Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Enter a description of the photo here
Avatar Willemien Groot
Map
Copenhagen, Denmark
Copenhagen, Denmark

Mana Lubang Kuncinya?

Diterbitkan : 15 Desember 2009 - 7:32pm | Oleh Willemien Groot
Diarsip dalam:

Selalu saja terjadi dalam KTT Iklim, cuma kita tidak tahu kapan: delegasi yang mengancam boikot. Alasan yang dipakai karena kecewa atau marah atas jalannya perundingan.

 

Dalam KTT di Bali Amerika Serikat yang mengancam walk out. Di Poznan Polandia, perwakilan dari negara-negara pulau di Samudra Pasifik. Senin lalu (14/12) di Kopenhagen, banyak utusan dari Afrika yang 'sudah jalan ke bandara.'

 

Memasuki minggu kedua KTT Iklim, orang biasanya mulai gampang naik pitam. Perundingan yang alot berlangsung sampai larut malam. Tidak ada waktu untuk memejamkan mata barang sekejap. Tidak ada utusan yang mau pulang dengan tangan kosong. Semua orang jadi tidak sabar.

 

Di Kopenhagen 193 negara harus mencapai kesepakatan tentang Perjanjian Iklim. Tidak ada yang boleh dikucilkan. Masa Protokol Kyoto sudah berlalu di mana waktu itu dunia yakin bisa membuat perjanjian tanpa Amerika Serikat. Sekarang semua pihak harus ikut serta.

 

Negara-negara berkembang harus ikut serta karena mereka menderita dampak terparah perubahan iklim; Amerika Serikat sebagai penghasil CO2 terbesar ikut serta; negara-negara pulau juga ambil bagian karena mereka terancam hilang; Cina dan India ikut serta sebagai raksasa ekonomi baru yang berpotensi menjadi polutor CO2 terbesar.

Setiap negara punya andil yang sama. Mereka harus mencapai kesepakatan. Walk out seperti yang dilakukan negara-negara Afrika bisa saja dipakai sebagai strategi. Tapi harus hemat. Itu sebenarnya sebuah seni.

Tindakan Amerika pada KTT Bali sama sekali tidak mengesankan. Delegasi Amerika dari awal sudah dibenci karena mereka selalu menolak semua usulan. Cara negara-negara pulau masih lebih bagus di Poznan kemarin. Semua orang berupaya membawa mereka balik ke konferensi. Mereka memakai strategi yang sangat lihai untuk mencari solusi terhadap permasalahan mereka. Ancaman mogok mereka bisa dipahami banyak orang.

 

Delegasi Afrika masih harus banyak belajar. Ini adalah kedua kalinya mereka mengancam walk out. Sebelumnya mereka sudah meninggalkan perundingan di Barcelona. Waktu itu dengan alasan yang sama, tidak puas dengan pembicaraan tentang masa depan Protokol Kyoto.

 

Sekarang semua pihak sudah berunding kembali. Afrika menyangkal pernah mengancam untuk walk out. Masih ada harapan untuk mencapai kesepakatan. Mereka hanya 'pergi' sebentar. Penjelasan itu sebenarnya sama sekali tidak dibutuhkan. Yvo de Boer, Sekretaris Eksekutif PBB untuk perundingan iklim, sebelumnya telah menyatakan perundingan akan berjalan lagi sesaat setelah negara-negara Afrika mengeluarkan ancaman mereka.

 

Walk out ternyata semakin tidak populer. Ancaman selanjutnya mungkin akan ditanggapi dengan jawaban sinis, 'silahkan!'

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET