Setiap negara, setiap bangsa memiliki masa kelam, masa lampau yang ingin dilupakan, namun tak juga terlupakan. Masa gelap yang sedih dan pedih itu bisa terjadi akibat bencana alam, perang, perang saudara, masa pendudukan dan lain-lain.
Belanda mengalaminya semasa Perang Dunia Kedua ketika ribuan warganya diangkut Nazi ke kamp pemusnahan. Atau para warganya di Indonesia semasa perjuangan kemerdekaan ketika mereka dikurung Jepang di kamp interniran. Dan seterusnya. Indonesia pun memasuki masa kelam ketika konflik politik di pertengahan tahun 1960an akhirnya menghasilkan prahara.
Masa kelam seringkali menjadi kontroversi. Dia harus dikenal, tapi tak ingin dikenang. Semakin lama dia berlalu, semakin pelik menggelutinya. Hendak dilupakan, dia tetap mengganjal. Mereka yang kalah, atau pewaris kekalahan dan keluarga korban menuntut mengenali masa silam itu selengkapnya.
Trauma dan kontroversi inilah yang kini dihadapi Spanyol. Spanyol mengalami Perang Saudara yang menyakitkan di akhir tahun 1930an, tepatnya tahun 1936 hingga 1939. Namun baru puluhan tahun kemudian, masa kelam itu diunggah dan dibicarakan secara terbuka. Dan baru sekarang, kegelapan itu menjadi isu terbuka.
Televisi Spanyol baru-baru ini menayangkan sebuah dokumenter, berjudul Los Caminos de la Memoria, atau Lika Liku Jalan Menelusuri Kenangan. Berikut ini laporan Aboeprijadi Santoso.
Ogah/lelah baca? Dengarkan versi audionya dengan mengklik ujung tanda panah berikut:
Dirahasiakan dan tersembunyi
Pergulatan seputar masa silam itu baru bermula ketika dia - diktatur itu, Francisco Franco, tutup usia November 1975. Tiga dasawarsa kemudian, soal masa kelam itu, lambat, alot namun pasti, makin muncul ke permukaan. Tahun 2004 pemerintahan Perdanan Menteri José Luis Rodríguez Zapatero mengupayakan rekonsiliasi nasional: rujuk bangsa melalui Undang Undang Memori Kolektif. Sebagian kalangan ogah, dan menampiknya dengan alasan itu upaya hanya akan membuka luka lama.
Sementara itu, sebuah traktor menggusur sebuah kamp penjara besar: suatu simbol kekelaman, dan di tempat lain penggalian kuburan massal mulai digali. Penggalian kuburan massal yang lama dirahasiakan dan tersembunyi itu, terencana rapi, dan dilakukan secara profesional.
Di tempat lain, guru dan saksi mata masa kelam itu, berbicara di muka para murid sekolah menengah. Menghadapi generasi baru yang tak tahu menahu, namun ingin tahu mengenai zaman itu.
"Kami hanya bicara tentang itu baru-baru ini saja. Dan hanya dengar dari kakek atau nenek kami," kata seorang murid sekolah menengah. "Ya, kami pun ingin tahu," yang lain menyambung. "Ada juga yang tak ingin masa lalu dibuka dan membuka luka lama," ujar yang ketiga.
Dari diskusi di sekolah itu tampak bahwa perang saudara itu dulu dibicarakan dengan rasa takut. Dan sekarang, generasi kini ingin tahu. Mereka, para siswa itu ingin tahu, dan perlu tahu. Padahal pembicaraan di kelas itu hanya tentang sepotong kecil masa silam. Di Spanyol, kuburan kuburan massal itu tersembunyi terserak di seantero negeri.
Kuburan-kuburan itu dimana-mana. Ada 22 tulang belulang sisa sisa jazad orang, di Aranda del Duero, tiga di Lebreda, tujuh di Lerma, tujuh di Piedrafita de Babia tujuh di Cabanas de la Dornila, lima di San Pedro de Olleros, dan seterusnya. Seluruh Spanyol sebenarnya penuh kuburan massal. Dan kini sedikit demi sedikit, mulai digali.
Adegan berteriak
Seorang saksi: "Aku dengar suara menggerutu, mengeluh, suasana orang takut, ayahku anggota partai komunis, kecemburuan ekonomi membuat orang menyalahgunakan kekuasaan untuk memperkaya diri. Tak ada orang yang merasa aman, di zaman itu, mereka melihat fasisme mulai marak".
"Lihat lukisan masyhur karya Pablo Picasso, La Guernica, itu," tutur seorang sejarawan. Banteng, kuda dan manusia di situ, semuanya dalam adegan tengah berteriak, menggambarkan drama dalam tragedi perang saudara Spanyol." Akibat perang saudara tahun 1930an itu, situasinya dramatis, kacau balau kondisi itu akibat pemboman dan pengejaran itu pedih. Proyek Memori Kolektif tetap harus dilaksanakan, betapa pun sulit dan banyak tentangannya.
Memori sejarah kolektif itu memang merupakan memori menyakitkan, kenangan pedih tentang situasi penjara, kelaparan, penyelundupan pangan dan sebagainya. "Siapa yang bicara semuanya sudah terlupakan, itu keliru kita menyikapinya berbeda dengan cara mereka, para pemenang itu, menyikapinya."
Ada tujuh kategori mereka yang dianggap bersalah 1) pernah divonnis militer, 2) pernah memimpin partai 3) jadi anggota partai-partai terlarang, 4) anggota klab Freemasonry atau Vrijmetselaar dan kategori lain.
Ada 300.000 korban pengkhianatan, 60.000 korban eksekusi, 400.000an tahanan politik, 100.000 kerjapaksa, 3 juta warga menjadi tersangka-politik, dideportasi dan menjadi buangan. Sekitar 130.000 hilang.
Sampai tahun 1975, tahun kematian Franco, angka-angka statistik itu sangat dirahasiakan. Kini, sejak 2004, Parlemen berupaya berdamai dengan masa lalu dengan mengajukan RUU Memori Historis. Meski pun sulit dan alot, namun UU itu akhirnya disepakati ..
Tragedi Perang Saudara Spanyol, juga tragedi Eropa. Mereka yang tersisih akibat perang saudara dideportasi, atau lari ke Prancis, atau ikut gerakan bawah tanah di Eropa melawan Nazi. Tragedi serupa, dan dampaknya bagi bangsa puluhan tahun kemudian, juga terjadi Indonesia akibat Prahara tahun 1965-66.
Dalam bagian kedua pekan depan kita ikuti nasib seorang Ibu Spanyol yang lari ke Prancis. Dan apa yang dapat kita pelajari dari Spanyol, untuk Indonesia.























Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.