Orang tidak menduga kampus universitas menjadi tempat terjadinya diskusi keras tentang krisis Euro serta saham. Tapi di Universitas Maastricht, calon bankir dan investor tampak sama cemasnya tentang masa depan Euro seperti pejabat tinggi di Brussel atau Berlin.
Para pemimpin Uni Eropa bertemu Kamis (17/06) untuk membicarakan bagaimana bisa meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap mata uang tunggal Uni Eropa yang sedang goyah itu. Tapi bagi para pedagang muda ini, terlambat sudah.
"Kami harus meninggalkan aset kami di Eropa dan menggunakan emas saja," ujar seorang mahasiswa, menunjuk pada situasi pasar sekarang. Mahasiswa lainnya mengangguk sependapat dengannya.
Robert Pohlhausen, mahasiswa jurusan ekonomi tahun pertama asal Jerman menambahkan:
"Emas adalah investasi bagus ketika nilai tukar mata uang sedang gejolak."
"Kami masing-masing berinvestasi dalam Euro. Kami sangat prihatin dengan apa yang terjadi dengannya," ujar Alexandra Kowalkowski, ketua Sigma Investments, klub investasi mahasiswa.
Alternatif
Klub ini menjadi alternatif tidak lazim dari kegiatan ekstra kurikuler yang lebih tradisional seperti sandiwara amatir atau sepak bola, tapi anggota-anggotanya - berusia antara 19 sampai 23 tahun - berbagi semangat untuk uang dan pasar saham.
Mereka masing-masing berinvestasi setidaknya 500 euro dalam usaha yang mereka pantau setiap hari.
"Hal pertama yang saya lakukan ketika saya bangun tidur adalah membuka Google Markets, mencheck portfolio kami serta Dow Jones serta pasar saham besar lainnya," kata Peter Thomas, mahasiswa tahun kedua serta bendaharawan klub.
"Ini adalah tempat pelatihan bagus untuk kami, karena mendorong kami memahami pasar dunia," kata Alexandra, menjelaskan bahwa para anggota klubnya semuanya mempersiapkan diri untuk menjalani karir sebagai pengelola bank dan perusahaan di seluruh dunia.
Mereka mengundang pemimpin bisnis untuk bertemu, dan Juli depan mereka semua akan terbang ke Singapura untuk tur dua minggu mengunjungi bank-bank Asia.
Bye-bye Eropa?
Betapa mencemaskan jika generasi investor ini mungkin tidak berada di sini cukup lama untuk membantu membangkitkan kembali Eropa setelah krisis.
"Saya jelas melihat masa depan saya di Asia. Karena di situlah dananya. Pusat dunia adalah di mana dana berada dan sekarang ini, kami, yakni Eropa, tidak memiliki dana itu. Orang menghabiskan dana atau berhutang," kata Robert.
Juga Alexandra ingin menjalani karir di luar negeri.
"Pertanyaan besar adalah apakah Eropa benar-benar dapat belajar dari krisis. Itu yang belum diketahui sekarang."
Disiplin fiskal
Kamis ini Presiden Prancis Nicholas Sarkozy dan Kanselir Jerman Angela Merkel akan memohon 'pengelolaan ekonomi' lebih besar di Uni Eropa dalam upaya memberlakukan disiplin fiskal yang lebih besar di Eropa, menjelang pinjaman dana 110 milyar euro untuk Yunani.
Di bawah rezim baru, negara-negara yang melanggar aturan defisit serta pertumbuhan ekonomi Uni Eropa bisa dikenakan denda, dan akan bisa kehilangan hak pilih mereka terhadap keputusan penting Uni Eropa.
Resikonya memang besar, mengingat bahwa pasar secara cermat memperhatikan tanda-tanda kelemahan sistematis pada Euro dan hubungan Uni Eropa makin renggang akibat krisis zona Euro.
Tapi mencapai konsensus tentang pembaruan akan sangat sulit di Belanda dan Britania Raya, negara yang menolak memberikan kewenangan lebih ke Brussel.
Perubahan
Bendaharawan klub, Peter Thomas percaya krisis ini bisa menghasilkan sesuatu yang baik. "Akan ada lebih banyak keterbukaan, dan lebih banyak kontrol atas transaksi keuangan," katanya.
"Saya pikir krisis adalah kesempatan untuk melakukan perubahan. Akan ada produk-produk keuangan baru dan pekerjaan baru. Orang-orang yang berhubungan dengan sistem lama mungkin kehilangan pekerjaan mereka. Jadi, saya melihat banyak kesempatan."
Para pemimpin Eropa berharap Oktober mendatang bisa dicapai kesepakatan tentang peraturan baru ini dalam upaya menghidupkan kembali Euro serta perekonomian Eropa secara keseluruhan. Jika gagal, orang-orang muda pembawa harapan, seperti mahasiswa di Maastricht ini, mungkin saja mencari untung di tempat lain.






















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.