptasi dengan keadaan, terutama budaya tentang kedisiplinan dll, semuanya menjadi lebih indah.
Untuk bisa adaptasi dan menikmati tinggal di LN, ingatlah pepatah saudara2 kita dari Sumbar, Dimana kita berada disitu langit dijunjung, oleh karena itu pahamilah budaya setempat, bahasanya, pergaulannya, makanannya, kebiasaan2nya, usahakan punya teman penduduk asli setempat, ikut bergabung kegiatan2 sosial, menawarkan diri membantu tetangga yg sdh tua ( kl mau lho )dll masih banyak lagi, pasti seneng deh tinggal di LN,begitu ya mbak Leila & mbak Prita.
saya belum pernah pindah domisili beda negara namun di Indonesia yang begitu majemuk saya sudah beberapa kali. sedangkan dengan orang luar Indonesia, saya sering bersentuhan dengan mereka yang datang dari berbagai bangsa. sejauh ini saya tidak pernah merasa gegar budaya. saya selalu membuka diri bahwa setiap daerah selalu kearifan. terhadap orang beda negara pun begitu. saya menempatkan diri bahwa orang baik dan orang jahat, atau orang ramah dan tidak ramah ada di setiap bangsa. jadi selalu tampil dengan jati diri saya dan selalu berusaha berbuat ramah/baik. memang selalu saya menemui kebiasaan-kebiasaan warga setempat atau orang asing yang terasa 'ganjil' itu unik dan asyiknya. itulah proses belajar dan mengetri bahkan kadang jadi 'kelucuan'. dalam ajaran Al Qur'an / Islam disebut bahwa memang Tuhan mencipta manusia dalam berbagai bangsa dan agar kita saling mengenal (untuk membangun hidup bersama). jadi gegar budaya? nggak ada di hidup saya.
Selamat atas artikelnya. Begitulah, kerap kita hidup berdampingan dengan orang yang berbudaya sangat beda (dekat secara fisik tapi jauh pola pikirnya). Disitulah muncul gegar budaya. Semua ini temporer. Adaptasi, berdamai dengan realitas, memungkinkan kita segera menguasai diri, bahkan menjadi pribadi yang lebih matang. Idealnya kita semua yang hidup di desa dunia ini senantiasa siap menjadi manusia antarbudaya...
Itulah sebuah konsekwensi atas sebuah pilihan ( tinggal di LN atau negara yg menjadi pilihan )
As long mau menerima kenyataan yg sebenarnya, hidup akan menjadi mudah dan tidak akan menjadi suatu masalah. Toch ?
Dan mau mempelajari semua itu dengan lapang dada dan besar hati .
Karena Shock Culture itu pasti terjadi di awal awal, dan menjadi nyaman pada kali lain dan seterusnya. Dengan syarat : mau menerima itu semua dan kembali pd sebuah : konsekwensi.
CMIIW ...
saya juga gegar budaya tapi santai aja tuh..
Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda agar kita saling mengenal. Beda negara beda budaya. Jadi kalau mau tinggal di negara lain, kita harus siap memahami budaya yang berbeda itu. Norma agama harus tetap dijunjung karena itu adalah budaya orang Indonesia.
Trima ksh artikelnya. Sy pribadi percaya mmg tdk mdh utk tggal di LN dg semua hal yg beda.apalagi hnya bs sdkit bhsa blanda.haduh.jadi,seandainya semua sesuai rencana saya hrs tggal dsana di msa depan,saya ingin plg gak bs bahasa belanda,dan siap mental.tdk gegabah,pengen disana krn bs tgl di Eropa/tggal bersama calon suami. :-)
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.