Bukan hanya pembabatan hutan dan pencemaran pertambangan batubara yang merusak lingkungan Indonesia. Pertambangan timah peranannya juga besar di sini.
Menurut Erni Rifandriyah Arif, peneliti di Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), penyebabnya karena banyak pertambangan timah ilegal. Sebenarnya peraturannya ada tapi tidak berjalan, karena mafia-mafia tambang lebih berkuasa, tambahnya.
Namun mengenai pertambangan di Bangka, ilmuwan ini cukup optimistis. Di sana, tambahnya, dulu banyak sekali pertambangan ilegal, tapi sekarang sudah tertib. "Tadinya rusak parah, di mana-mana tambang ilegal banyak. Itu tidak terkendali. Dulu di sana terlihat banyak lobang. Tapi sekarang sudah teratur."
Yang mengatasi itu pihak swasta, katanya. "Dan sekarang sudah ada penghijauan kembali," tambahnya.
Namun demikian, ini tidak berarti peraturan dipatuhi. Karena, menurut ilimuwan ini, di Indonesia tidak ada penegakan hukum.
Mineral monasit
Di balik berita-berita di atas, ada juga kabar gembiranya. Erni positif mengenai menteri BUMN, Dahlan Iskan. Makanya ia mau mengontak menteri ini untuk berkonsultasi.
Selain itu, pakar atom ini mengatakan, sekarang ditemukan logam sangat berharga yaitu monasit. "Monasit itu adalah mineral yang mengandung radioaktif. Jadi karena saya dari BATAN, otomatis itu termasuk ranah riset saya," katanya bersemangat.
Namun semangat ini turun ketika ia kembali berbicara soal prilaku para pejabat dan para peneliti tertentu. Ia menceritakan banyak sekali mineral monasit yang hilang karena ulah orang-orang tertentu. Menurut Erni, mereka ini tidak memikirkan kepentingan negara.
Menggelapkan uang
Ditanya siapa yang ia maksudkan dengan mereka di sini, ia menjawab tidak tahu pasti. "Saya tidak tahu sih," katanya. Yang jelas di tiap-tiap perusahaan banyak sekali pribadi-pribadi yang menggelapkan uang, termasuk yang ada perusahaan-perusahaan negara, jelasnya.
BUMN-BUMN itu sudah menjadi sapi perah untuk kepentingan kekuasaan, katanya. Dan ini melibatkan semua lapisan dari pusat dan daerah. Selain itu, menurut dia, banyak juga periset yang juga korup atau setidaknya sudah tercemar namanya. "Dana penelitian dia terima tapi ia tidak bekerja," katanya kepada Radio Nederland.
Menyalahkan asing
Ini semua berdampak sangat buruk terhadap lingkungan hidup, simpulnya. Erni juga menganggap aneh orang Indonesia yang selalu menyalahkan orang asing yang makin banyak berpengaruh di Indonesia, terutama di bidang ekonomi. Padahal, tambahnya, yang membiarkan orang asing berpengaruh di Indonesia itu adalah orang Indonesia sendiri. "Kok selalu orang asing disalahkan," katanya.
Namun demikian ia tidak pesimistis. Ia tetap berjuang dan mengatakan kebenaran. Saya nggak takut sih, katanya ketika ditanya apakah ia tidak merasa khawatir. Ia tetap berani mengkritik dan berbicara, walaupun banyak sekali yang menentangnya.
"Saya sedang berenang di Samudera," katanya melukiskan perjuangannya.














Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.