Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Senin 13 Februari RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Anak-anak di rumah yatim-piatu Village de l'Espérance
Avatar Greta Riemersma
Map
Fez, Maroko
Fez, Maroko

Maroko Menindak Keras Kelompok Penginjil

Diterbitkan : 11 Maret 2010 - 1:47pm | Oleh Greta Riemersma (Foto Greta Riemersma)
Diarsip dalam:

Di Aïn Leuh, berita ini menjadi bahan pembicaraan di mana-mana: pengusiran enambelas orang pekerja rumah yatim-piatu Village de l'Espérance. Mereka harus meninggalkan Maroko.

Di antaranya enam orang warga Belanda. Pemerintah Maroko menuduh mereka melakukan kegiatan penyebaran Injil.

Salah sendiri
"Semua orang di sini sepakat, itu akibat kesalahan mereka sendiri," kata Hassan Finani, penduduk Aïn Leuh, suatu desa di wilayah Pegunungan Atlas Maroko, dekat kota Fez.

Hassan Finani sebenarnya tidak tahu apa yang terjadi, tapi di berbagai kafe, ia mendengar tuduhan seperti ini: "Para pekerja tersebut memanfaatkan kemiskinan yang ada di desa ini untuk menyebarkan ajaran Kristen."

Para pekerja rumah yatim-piatu membantah tuduhan tersebut. Pada situs web Village de l'Espérance tertera, sudah sejak sepuluh tahun lalu pemerintah Maroko mengetahui bahwa para pekerja lembaga ini pemeluk agama Kristen. Namun, 33 orang anak yang mereka urus, semuanya duduk di sekolah Islam, jelas Direktur Herman Boonstra, pada rubrik aktualitas televisi Belanda, Netwerk.

Bacaan Kristen
Setahun ini makin banyak terjadi pengusiran warga Kristen asing: tujuh orang warga Spanyol, dan seorang warga Jerman, lalu dua orang warga Afrika, seorang warga Guatemala dan dua warga Swiss. Dan belum lama ini penangkapan seorang pria warga Prancis.

Pria ini, setiap hari Rabu datang ke Maroko sebagai supir bis. Di setiap setasiun pemberhentian ia sengaja meninggalkan bacaan dan dvd tentang agama Kristen.

Menurut pendeta Jean-Luc Blanc, dari gereja Protestan Prancis di Casablanca, belakangan ini, tekanan pada warga Kristen penyebar Injil di Maroko makin gencar. Ia sudah bertugas sembilan tahun di negeri ini, tapi belum pernah mengalami perlakuan seperti yang terjadi Ahad lalu: polisi menyerbu masuk ke dalam bangunan gereja Protestan di Marrakesh dan menangkap dua warga Afrika.

Pemerintah menuduh dua warga Afrika tersebut berhubungan dengan seorang warga Maroko, hingga orang ini pindah agama menjadi Kristen.

Penginjil
Sesudah proses pemeriksaan, dua warga Afrika tersebut segera dibebaskan kembali. Namun, Jean-Luc Blanc menganggap hal ini sangat mengherankan. "Coba bayangkan jika ada polisi di Eropa masuk menyerbu mesjid. Pasti hal ini jadi berita besar bagi semua media, dan berbagai lembaga hak azasi manusia akan langsung berdemonstrasi."

Jean-Luc Blanc menilai perkembangan seperti ini mengkhawatirkan. "Kami tidak melakukan Kristenisasi, tapi kami tidak bisa mencegah jika orang ingin masuk gereja kami."

Saat ini di Maroko tinggal sekitar 25.000 warga asing pemeluk agama Kristen. Dan dibandingan dengan keadaan di Suriah dan Irak, mereka bisa menikmati lebih banyak kebebasan. Mereka boleh merayakan hari besar mereka di dalam bangunan gereja sendiri.

Namun, mereka tidak boleh melakukan Kristenisasi. Tidak boleh mengajak Muslim pindah agama. Pelanggaran terhadap ketentuan ini mendapat ancaman maksimal, tiga tahun hukuman penjara. Hukuman ini tidak sering diberlakukan. Kini pemerintah lebih memilih melakukan pengusiran.

Gereja Mormon dan Baptis
Menurut pendeta Jean-Luc Blanc yang jadi masalah adalah pada umumnya warga Maroko tidak mengetahui adanya berbagai jenis aliran Kristen. Kelompok yang aktif melakukan kristenisasi biasanya adalah aliran fundamentalis dari Amerika Serikat, seperti misalnya dari kalangan Gereja Mormon dan Gereja Baptis.

"Di Maroko ini mereka agak menyembunyikan diri. Padahal, tidak ada yang perlu ditakuti," kata Jean-Luc Blanc. "Mereka hanya melakukan pengabaran Injil."

Pada tahun 2008 Departemen Agama Islam membunyikan tanda bahaya, kata majalah Maroko, MarocHebdo. Ketika itu, kegiatan agama Kristen di Maroko dianggap sudah keterlaluan. Lembaga Evangeli seperti Arab World Ministries, yang  berusaha menyebarkan pesan Kristus di dunia Arab, pada tahun 2008 menyatakan kegembiraan mereka, atas perkembangan di Maroko. Ketika itu, jumlah gereja rumah di Maroko meningkat hingga 52.

Bukan nama Kristen
Memang, begitulah cara warga Kristen Maroko melakukan kebaktian bersama, berkumpul di rumah tempat tinggal. Namun, tidak ada yang akan mengakui hal ini. Warga Maroko yang pindah agama menjadi Kristen, akan selalu diamat-amati. Polisi akan menganggu upacara penguburan mereka di lokasi pemakaman Kristen. Dan anak-anak mereka, tidak boleh menggunakan nama-nama Kristen.

Menurut para pekerja rumah yatim-piatu di Aïn Leuh, pengusiran mereka adalah dampak kebijakan Menteri Kehakiman baru. Namun, pengawasan khusus terhadap warga Kristen, sudah lama berlaku.

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Pecandu Narkoba Polandia Balik ke Negaranya
Orang Polandia di Belanda yang kecanduan alkohol dan narkoba, akan...
Amsterdam, Taman Ria bagi Wisatawan
Penduduk Amsterdam menghadapi pilihan berat. Warga yang tinggal di pusat...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET