Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Minggu 19 Mei  
Map
Hilversum, Belanda
Hilversum, Belanda

Lingkungan yang Berantakan Memicu Diskriminasi

Diterbitkan : 13 April 2011 - 11:12am | Oleh Marco Hochgemuth (Foto©Flickr, rebcal)
Diarsip dalam:

Orang lebih cenderung melakukan diskriminasi dalam lingkungan yang berantakan. Demikian hasil percobaan dua ilmuwan Belanda, diterbitkan dalam majalah ilmiah Science.

Menurut psikolog Diederik Stapel (Universitas Tilburg) dan sosiolog Siegwart Lindenberg (Universitas Groningen), di lingkungan berantakan, orang merasa tidak yakin dan membutuhkan struktur. Mereka kemudian cepat berpegang kembali pada stereotip. Itu bisa memicu diskriminasi.

Metro bebas grafiti
Ide bahwa lingkungan mempengaruhi perilaku seseorang bukan suatu hal baru. Dengan teori ini, pemerintahan New York, tahun 1980an memutuskan menerapkan kebijakan yang tidak mentolerir grafiti dalam jaringan kereta api bawah tanah.

Berkat kebijakan itu, keamanan di kereta api bawah tanah dan stasiun meningkat. Begitu dugaannya.

Dua guru besar Belanda melakukan sejumlah percobaan dengan pertanyaan: berubahkah perilaku manusia, jika lingkungan di sekitar berantakan? Terutama percobaan pertama membawa hasil sangat menarik.

Di Stasiun Sentral Utrecht penumpang kereta api berkulit putih diminta mengisi daftar pertanyaan, di mana mereka harus membuat stereotip tentang orang muslim, homoseksual dan Belanda.

Percobaan pertama dilakukan ketika pegawai pembersih mogok kerja dan stasiun sangat berantakan. Percobaan kedua dilakukan ketika stasiun dalam keadaan rapih. Hasilnya: di stasiun kotor, para responden membuat stereotip lebih negatif ketimbang di stasiun rapih.

Menjaga jarak
Tapi percobaan juga punya dimensi menarik lain: untuk responden disediakan enam kursi di mana mereka bisa mengisi daftar pertanyaan. Satu kursi sudah ditempati, secara bergilir oleh seorang Belanda berkulit putih, dan warga Belanda berkulit hitam.

Di stasiun yang kotor, responden ternyata lebih menjaga jarak dengan orang berkulit hitam ketimbang orang kulit putih. Di stasiun bersih tidak terjadi hal demikian.

Sosiolog Lindenberg menyimpulkan bahwa orang lebih membutuhkan ketertiban dan struktur jika lingkungan di sekitar berantakan:

"Langkah terbaik tentunya membersihkan sendiri lingkungan. Tapi jika orang tidak melakukannya, dia membersihkan kekacauan itu di dalam benaknya sendiri. Orang kemudian mulai berpikir secara hitam-putih dan berpegang pada stereotip, kadang-kadang itu juga bisa menimbulkan diskriminasi."

Tapi itu bukan berarti bahwa orang yang tinggal di lingkungan tidak bersih, lebih banyak melakukan diskriminasi, demikian peneliti. Mereka yang secara terus-menerus hidup dalam lingkungan yang tidak teratur, mulai terbiasa dengan keadaan seperti itu.

Tapi bahwa akan lebih baik jika tetap menjaga kebersihan lingkungan, itu sudah jelas.

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Ranesi Pamit di Indonesia
Dalam rangka acara perpisahan RNW Indonesia 14 Juni di Erasmus Huis,...
Lampu Lalulintas Terlalu Cepat bagi Lansia
Makin banyaknya jumlah kelompok lansia ada dampaknya bagi masyarakat...