Pekan lalu, pelatih sepakbola Louis van Gaal mempresentasikan 'karya hidupnya', dalam bentuk buku, terdiri dari dua jilid tebal. berjudul 'Biografi & Visi".
Dalam buku tersebut, pelatih klub Bayern München ini antara lain menceritakan hubungannya dengan Johan Cruijff dan Ronald Koeman. Johan Cruijff langsung menanggapi sengit. Ia menganggap Louis van Gaal mengidap Alzheimer.
"Ini peristiwa unik. Tidak sering terjadi, orang yang masih segar bugar menulis biografinya sendiri," kata Louis van Gaal membuka acara presentasi bukunya di Amsterdam Arena.
Itu benar. Biasanya, suatu biografi terbit pada akhir kehidupan sport yang penuh sukses. Saat untuk melihat balik, sambil merenungkan keberhasilan dan kegagalan seseorang. Tidak demikian halnya dengan Louis van Gaal, yang sebagai pelatih, berhasil memimpin Ajax, klub sepakbola Amsterdam yang membesarkan namanya. Louis van Gaal juga berhasil di FC Barcelona dan AZ.
Mengejek diri sendiri
Buku jilid pertama, biografi, selain menguraikan pandangan hidup, juga memuat kisah dan foto milik pribadi. Disertai humor, dan olokan pada diri sendiri, Louis van Gaal menceritakan berbagai anekdot. Ia menguraikan cintanya pada AZ dan Bayern Munchen. Pada laut. Dan pada istrinya, Truus. Secara terbuka, ia juga menceritakan uang, kekuasaan, sengketa, dan penderitaan.
Ia menulis tentang ayahnya yang mati muda, hubungannya dengan, antara lain Johan Cruijff, dan bekas sahabatnya, Ronald Koeman. Tentang perasaannya terhadap Ajax. Tentang buyarnya suatu impian, untuk bersama beberapa mantan pemain Ajax, mengantarkan tim Belanda menjadi juara dunia di Korea Selatan. Di bawah pimpinannya, kesebelasan Belanda malah tidak berhasil masuk babak final Kejuaraan Dunia Sepakbola 2002.
Tentang istri pertamanya, Fernanda, yang meninggal dalam usia muda. Sejak sang istri meninggal, Louis van Gaal tidak lagi percaya pada tuhan, dan memalingkan muka dari katholisisme. Sang istri meninggal di depan matanya, dengan penuh penderitaan. Semua itu, diceritakan dalam biografi yang benar-benar terbuka ini.
Visi sepakbola
Dalam jilid kedua, berdasarkan pengalaman sendiri, pelatih top ini membeberkan rahasia pelatihan sepakbola dan pandangannya tentang sepakbola unggulan. Sejauh ini, belum pernah seorang pelatih yang masih aktif, menguraikan hal-hal yang berada di belakang layar.
Bagi ratusan calon pelatih sepakbola, yang menjalani praktek kerja padanya, laksana seorang Messias, Louis van Gaal menuliskan visinya tentang sepakbola. Semua catatan tersebut terkumpul rapih, dan kelak, semua pelatih tersebut masih bisa mempraktekkannya.
Jamuan Natal bersama Johan Cruijff
Sebagaimana sudah diperkirakan, perhatian utama publik tidak tertuju pada visi sepakbolanya, tapi biografinya. Misalnya, saat Louis van Gaal, ketika itu sebagai asisten pelatih di Ajax, selama liburan Natal ikut kerja praktek di FC Barcelona. Menjelang Natal, ia tidak bisa memenuhi undangan makan Johan Cruijff, karena saudara perempuannya meninggal. Louis van Gaal menduga, Johan Cruijff marah padanya, karena ia tidak datang pada jamuan Natal tersebut.
Beberapa hari kemudian Johan Cruijff langsung menanggapi hal ini, dalam kolom mingguannya di harian De Telegraaf. Menurut Cruijff sama sekali tidak perselisihan. "Jika kita mendengar cerita seperti itu, kita jadi bertanya-tanya, apa orang tersebut waras atau bagaimana. Biasanya, saya tidak mau menanggapi hal-hal seperti ini. Tapi, kali ini sudak keterlaluan. Jika saya marah karena soal jamuan Natal, saya tidak beres."
Sengketa dengan Ronald Koeman
Dengan panjang lebar, Louis van Gaal juga menceritakan kepergiannya dari Ajax, pada tahun 2004, suatu hal yang sangat ia sesali. Ketika itu, ia berselisih pendapat dengan pelatih Ajax, Ronald Koeman, sahabatnya selama bertahun-tahun. Ujungnya, Ronald Koeman boleh tetap bersama Ajax sebagai pelatih, dan Louis van Gaal, sebagai direktur teknik, harus pergi.
"Sejak semula saya sadar, persahabatan kami akan menghadapi berbagai cobaan. Ketika itu, saya pikir, kami akan bisa menghadapinya," tulis Louis van Gaal. Sejak sengketa tersebut, ia tidak pernah berbicara lagi dengam bekas muridnya ini. "Saya tidak mau. Sebagai sahabat, ia tidak pantas melakukan hal itu." Louis van Gaal menekankan, buku ini bukan ajang balas dendam. "Jika ingin begitu, saya akan menulis lain. Lebih keras, dengan lebih banyak lagi rincian."























Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.