Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Senin 13 Februari RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Sambutan bagi Barack Obama di sebuah mall di Jakarta
Map
Jakarta, Indonesia
Jakarta, Indonesia

Kunjungan Obama Ditunda, PR Baru Bagi Indonesia

Diterbitkan : 19 Maret 2010 - 2:23pm | Oleh Aboeprijadi Santoso (Foto Flickr - CC - Budi Putra)
Diarsip dalam:

Pembatalan kunjungan Presiden AS Barack Obama yang sedianya akan digelar pekan depan disambut dengan perasaan bercampur.

Di kalangan publik, ada anti-klimaks, suatu kekecewaan yang timbul setelah berbagai persiapan kegiatan dalam 'demam-Obama' yang berjangkit di Indonesia. Namun timbul harapan, bila datang Juni mendatang, Obama akan disertai Ibu Negara Michelle dan dua putrinya.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengaku sudah mengira kunjungan akan dilakukan bulan Juni. Yang terang, ada tantangan atau pekerjaan rumah baru untuk menyiapkan segala sesuatu, termasuk mengatasi kontroversi rencana latihan bersama Kopassus dengan tentara Amerika, persetujuan Kemitraan Komprehensif, dan persiapan arsitektur baru kawasan Asia Tenggara.

Barry Soetoro
Obamania, atau demam-Obama, sudah terlanjur meluas terutama di kalangan masyarakat luas, mulai dari persiapan para siswa-siswi di tempat Barry Soetoro pernah bersekolah, SD Asisi dan SD Jalan Besuki, sampai buku-buku, bahkan film khusus tentang Obama, seminar tentang Amerika-Indonesia, pertemuan Obama dengan masyarakat di Kemayoran, sampai persiapan sekuriti yang rumit di Jakarta dan Bali.

Partai oposisi Gerindra memanfaatkan pembatalan kunjungan Obama untuk mengkritik bahwa diplomasi pemerintahan SBY gagal dan menganggap Obama tidak serius.

Di Jakarta, pro-kontra dan kritik terhadap kebijakan Amerika Serikat dan Presiden Obama memang menghangat. Hizbut Tahrir mengaku tidak sendirian ketika menyerukan bahwa "Dulmatin cuma teroris-kelontongan (retail terorist), mengapa ditembak mati, sedangkan Obama yang menjadi 'teroris borongan' di Afghanistan, malahan disambut-sanjung."

NU Diam
Suara seperti ini hanya memekik di jalanan, sementara sebagian besar opini publik tidaklah serta merta apriori seperti itu. Nadhatul Ulama, ormas Muslim terbesar, misalnya, memilih diam dan sibuk menyiapkan pemilihan Rois Aam yang baru.

Muhammadiyah, ormas kedua, bersikap adem-ayem, sedangkan ICMI, melalui sekjennya, Azyumardi Azra berharap Obama dapat menjelaskan seberapa jauh perubahan sikap dan kebijakannya telah terjadi, sejak pidatonya yang segar dan sarat empati terhadap dunia Islam di Kairo beberapa bulan lalu.

Sementara kalangan pegiat HAM sudah siap menyerbu Obama dengan imbauan akan perhatian Obama pada kasus Munir, kasus belasan orang hilang, situasi di Papua, dan impunitas terhadap sejumlah perwira TNI.

Jurang Harapan
Semua ini merupakan jurang yang menganga antara harapan, kritik dan persepsi masyarakat di satu pihak, dan harapan pemerintah Indonesia di lain pihak, bahwa Indonesia akan mendapat tempat dan perhatian khusus dalam agenda pemerintahan Obama.

Jurubicara Kemlu Teuku Faizasyah berharap gap atau jurang tadi dapat dijembatani dengan Persetujuan Kemitraan Menyeluruh atau Comprehensive Partnership yang sedianya akan ditandatangani AS dan Indonesia pekan depan.

Dengan demikian, ini menjadi PR penting diplomasi Indonesia ke depan. Juga rencana kerjasama militer, atau mil to mil, yang tengah disiapkan Kementerian Pertahanan dengan mengirim tim khusus ke Washington belumlah tuntas, meski pun Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso sudah berharap bahwa tahun depan tentara Amerika dan tentara Indonesia, khususnya, Kopassus, akan dapat menggelar latihan bersama.

Latihan dengan tentara adidaya ini tidak hanya akan bergengsi, tapi juga penting karena diharapkan menjadi simbol pulihnya hubungan kedua militer. Namun sejauh ini tak ada pratanda signifikan dari Washington bahwa akan ada perubahan terhadap Amandemen Leahy yang merintangi kerjasama tersebut sepanjang tahun 90an, sejak ulah brutal tentara Indonesia di Timor Timur."

Pamor Cina
Betapa pun, tantangan, PR dan ujian kini menanti rencana kunjungan Obama Juni mendatang. Juga bagi Amerika Serikat. Selain itu, Amerika mau pun Indonesia pun harus menanggapi situasi baru Asia dengan naiknya adidaya regional baru, terutama Cina dan India. Indonesia berkepentingan mengajak Amerika mengalihkan perhatian serta terjun ke panggung Asia Tenggara yang dapat terancam hegemon hegemon Asia baru.

Klik tanda panah di bawah ini untuk mengikuti laporan Aboeprijadi Santoso dari Jakarta selengkapnya:

 

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Pecandu Narkoba Polandia Balik ke Negaranya
Orang Polandia di Belanda yang kecanduan alkohol dan narkoba, akan...
Amsterdam, Taman Ria bagi Wisatawan
Penduduk Amsterdam menghadapi pilihan berat. Warga yang tinggal di pusat...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET